bontangpost.id – Tren sebaran covid-19 di Kota Taman meningkat. Bahkan tiga sekolah mengubah skema pembelajaran dari luring menjadi daring. Setelah pelajarnya dinyatakan reaktif pasca menjalani pemeriksaan covid-19. Tiga sekolah itu yakni SMA 1, SMK 3, dan SMP 1.
Kepala SMA 1 Sumariyah mengambil langkah antisipasi. Pasalnya dua pelajarnya dinyatakan reaktif saat pengambilan sampel, Rabu (9/2) lalu. Salah satu pelajar terdeteksi saat ingin mengikuti kegiatan MTQ. Sisanya mengambil inisiatif karena kondisi tubuhnya tidak fit.
“Terus pelajar itu periksa juga. Karena kami mengimbau untuk melakukan pemeriksaan antigen mandiri bagi siswa yang sakit dan mampu,” kata Sumariyah.
Ia menjelaskan pelajar tersebut terakhir masuk Selasa (8/2). Berdasarkan informasi yang diperoleh pelajar itu mengalami demam. Langkah yang dilakukan oleh sekolah ialah mengubah skema pembelajaran seluruh rombel menjadi daring. Keputusan ini sudah mulai sejak Kamis (10/2) kemarin. Durasinya selama lima hari.
“Ini bentuk antisipasi. Karena guru-guru yang menyampaikan materi sebelumnya juga khawatir,” ucapnya.
Pihaknya telah melakukan komunikasi dengan satgas. Sehubungan dengan tindak lanjut dari kondisi ini. Ia mengaku belum mendapatkan informasi kapan pelajar itu menjalani pemeriksaan swab PCR.
“Kami tidak tahu pelajar ini terpapar dari mana. Sebab tidak ada riwayat perjalanan dari luar daerah,” tutur dia.
Sekolah pun sebenarnya telah menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Mulai dari pendeteksian suhu tubuh, penyediaan sarana cuci tangan, pemberlakuan penggunaan masker, hingga pengaturan jarak.
“Sebenarnya kami tidak ingin terjadi. Tetapi begini padahal prokes juga ketat,” terangnya.
Tak hanya itu, sekolah juga mengeluarkan kebijakan bagi pelajar yang kurang fit untuk menempuh penyampaian materi secara daring. Terkhusus mereka yang mengalami gejala seperti demam.
“Kami sudah buat surat edarannya,” terangnya.
Sementara untuk SMK 3 tercatat ada empat pelajar dan empat karyawan sekolah hasil pemeriksaannya serupa, Selasa (8/2). Hasil ini didapatkan setelah sebagian siswa secara acak menjalani pemeriksaan rapid antigen yang dilakukan oleh Puskesmas Bontang Barat. Sementara guru dan karyawan di satuan pendidikan itu seluruhnya mengikuti pemeriksaan.
Kepala SMK 3 Hamsiah mengatakan akibat kondisi itu sekolahnya mengembalikan skema pembelajaran menjadi jarak jauh. Hingga dua pekan mendatang. Tetapi keputusan itu hanya menyasar X dan XII. Sebab kelas XI sudah menjalani masa praktek kerja industri. Seluruh yang reaktif telah menjalani swab PCR. Saat ini mereka menunggu hasilnya.
“Jadi untuk pelajar kami pilih anak-anak yang kurang fit saat itu. Kalau guru dan karyawan semuanya,” urainya.
Adapun penghentian PTM terbatas juga terjadi di SMP 1. Pasalnya di satuan pendidikan tersebut terdapat delapan pelajar dengan hasil pemeriksaan reaktif. Sekolah pun telah melakukan disterilisasi selama lima hari sambil menunggu hasil tracing dari Tim Gugus Tugas Covid-19.
“Dia masuk hasil tracing ayahnya yang juga guru di salah satu SMK. Jadi kami melakukan PJJ sejak kemarin,” kata Riyanto.
Dijelaskan, siswa itu terakhir melakukan kegiatan belajar secara luring pada Senin (7/2) lalu. Akibat dari kejadian ini, sebanyak 17 pelajar dan 4 guru masuk dalam daftar tracing. Proses itu akan berkoordinasi dengan Puskesmas Bontang Utara 1.
“Mereka yang kontak erat akan dicek,” ucapnya.
Bila ditemukan tambahan positif, aktivitas PJJ akan diperpanjang selama dua pekan. Sesuai dengan aturan yang berlaku. (*/ak)







