Sebanyak 25 orang relawan asal Kota Taman yang dikirim Pemkot Bontang tiba di Palu, Sabtu (6/10) sekira pukul 11.00 Wita. Tak ada waktu terbuang, para relawan langsung bergerak cepat menjalankan tugasnya.
BAMBANG, Bontang
Para relawan ini terdiri dari tim Search And Rescue (SAR), perawat, dokter, bidan, first aider, trauma healing, humas, petugas dapur umum, dan petugas teknisi transfusi darah. Berangkat dari Pelabuhan Loktuan, Jumat (5/10) pukul 16.00 Wita, butuh waktu sekira 19 jam bagi para relawan Bontang untuk tiba di Pelabuhan Wani Donggala, Palu.
Namun sesampainya di pelabuhan, harapan untuk segera menyalurkan bantuan kepada para korban tidak semulus yang dibayangkan. Saat akan melakukan aktivitas bongkar muat logistik bantuan korban bencana, relawan terhalang karena mendapat intervensi dari warga yang di sekitar pelabuhan.
Rupa-rupanya, para warga ini tak sabar untuk mendapat bantuan. Tak ingin keributan terjadi, para relawan langsung melakukan komunikasi ke posko induk yang ada di Palu. Tujuannya, untuk meminta bantuan pengamanan.
Akhirnya, berkat kerja sama dengan koordinator tim relawan di Palu, para relawan mendapatkan pengawalan dari aparat di bawah kendali Kolonel Marinir Beny dari Marinir Sulawesi Tengah (Sulteng).
“Seluruh bantuan dari seluruh unsur masyarakat Bontang telah dilaporkan ke posko induk di Palu. Untuk selanjutnya didistribusikan ke para korban,” ujar Herman Baakel, salah seorang relawan saat dikonfirmasi Bontang Post, Ahad (7/10) kemarin.
Usai menyerahkan bantuan ke posko induk, mereka langsung mendirikan posko sementara tim relawan yang berlokasi di Pesantren Al Khairat Jalan Mangga, Palu. Di hari yang sama, mereka langsung mendapatkan tugas membantu mengevakuasi salah satu jenazah korban.
Selain itu, mereka juga melakukan penyisiran lokasi terparah bencana. Diketahui, lokasi tersebut masih membutuhkan tenaga untuk proses evakuasi. Hasilnya selama dua hari pencarian, para relawan berhasil mengevakuasi total empat jenazah korban bencana.
“Langkah selanjutnya kami masih menunggu konfirmasi dari masing-masing satuan untuk ditugaskan ke mana. Tim medis berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat, begitu juga PMI dan Tagana juga menunggu perintah untuk ditugaskan di daerah mana,” sebut Herman. (bersambung)







