Kesabaran punya peran penting dalam perjalanan hidup Mustamin. Sikap itulah yang turut mengantarkannya sukses menggeluti perdagangan kelapa parut dan usaha penggilingan bumbu di Pasar Kedondong Jalan Ulin, Samarinda.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Deru suara mesin enggan beranjak dari bangunan kayu yang tepat berada di samping jembatan depan pasar. Seakan memanggil warga berdatangan silih berganti ke sana. Enam lelaki tampak cekatan bergerak di sekitar mesin penggiling. Ada yang memasukkan kelapa parut ke dalamnya, sementara yang lain mengambil hasil perasan berupa air santan untuk dikemas dalam plastik.
“Sejak pagi kami sudah membuat santan. Dalam sehari bisa menghasilkan 100 bungkus santan. Masing-masing plastik kurang lebih berisi satu liter,” jelas Mustamim, sosok di balik usaha penggilingan tersebut.
Di bangunan toko nan sederhana itulah, Mustamim menjalankan usahanya berupa penjualan kelapa parut sekaligus penggilingan bumbu. Khususnya pemrosesan kelapa parut menjadi santan. Dia membeber, dalam sehari bisa menjual seribu hingga 1.200 butir kelapa. Kalau sedang ramai angka itu bahkan mencapai 1.500 butir kelapa.
“Itu termasuk kelapa-kelapa yang diproses menjadi santan,” tambah pria yang karib dipanggil Tamim ini.
Usaha ini, kisah Tamim, dirintisnya sejak dua puluh tahun yang lalu. Tepatnya di tahun 1997, saat dia mulai berdagang di Pasar Kedondong. Sebelum menjajakan kelapa parut secara kaki lima, Tamim terlebih dulu berjualan pisang di pasar. Lima bulan tak menghasilkan keuntungan signifikan, sulung dari empat bersaudara ini memutuskan banting setir berdagang kelapa.
“Awalnya saya coba-coba berjualan kelapa. Saat itu saya dibantu modal dari saudara ipar saya,” kenangnya.
Namun menjual kelapa yang digunakan untuk kebutuhan dapur rupanya bukan hal yang mudah. Apalagi sudah banyak pedagang sejenis di pasar. Alhasil dalam sehari dia hanya mampu menjual tiga sampai lima butir kelapa. Hal ini terus berlangsung di sepanjang bulan pertamanya berdagang kelapa. Dengan hasil itu, sulit bagi Tamim untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Untuk menyewa rumah saja tidak bisa. Sehingga saya waktu itu terpaksa menginap dan tidur di pasar,” kisah Tamim.
Walau serba kekurangan dengan pendapatan yang minim, tidak membuat Tamim menyerah. Dia memilih bersabar dan terus melanjutkan berdagang dari pagi hingga senja. Pria yang pernah menjadi buruh di pelabuhan ini meyakini perlu kesabaran dalam menjalankan usaha. Terbukti, kesabarannya berbuah manis. Perlahan lapaknya mencari nafkah mulai dilirik pembeli dan memiliki pelanggan.
“Semakin banyak yang mengenal saya di pasar. Yang awalnya tiga butir dalam sehari, jadi laku tiga puluh biji dalam sehari,” terangnya.
Angka penjualan itu terus bertambah seiring berjalannya waktu. Mulai dari 100 butir dalam sehari, menjadi 200 ratus butir dalam sehari. Hingga dalam kurun waktu dua tahun, Tamim mampu menjual 400 butir kelapa dalam satu hari. Dengan kondisi keuangan yang membaik, dia bukan hanya mampu menyewa rumah. Melainkan juga mampu mempekerjakan seorang karyawan kala itu.
Kata Tamim, strategi penjualan yang diterapkan lebih pada memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Khususnya dalam membangun keakraban dengan para pembeli yang datang. Dalam hal ini dia tak segan menyapa dan mengajak calon pembelinya berinteraksi dan berbincang. Menurut Tamim, seringnya komunikasi yang dilakukan membuat mereka menjadi tertarik membeli.
“Perlu ada pendekatan psikologis. Sehingga ada kedekatan dengan calon pembeli,” tambah suami dari Rahma Yulianti ini.
Bukan sekadar bersikap ramah, Tamim menyadari benar pentingnya menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk itu, dia selalu mengedepankan kejujuran dalam berdagang. Pun begitu, dia selalu mengupayakan kelapa terbaik yang dijualnya kepada pembeli. Bila menemukan kelapa dengan kualitas yang tidak layak jual, Tamim tak segan-segan menyingkirkannya dari dagangan.
“Harus berani seperti itu. Supaya daya jual tinggi. Kepercayaan konsumen harus dijaga,” sebut Tamim.
Baginya, risiko merugi demi mempertahankan kualitas bukan hal yang perlu ditakutkan. Termasuk ketika Tamim dipercaya menjadi distributor kelapa oleh seorang rekanannya. Dalam perjalanannya, dia lebih sering mendapatkan keuntungan ketimbang merugi. Bahkan saat menjadi distributor, dalam dua hari dia bisa menjual habis satu truk kelapa.
Sempat sekira 1,5 tahun merangkap sebagai distributor, Tamim kembali fokus berdagang kelapa. Banyaknya pesaing waktu itu membuatnya memutuskan berhenti menjalin kerja sama sebagai distributor. Saat kembali fokus berjualan kelapa itulah, dia melihat potensi usaha pemrosesan kelapa parut menjadi santan.
“Saya membeli mesin pemeras kelapa dari Jakarta seharga Rp 10,5 juta. Saat itu saya jadi yang pertama di Samarinda yang menggunakan mesin pemeras kelapa parut menjadi santan di pasar,” ungkapnya.
Sebagai salah satu pengguna pertama, awalnya banyak yang meragukan mesin milik Tamim. Kualitas santan hasil perasan mesin sempat dipertanyakan para calon pembeli. Namun itu tak membuat Tamim kurang akal. Dia lantas memberikan santan produksinya secara gratis kepada orang-orang. Promosi ini dilakukannya selama sekira setengah bulan.
“Setelah mereka tahu kualitas santan yang saya hasilkan, barulah saya berikan harga. Tidak masalah membagikan secara gratis untuk mendatangkan keuntungan di kemudian hari,” ujar pria yang mengaku gemar berdebat ini.
Kini penjualan kelapa dan pemrosesan kelapa parut menjadi santan yang dirintis Tamim telah begitu dikenal di Pasar Kedondong. Setiap hari lalu lalang pembeli tak pernah berhenti sejak toko dibuka dari pagi hingga senja. Meski sudah memiliki enam karyawan, Tamim masih tetap terjun langsung melayani pembeli di tokonya.
“Saya mesti memastikan kelapa-kelapa yang kami tawarkan kepada para pelanggan tetap merupakan yang terbaik. Kalau ada yang tidak bagus ya tidak kami tawarkan,” tuturnya.
Diakui Tamim, sederetan suka duka ia rasakan selama puluhan tahun berdagang. Di antaranya dia mesti bangun pagi-pagi benar untuk mempersiapkan dagangan. Di awal-awal berusaha, hal ini terasa berat baginya. Namun seiring berjalannya waktu, Tamim menjadi terbiasa dan kini sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Ketika banyak orang masih terlelap, saya sudah bangun. Saya rasakan benar bahwa dalam bekerja itu mesti ulet dan tidak boleh setengah-setengah,” pungkas pria kelahiran Soppeng, lima dekade lalu ini. (***)
TENTANG TAMIM
Nama: Mustamim
TTL: Soppeng, 8 Desember 1967
Istri: Rahma Yulianti
Anak:
- Muhammad Luthfi
- Nadia Chandra Ripa
Pendidikan:
- SD 1 Tambum, Toli-Toli
- SMP Batu-Batu, Soppeng
- SPG Muhammadiyah Toli-Toli
- Universitas Veteran Republik Indonesia
Alamat: Jalan P Suryanata Gang Kenanga, Air Putih, Samarinda







