SANGATTA – Puluhan warga menyambangi sekretariat Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) untuk melaporkan dugaan pungli di Pantai Kenyamukan, Dusun Kenyamukan Desa Sangatta Utara, Kecamatan Sangatta Utara, Selasa (3/8) kemarin.
Fakhruddin, salah seorang pelapor menuturkan, pungutan yang dilakukan oknum yang
belum diketahui tersebut tidak memiliki kekuatan hukum. Terlebih, pungutan dinilai terlalu besar dan memberatkan bagi pengunjung.
“Motor dipungut Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu. Sedangkan mobil, Rp 5 ribu sampai Rp10 ribu. Karena kami anggap pungutan, makanya kami laporkan ke Saber Pungli,” ujar Fakhruddin warga Sangatta Utara itu.
Selain itu, dirinya juga mempertanyakan uang hasil pungutan tersebut. Apakah masuk dalam kas daerah atau hanya dinikmati orang-orang tertentu saja. Jika tidak sesuai dengan peruntukkannya, maka pihaknya sangat menyayangkan dan meminta pihak yang terkait untuk menindak.
“Kami pertanyakan siapa yang kelola uang itu, uangnya untuk siapa, dan pertanggungjawabannya seperti apa. Kalau tidak jelas, baik kiranya dihentikan. Jika tidak, maka masuk dalam pungli dan wajib ditangkap,” katanya.
Dirinya tidak mempersoalkan jika uang hasil pungutan tersebut jelas keberadaannya. Seperti untuk pengembangan pantai, penambahan fasilitas, kebersihan, hingga keamanan. Karena tentu, itu semua untuk kepentingan masyarakat yang berkunjung.
“Ini kami perhatikan, bukan lagi orang tua yang melakukan pungutan, tetapi anak-anak. Itu yang sangat kami sayangkan. Karenanya, sebelum jelas, baik kiranya dihentikan pungutan tersebut,” pintanya.
Sebelumnya, Muhammad Arief, juga mengeluhkan adanya pungutan di Pantai Kenyamukan. Padahal setahunya, oknum tersebut tidak memiliki hak manarik sepeserpun kepada pengunjung. Karena hingga saat ini, pemerintah belum mengeluarkan izin ataupun perintah malakukan penarikan restribusi.
“Kami dapat apa di Kenyamukan. Jalan buruk, fasilitas nihil. lokasi pantai kotor. Kami hanya menikmati laut saja. Tetapi pungutannya sangat besar sekali. Sangat memberatkan kami tentunya,” katanya.
Jika demikian, Pantai Kenyamukan yang semula menjadi andalan warga Sangatta, terancam sepi disebabkan oknum tidak bertanggungjawab. “Pantai Kenyamukan itu baru pemula. Baru ramai-ramainya. Kalau sudah seperti ini (tarik pungutan, red), saya secara pribadi malas lagi berkunjung. Masih banyak tempat wisata yang lebih indah dan menarik,” akunya. (dy)







