• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Gigih Meski Sering Dicibir, Kini Jadi Pengusaha Pakaian Muslim 

by BontangPost
26 Februari 2017, 13:02
in Feature
Reading Time: 3 mins read
0
Diana Amalia Puspitasari (Muhammad Zulfikar/Bontang Post)

Diana Amalia Puspitasari (Muhammad Zulfikar/Bontang Post)

Share on FacebookShare on Twitter

 

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Diana Amalia Puspitasari (176)

Jalan Diana Amalia Puspitasari menjadi seorang pengusaha memang tak mudah. Beragam omongan tak sedap sering didapatkan dara kelahiran Bontang 5 September 1993 silam. Namun siapa sangka, kini dia menjadi salahsatu pengusaha pakaian muslim di Kota Taman.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang

SEJATINYA, Didiy –sapaan akrabnya—sama sekali tidak memikirkan untuk menjadi pengusaha. Sejak lulus dari bangku kuliah di Universitas Negeri Surabaya pada Oktober 2015, lulusan sarjana Akuntansi ini diminta kembali ke Bontang oleh orangtuanya, dengan harapan mendapatkan pekerjaan di Kota Taman. Kala itu, isu defisit belum terlalu santer terdengar di Bontang, sehingga Didiy pun mengikuti kata kedua orangtuanya.

Setibanya di Bontang, Didiy pun bergerak cepat. Puluhan berkas lamaran pekerjaan dikirimkan ke berbagai perusahaan. Namun sayang, dirinya masih ditolak dengan alasan belum membutuhkan karyawan baru. Wajar saja, kala itu Didiy melamar pekerjaan tidak dalam saat mereka membuka lowongan. “Begitu sudah ada isu defisit seperti ini, cari kerja semakin susah,” kata putri dari pasangan Hudiyono dan Siti Fatimah ini.

Lama tak mendapat pekerjaan membuat diri Didiy gelisah. Terlebih, dia yang biasa terlibat kegiatan kemahasiswaan semasa kuliah, ketika tak mendapatkan pekerjaan maupun aktivitas lain, Didiy merasa gundah. Apalagi, dengan gelarnya yang sudah sarjana, dia sering mendapat cibiran dari beberapa orang. “Supaya ada aktivitas, saya ikut kursus menjahit. Saya juga sampai mempromosikan diri ke orang-orang menawarkan les privat,” ungkap anak bungsu dari dua bersaudara ini.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Warga Bontang: Radhi Nugraha (248): Hafidz Muda yang Sukses Juarai Lomba Tahfidz Tingkat Nasional 

Meski sudah sempat mengajar kursus, namun sepinya lapangan pekerjaan di Kota Taman masih membuat Didiy gundah. Apalagi, kedua orangtuanya belum mengizinkan Didiy untuk mencari pekerjaan di luar Bontang ataupun melanjutkan studi S2. Dia pun memutuskan meminjam modal sebesar Rp 1 juta dari orangtuanya untuk mulai berbisnis aksesoris wanita. “Awal kali bisnis kadang sampai Kanaan, untungnya juga masih kecil. Pernah jualan dapat Rp 5 ribu, karena haus, jadinya dipakai buat beli es, he he,” kenang Didiy yang hobi membaca novel ini.

Merasa bisnisnya tak akan berjalan lancar, Didiy pun mencoba beralih ke usaha menjahit pakaian muslim. Hasil kursusnya selama tiga bulan pun coba diterapkan dengan menjahit pakaian-pakaian yang juga dapat dikenakannya sehari-hari, seperti jilbab, baju atasan, serta rok. Namun lagi-lagi, dirinya kembali mendapat cibiran dari beberapa orang. “Katanya, anak S1 kok jadi penjahit. Tapi saya cuek saja, karena saya ingin tak selalu bergantung pada orangtua terus,” tuturnya.

Keputusannya membuka usaha penjahit ini juga didorong salahsatu temannya yang ingin dibuatkan pakaian oleh Didiy. Namun saat pakaian tersebut selesai dijahit, Didiy justru kebingungan karena tak memberi patokan harga. “Saya bingung, karena tak biasanya memberi harga. Jadi akhirnya dibayar seadanya saja,” kata Didiy.

Baca Juga:  Ubah TPA Jadi Taman

Entah mengapa, sejak jahitan pertamanya dibeli dan dipromosikan oleh temannya di media sosial, perlahan-lahan pesanan lain mulai berdatangan kepada Didiy. Sejalan dengan itu, Didiy pun juga diterima di salahsatu lembaga kursus. Walhasil, dia pun mulai membagi waktu antara menjahit dan mengajar. “Kalau pagi menjahit, kalau malam ngajar di kursus,” ujar alumnus SMAN 1 Bontang ini.

Usaha menjahitnya kian hari makin laris. Bahkan, Didiy yang semula mengambil barang dari temannya di Madura, kini mulai menjahit sendiri pakaian-pakaian yang dibutuhkan pelanggannya. Dirinya pun mulai belajar mempromosikan barang dagangannya, bahkan melalui media sosial pun digunakannya sebagai media promosi. Rumahnya pun kini disulap menjadi butik agar Didiy bisa lebih berkreasi. “Baru dibuka akhir Desember 2016 kemarin,” katanya.

Kini, Didiy tak menyangka usaha menjahit yang diberi label Akifah Moslem Fashion mulai berkembang pesat. Tiap harinya, Didiy pun bisa menyelesaikan tiga jahitan dengan dibantu oleh ibunya. Rezekinya pun semakin moncer, kala Didiy juga diterima kerja disebuah perusahaan. “Karena pagi sampai sore kerja, selepas kerja langsung menyelesaikan jahitan. Kalau tidak segera dikerjakan, bisa tidak selesai,” ucap Didiy.

Baca Juga:  Dari Hobi dan Seni hingga Koleksi Motor Antik Seharga Rp 350 Juta 

Ada yang unik dalam memberikan harga kepada produk-produk yang dibuat Didiy. Dia mengaku, sebelum menerima pesanan dari pelanggan, terlebih dulu Didiy melihat profil dari pelanggannya seperti dari media sosial. Jika dirasa pelanggannya ekonominya menengah ke bawah, maka dia akan memberikan harga di bawah harga wajar. Namun jika ekonominya menengah ke atas, maka dia akan memberikan harga sewajarnya. “Jadi penghasilannya relatif, karena harganya juga saya tidak pasti, dilihat orangnya dulu kemampuan ekonominya,” tutur Didiy.

Didiy berharap, kelak usaha menjahitnya dapat semakin berkembang. Bahkan, Didiy berencana akan mengembangkannya menjadi usaha konveksi dengan melayani perusahaan maupun sekolah di Bontang. “Saya juga tak menyangka, ternyata pintu rezeki saya ada di menjahit. Mumpung masih muda, jangan takut untuk berwirausaha. Apalagi di tengah kondisi saat ini. Berusaha mengetok pintu rezeki sampai dibuka, Insya Allah jika terus berusaha akan dibukakan jalan rezekinya,” pungkasnya.  (bersambung)

Tentang Didiy

Nama: Diana Amalia Puspitasari

TTL: Bontang, 5 September 1993

Alamat: Parikesit

Ortu: Hudiyono – Siti Fatimah

Saudara: Firdaus Surya Pradana

Pendidikan:

TK Yayasan Pupuk Kaltim

SD 1 Yayasan Pupuk Kaltim

SMP Yayasan Pupuk Kaltim

SMAN 1 Bontang

S1 Akuntansi Universitas Negeri Surabaya

Hobi: Baca Novel

Print Friendly, PDF & Email
Tags: kisah inspiratifwarga bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Perizinan Rampung, NPK Cluster Dibangun Tahun Ini

Next Post

Proyek Kilang Untungkan Masyarakat Kota Taman

Related Posts

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan
Bontang

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan

31 Maret 2026, 08:00
Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang
Bontang

6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang

31 Januari 2023, 16:08
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup
Feature

Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup

4 Desember 2018, 17:00

Terpopuler

  • Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerindra Kaltim Semprot Rudy Mas’ud usai Bandingkan Diri dengan Hashim Djojohadikusumo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mini Soccer HOP 1 Bontang Ditutup Mulai Mei, Proyek Lanjutan Rp17,5 Miliar Segera Dikerjakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Investasi Bodong Emas Digital di Bontang, Terlapor Mulai Diperiksa Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antrean Truk Solar di SPBU Tanjung Laut Bontang Kian Parah, Usaha Warga Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.