• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Ragam

Antisipasi Terkena DBD, Kenali Sarang Nyamuk di Rumah

by M Zulfikar Akbar
12 Februari 2019, 16:30
in Ragam
Reading Time: 2 mins read
0
Petugas medis menangani penderita DBD. (Rubianto/Jawa Pos Radar Malang)

Petugas medis menangani penderita DBD. (Rubianto/Jawa Pos Radar Malang)

Share on FacebookShare on Twitter

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi bulan ini kasus demam berdarah dengue (DBD) tetap tinggi. Pemicunya adalah sanitasi yang buruk saat curah hujan tinggi. Telur nyamuk Aedes aegypti memang cepat berkembang pada musim hujan. Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus digiatkan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonosis Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengingatkan, masyarakat perlu tahu di mana saja tempat bisa menjadi sarang nyamuk. “Ada banyak sarang nyamuk yang harus dikenali, terutama di rumah kita. Masyarakat harus mengetahuinya agar tidak salah sasaran dalam memberantas sarang nyamuk,” katanya.

Tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk di rumah adalah bak kamar mandi dan toilet, tempat penampungan air, air jebakan semut, air pembuangan kulkas, tempat minum burung, hingga air bekas dispenser.

Menurut dia, tempat-tempat itu sangat berpotensi menjadi sarang nyamuk. Masyarakat diimbau untuk tidak membiarkan air tergenang di tempat-tempat tersebut. “Bak mandi harus lebih sering dikuras agar tidak ada jentik nyamuk. Ada jentik berarti kita terancam demam berdarah,” ucapnya.

Baca Juga:  Bontang Waspada DBD, PT KPI Fasilitasi Fogging dan Pembagian Abate di 11 RT Api-Api

Satu jentik betina, lanjut dia, dalam 12-14 hari akan berubah menjadi nyamuk dewasa. Satu nyamuk betina dewasa sekali bertelur menghasilkan 100-150 butir telur. Dalam sebulan, nyamuk bisa bertelur sekitar empat kali. Jadi, dalam sebulan, nyamuk bisa menghasilkan 400-600 butir telur. Telur nyamuk bisa bertahan atau tidak menetas selama enam bulan karena tidak menyentuh air. Hujan, menurut dia, mampu mempercepat menetasnya telur nyamuk.

Kepala Bidang Manajemen Observasi Meteorologi Penerbangan BMKG Hary Tirto Djamiko mengatakan, tahun ini sebagian wilayah Indonesia memiliki curah hujan lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu. Khususnya pada periode Januari dan Februari. Dia mengakui, tingginya kasus DBD belakangan ini ikut dipengaruhi curah hujan yang tinggi.

Baca Juga:  Sebulan Ada 34 Kasus DBD, Tertinggi di Berebas Tengah

“Tapi, saya tegaskan curah hujan di setiap daerah berbeda-beda,” kata dia. Untuk Pulau Jawa, diperkirakan curah hujannya masih tinggi.

Data prakiraan BMKG menyebutkan, hujan lebat masih bakal terjadi di Pulau Jawa hingga 8 Februari. Kondisi serupa terjadi di Bali, NTB, dan NTT. Selanjutnya di Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Pemicu hujan lebat itu, antara lain, terdapat sebuah bibit siklon tropis di Teluk Carpentaria dan siklus siklonik di Kalbar.

Terkait dengan pengaruh cuaca terhadap DBD, Hary mengatakan bahwa BMKG menyajikan pemodelan yang bisa diakses di dbd.bmkg.go.id. Pemodelan tersebut menyediakan prediksi angka insiden DBD per 100 ribu penduduk. “Saat ini baru untuk wilayah DKI,” katanya. Tidak tertutup kemungkinan pemodelan itu dikembangkan ke provinsi lainnya.

Baca Juga:  Remaja 13 Tahun di Telihan Meninggal karena DBD

Melihat hasil pemodelan BMKG tersebut, untuk periode Februari hingga Maret, wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat masuk kategori aman DBD. Kondisi aman itu, antara lain, ditunjukkan dengan angka insiden DBD kurang dari tiga. Sementara itu, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat masuk wilayah waspada dengan indikasi angka insiden DBD 3-10.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono menyatakan, tren dan sosial determinan belum berubah. Karena itu, dapat dimungkinkan jumlah pasien pada Februari tahun ini lebih tinggi daripada Februari tahun lalu.

Vaksin untuk mencegah DBD pun sudah ada. Namun, menurut Anung, Kemenkes tidak mengeluarkan kebijakan untuk melakukan vaksinasi. Alasannya, membaca hasil di Filipina, keamanan dan kualitasnya masih diragukan.  (jpc)

Tags: dbddemam berdarah dengue
Share63TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Berantas DBD, 25 RT di Gunung Telihan di-Fogging

Next Post

Pemkot Disebut Lalai Perawatan PLTS

Related Posts

DBD di Bontang Bertambah 28 Kasus dalam Sepekan, Dua Kelurahan Jadi Perhatian
Bontang

DBD di Bontang Bertambah 28 Kasus dalam Sepekan, Dua Kelurahan Jadi Perhatian

27 Oktober 2026, 13:18
DBD Masih Mengintai di Bontang, Lima Kelurahan Catat Kasus Terbanyak
Bontang

DBD Masih Mengintai di Bontang, Lima Kelurahan Catat Kasus Terbanyak

6 Oktober 2026, 09:42
Gunung Telihan Bontang Catat Kasus DBD Tertinggi, Warga Diminta Tak Lengah
Bontang

Gunung Telihan Bontang Catat Kasus DBD Tertinggi, Warga Diminta Tak Lengah

11 September 2026, 10:03
Gunung Telihan Catat Kasus DBD Terbanyak di Bontang, Warga Diminta Waspada
Bontang

Gunung Telihan Catat Kasus DBD Terbanyak di Bontang, Warga Diminta Waspada

2 September 2026, 09:00
Dinkes Bontang Luncurkan Peta Digital DBD, Warga Kini Bisa Pantau Sebaran Kasus Per RT
Bontang

DBD Bontang Naik-Turun, Angka Tertinggi Pernah Capai 588 Kasus

15 Agustus 2026, 10:00
Didiagnosis DBD, Anak 6 Tahun di Bontang Meninggal akibat Komplikasi Penyakit Penyerta
Bontang

Didiagnosis DBD, Anak 6 Tahun di Bontang Meninggal akibat Komplikasi Penyakit Penyerta

14 Agustus 2026, 12:33

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.