Sejak kepulangannya dari pertemuan di Bogor, Nensy Uli Pakpahan telah merasakan beberapa gejala pada 2 Maret lalu. Bermula dari buang air besar dengan frekuensi yang cukup tinggi. Merasakan itu dia langsung bergegas untuk memeriksakan diri ke salah satu fasilitas kesehatan di Sangatta.
TIDAK berhenti di situ. Beberapa hari kemudian setelah diare sembuh, dia mengalami batuk-batuk. Ia pun memutuskan ke fasilitas kesehatan kembali untuk mengecek kesehatannya. Hasilnya, tim medis menemukan pneumonia. Melihat temuan itu, dia pun dirawat terlebih dahulu.
“Kayaknya mereka (tim medis) sudah melihat mengarah ke sana (korona). Setelah di foto ada bercak, kemudian pada tanggal 16 Maret saya dirujuk ke Bontang,” ungkapnya saat ditemui di RSUD Taman Husada Bontang, Selasa (7/4/2020).
Keputusan dokter merujuk perempuan berusia 43 tahun ini ke Kota Taman, mengingat saat itu belum ada rumah sakit di Kutai Timur (Kutim) yang ditunjuk menjadi rumah sakit rujukan. RSUD Taman Husada Bontang adalah rumah sakit terdekat. Alhasil, pada 23 Maret lalu Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyampaikan hasil tes swab yang menyatakan dia positif. Mendengar itu, dia sempat merasakan sedih. Namun dia yakin bahwa sakit ini dapat disembuhkan.
“Saya sempat bertanya kepada diri sendiri, kenapa saya kena? Tapi tidak usah sedih dan panik, yang penting bisa disembuhkan,” ujarnya.
Dia pun menjalani perawatan selama 23 hari di rumah sakit plat merah itu. Di balik bilik berukuran sekitar 4×4 meter, ia berbagi kamar dengan pasien covid-19 asal Bontang yang juga telah dinyatakan sembuh. Tim dokter pun tak henti memberikan asupan obat-obatan untuk menambah imun tubuhnya.
Tidak hanya itu, para tim medis, dokter, dan perawat juga memberikan dukungan yang begitu berharga baginya agar dia segera sembuh.
“Terima kasih kepada Pemkot Bontang dan rumah sakit khususnya dokter dan perawat,” katanya.
Selama proses penyembuhan, dia melakukan berbagai kegiatan untuk mendukungnya agar cepat keluar dari rumah sakit. Seperti setiap bangun pagi mulai beribadah dan melakukan olahraga kecil. Ia juga menjalani istrahat yang cukup dan makan makanan bergizi.
“Paling penting itu berdoa,” ujarnya.
Pada Selasa (7/4/2020)m kabar baik sampai di telinga perempuan yang berprofesi sebagai pendeta ini. Dari hasil pemeriksaan swab ketiga yang diambil pada 29 Maret 2020, ia dinyatakan negatif dan sembuh dari Covid-19.
“Saya nanti pulang bakal di jemput Dinas Kesehatan Kutim,” ucapnya.
Mengingat penyakit tersebut dapat menyerang siapa saja, dia pun mengimbau agar masyarakat dapat mengerjakan anjuran pemerintah. Di antaranya melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), dan mengajak untuk menjadi orang yang dapat memutus mata rantai virus korona, bukan menjadi pembawa virus. Caranya dengan berdiam di rumah.
“Kami meminta kepada masyarakat, kami yang sudah sembuh ini jangan dijauhi. Karena kita tidak tahu kapan dan di mana bisa kena virus ini. Semua orang bisa terkena dan kita tidak bisa memilih. Sebaiknya didukung (anjuran pemerintah), mudah-mudahan kita semua terhindar dari penyakit ini,” pesannya. (Zaenul)







