SANGATTA – Belum adanya kejelasan besaran jumlah anggaran yang bakal dikucurkan pemerintah untuk keperluan persiapan pelaksanaan Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) Kaltim ke-6 Tahun 2018, yang akan diselenggarakan di Kutai Timur, cukup membuat Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kutim kesulitan.
Pasalnya, dengan jangka waktu persiapan yang lebih kurang hanya 1 tahun, Dispora Kutim harus mempersiapkan sejumlah sarana dan prasarana fasilitas penunjang pergelaran Porprov Kaltim 2018 tersebut, khususnya pengadaan peralatan lomba pada masing-masing cabang olahraga (Cabor).
Menurut Kepala Dispora Kutim Didi Herdiansyah, belum adanya kejelasan anggaran yang bakal dikucurkan untuk Porprov Kaltim tahun depan, cukup menjadi permasalahan besar terutama dalam rencana pengadaan peralatan olahraga yang akan digunakan dalam pertandingan.
Akibatnya, pihaknya hingga kini belum dapat menyusun rencana pembelian alat-alat olah raga yang harus disesuaikan dengan daftar harga jual atau price list. Padahal waktu pelaksanaan hanya tinggal setahun lagi. Ditambah, pembelian alat-alat olahraga tersebut harus dilakukan secara lelang. “Jadi belum jelasnya anggaran (Porprov, Red), membuat kita sulit juga,” ujar mantan Camat Sangatta Utara itu.
Memang sebelumnya, pihaknya mengajukan bantuan kepada DPRD Kaltim agar memperjuangkan tambahan anggaran yang sebelumnya 10 miliar menjadi 40 miliar. Hanya saja, melihat kondisi defisit yang membelit saat ini, dirinya pesimis jika jpermohonan tersebut bisa direalisasikan.
Terlebih pelaksanaan Porprov Kaltim di tahun-tahun sebelumnya, setiap tuan rumah penyelenggara hanya mendapat bantuan anggaran dari Provinsi sebesar Rp 10 miliar. Yang menjadi kendala terbesar, jika Pemprov tetap mengabulkan 10 miliar, maka ajang akbar tersebut terancam tidak maksimal. “Dengan bantuan sebesar itu (10 miliar, Red) maka tidak bisa dimaksimalkan untuk persiapan pelaksanaan Porprov,” katanya.
Jikapun dihadapkan dengan keadaan yang tidak semestinya, sebagai tuan rumah pelaksana, Kutim akan bersikap realistis dan enggan memaksakan kehendak. Terpaksa melakukan kolaborasi atau berkongsi dengan sejumlah Kabupaten dan kota. Seperti pelakukan peminjaman alat-alat pertandingan yang memang dimiliki Kabupaten dan Kota lainnya di Kaltim.
“Bahkan mungkin bisa menekan pengeluaran. Tetapi hal ini masih merupakan wacana dan menjadi alternatif terakhir. Tentunya Pemkab Kutim masih akan berupaya maksimal dalam memperjuangkan anggaran untuk Porprov Kaltim 2018, termasuk dengan mengajukan bantuan keuangan (Bankeu) kepada Pemprov,” katanya. (dy)







