bontangpost.id – Langkah inisiatif dilakukan oleh kepala SMA se-Bontang. Menyusul meningkatnya tren sebaran covid-19 di Kota Taman. Bentuknya dengan mengubah skema pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dari kapasitas 100 menjadi 50 persen.
Kepala SMA 1 Sumariyah mengatakan mekanisme itu sudah dilakukan sejak Selasa (8/2). Namun hingga kini pihaknya belum menerima surat edaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim. “Ini inisiatif dari kami karena kondisinya sudah mengkhawatirkan,” kata Sumariyah.
Dengan perubahan skema PTM ini proses penyampaian materi tetap digelar dalam satu sesi. Pengaturannya ialah kehadiran berdasarkan nomor absensi pelajar. Bagi yang tidak masuk kelas maka akan diberi tugas oleh guru melalui daring. Tugas ini digunakan saat pre tes sebelum penyampaian materi dalam PTM selanjutnya.
“Kami tidak bisa melakukan dua sesi. Karena kasihan gurunya jika harus menambah waktu. Terus jamnya pun tidak cukup per harinya,” ucapnya.
Skema itu untuk kelas X dan XI. Adapun kelas XII tetap dilangsungkan metode hybrid. Artinya pelajar yang PJJ dapat berinteraksi saat penyampaian materi di kelas. Perbedaan ini mengingat kelas tersebut mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi dalam waktu dekat.
Saat disinggung mengapa tidak memberlakukan skema sama untuk kelas X dan XI, ia menjelaskan terkendala kecepatan jaringan. Bandwith yang dimiliki sekolah yakni 210 Mbps tidak bisa menjangkau 21 rombel yang ada. Bahkan pihak sekolah telah menyiapkan solusi jika saat penyampaian materi hybrid terkendala di tengah jalan.
“Kami berikan pulsa kepada guru jika ada gangguan langsung menggunakan koneksi melalui ponselnya,” tutur dia.
SMA 1 menggelar PTM tiap harinya mulai 07.00 hingga 12.30 Wita. Sementara SMA 2 bakal menggelar PTM 50 persen mulai Senin depan. Kepala SMA 2 Suyanik mengatakan langkah ini diambil setelah ada pembahasan di tingkat tenaga pendidik.
“Kami antisipasi karena sudah beberapa sekolah melaksanakan skema itu,” kata Suyanik.
Pengaturannya pun berbeda. Kelas XII dipastikan tetap masuk rutin. Mengingat penyampaian materi menyisakan waktu enam pekan. Sementara kelas X dan XI dijadwalkan bergantian masuk. Metode ini dipilih karena jika opsi sebelumnya yakni separuh dalam satu rombel gantian masuk dipandang kurang efektif. Alhasil guru harus menerangkan kembali materi di pekan selanjutnya.
“Jadi misal pekan ini siswa kelas XI yang masuk, berarti pekan depan kelas X,” terangnya.
Nantinya guru bakal melakukan mobilisasi dalam jam sama ke dua ruangan kelas sekaligus. Alternatif lainnya ialah guru melaksanakan penyampaian materi di luar ruangan kelas. Tak hanya itu skema hybrid juga kurang efektif. Pasalnya guru hanya terkonsentrasi interaksinya di ruangan kelas. SMA 2 menjadwalkan PTM dimulai 07.15 hingga 12.45 Wita. (*/ak)







