SANGATTA – Untuk membayar utang tahun anggaran 2016-2017, Pemkab Kutim terpaksa meminjam uang ke Bank Jateng. Langkah ini diambil untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, khususnya mereka yang memiliki hak kepada Pemkab Kutim. Juga untuk menyudahi keluh kesah yang beredar di masyarakat. Hal ini diungkapkan Sekretaris Daerah, Irawansyah, dalam rapat paripurna di Sekretariat DPRD Kutim, Senin (9/7) kemarin.
Wakil Ketua I DPRD Kutim Yulianus Palangiran membenarkan, pemkab bakal meminjam uang ke Bank Jateng.
“Langkah ini, supaya tak lagi terlalu banyak suara dari berbagai kalangan yang menagih ke pemkab. Jadi hanya satu pintu, pemkab berurusan dengan Bank Jateng,” ujar Yulianus.
Legislator fraksi Demokrat tersebut menyatakan, saat ini banyak pihak yang terus meminta kebutuhan pembayaran ke pemkab. Mulai dari kontraktor, kepala desa, Tenaga Kerja Kontrak Daerah (TK2D), insentif pegawai, pemasangan listrik Bukit Pelangi, pembebasan lahan, dan lainnya.
Dia melanjutkan, banyak suara yang nantinya bisa membuat masyarakat ikut cemas, sehingga semua itu bakal dibayarkan melalui bantuan Jateng.
“Pembayaran utang akan difokuskan untuk tahun anggaran 2016-2017. Sedangkan 2018 akan tetap berjalan sesuai yang disepakati. Jangan sampai ada lagi program baru. Sebab tahun ini sudah ada skala prioritas yang ditetapkan,” kata Yulianus.
Dia meminta kepada masyarakat, supaya bisa memahami bahwa saat ini Kutim masih menghadapi gejolak defisit.
“Saya berharap pemkab juga tidak dulu menambah program baru. Lebih baik selesaikan kegiatan yang sudah berjalan dan yang lebih penting,” katanya.
Adapun peminjaman ke Bank Jateng, terang dia, direncanakan dalam waktu dekat ini. Kesepakatan akan dibuat pada September 2018. Namun, besaran uang yang akan dipinjam belum dapat diumumkan, karena masih menghitung jumlah yang diperlukan. (dy)







