“Agar elpiji melon ini tepat sasaran, jadi nanti harus memperlihatkan kartu yaNg menunjukkan pembeli benar warga miskin,” Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni berharap masyarakat mampu secara ekonomi yang selama ini masih ketergantungan menggunakan tabung gas elpiji kemasan 3 Kg, untuk segera beralih ke gas elpiji non subsidi kemasan 5 Kg atau 12 Kg. Kelangkaan yang terjadi beberapa hari terakhir merupakan salah satu imbas dari penggunaan elpiji melon yang celakanya juga digunakan oleh masyarakat mampu. Padahal, sesuai regulasi yang ada elpiji melon diperuntukkan bagi warga miskin.
Politisi Golkar ini menuturkan, rencananya ia bakal melakukan koordinasi dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Semisal, Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Perdagangan (Diskop-UKMP), kecamatan dan kelurahan untuk melakukan pendataan bagi warga yang benar-benar membutuhkan.
“Agar elpiji melon ini tepat sasaran, jadi nanti harus memperlihatkan kartu ynag menunjukkan pembeli benar warga miskin. Kami juga akan meminta Diskop-UKMP untuk memonitoring agen pendistribusian resmi tabung gas. Supaya lebih tertib lagi menjual ke pengecer,” tutur dia.
Menurutnya, ketersediaan elpiji melon di Bontang sedianya sudah cukup mengakomodir kebutuhan gas bagi warga miskin. Dia menyebut, kuota elpiji melon ada sekira 16 ribu tabung, belum lagi tambahan sebanyak 5 persen sebelum Iduladha lalu. Jika dikonversi, nominal tambahan tabung gas elpiji melon sebanyak 800 tabung. Jumlah ini sebenarnya sudah bisa mencukupi kebutuhan elpiji bagi warga miskin.
“Tabung gas elpiji kemasan 3 Kg disubsidi oleh pemerintah pusat untuk warga yang kurang mampu. Bagi orang mampu beli lah yang 5 Kg atau 12 Kg. Jangan yang 3 Kg,” kata Neni di sela gelaran operasi pasar, Rabu (6/9) kemarin.
Persoalan kebutuhan gas di Bontang, lanjut Neni, masyarakat miskin tak perlu risau lagi. Pasalnya, mulai dalam waktu dekat 8 ribu sambungan jaringan gas (Jargas) siap teraliri ke rumah warga. Kabar baiknya, tahun depan Pemkot mengusulkan tambahan kuota 14 ribu sambungan jargas lagi.
“Kami harap ibu-ibu tidak pusing lagi nantinya menggunakan tabung, Tapi sudah mulai beralih ke Jargas yang lebih efisien dan biaya lebih terjangkau,” ujarnya.
Sementara itu Irto Ginting, Manager Mobgas MOR 6 Pertamina Balikpapan menjelaskan, PT Pertamina sudah memasang peringatan berupa sablon bertuliskan “Hanya Untuk Masyarakat Miskin” pada tabung elpiji berkapasitas 3 Kg.
Menurutnya, hal tersebut bertujuan untuk mencegah pihak-pihak yang tidak sesuai kategori yang ditetapkan oleh pemerintah menggunakan elpiji 3 Kg yang merupakan produk bersubsidi.
Ia juga mengajak dan meminta seluruh lapisan masyarakat untuk turut berperan serta mewujudkan pendistribusian dan penyaluran elpiji bersubsidi yang tepat sasaran.
Kemudian, terkait dengan mekanisme monitoring ketersediaan Elpiji 3 kg, Pertamina memiliki Sistem Monitoring Penyaluran LPG 3 Kilogram (Simolek). Sistem ini bertujuan untuk memantau jalannya distribusi epiji 3 Kg agar tepat sasaran, mulai dari agen resmi hingga ke seluruh pangkalan di bawah agen.
Apabila ada indikasi penyelewengan elpiji bersubsidi, masyarakat dapat langsung melapor ke kepolisian setempat, dan Pemkot. “Terkait kuota memang ada batasan dari pemerintah pusat. Kami siap support pemerintah daerah agar LPG bersubsidi ini tepat sasaran,” ujarnya. (*/nug)







