BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim mengaku, jika speedboat tersebut tak ada perawatan secara khusus. Alasannya, karena tak ada anggaran. Pihaknya hanya mendapatkan jatah BBM. Sedangkan biaya perawatan nihil.
Dikatakan Plt Sekretaris BPBD Kutim, Ludi Firmansyah, pihaknya hanya melakukan pengawasan saja. Pengawasan langsung dilakukan oleh anggota BPBD.
“Ya memang mesinnya rusak satu. Kami tidak tau juga rusaknya kenapa. Speednya memang tidak ada perawatan. Anggaran tidak ada. Speed tidak dianggarkan untuk perawatan,” jelas Ludi.
Dalam penjagaan speed itupun, dirinya mengaku tak memberikan honor sepeserpun kepada petugas. Hanya mengandalkan anggota semata.
“Ya tidak dibayar. Andalkan staff saja. Tetapi dipanasin (mesin) juga setiap minggu. Bisa saja dipakai tetapi tidak maksimal,” katanya.
Dirinya mengaku jika speed tersebut merupakan bantuan dari BNPB untuk Kutim. Speed ini dipergunakan untuk mengangkut pejabat dan korban bencana.
“Manfaatnya untuk kejadian di perairan. Orang tenggelam, kendaraan terbalik, dan untuk banjir besar,” katanya.
Sebelumnya dikabarkan jika orang yang menjaga speed tersebut berhenti lantaran tak digaji. Hanya saja, kebenaran ini perlu ditelusuri lagi secara mendalam. (dy)







