• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Bontang

Cerita Rahmat, Perawat yang Berjuang di Tengah Stigma

by Fitri Wahyuningsih
14 Mei 2020, 10:39
in Bontang, Feature
Reading Time: 3 mins read
0
Rahmat Adi Putro Utomo, perawat di RS Pupuk Kaltim. (Fitri/Bontangpost.id)

Rahmat Adi Putro Utomo, perawat di RS Pupuk Kaltim. (Fitri/Bontangpost.id)

Share on FacebookShare on Twitter

DI satu sore tahun 2014. Rahmat Adi Putro Utomo– Selanjutnya Rahmat, dilarikan ke salah satu rumah sakit di Bontang. Ada masalah di perutnya. Sakit luar biasa. Ia tak tahu sebabnya.

Setibanya di instalasi gawat darurat (IGD), dokter segera memeriksa. Tak butuh lama, diagnosis keluar. Rahmat dinyatakan mengalami usus buntu. Ini berarti ia perlu dioperasi. Secepatnya.

Hari itu juga, tepat usai salat magrib, jadwal operasi ditetapkan. Dua perawat, menggunakan brangkar, memindahkan Rahmat dari IGD menuju ruang operasi.

Dalam perjalanan itu, Rahmat merasa hilang kendali atas tubuhnya. Ia beku. Ia gemetar. Peluh membasahi tubuh. Namun ia tak kuasa menahan perih di perut. Hanya pasrah. Dan berharap operasi berjalan lancar.

“Tenang, mas. Percaya semua baik-baik saja,” seorang perawat coba menenangkannya.

Tiba di ruang operasi. Sudah ada dokter dan timnya. Kenakan setelah khas bedah. Baju senada, hijau semua. Rambut dibungkus. Mulut mengenakan masker. Tangan diselimut sarung tangan latex.

Di sekitarnya banyak alat-alat bedah. Ia tak tahu namanya. Yang jelas ada gunting dengan berbagai bentuk dan ukuran. Juga pisau. Kembali, ukurannya beraneka.

Sudah gemetar. Melihat peralatan itu, Rahmat makin ngilu.

“Sabar, mas. Percayakan pada kami. Insyaallah baik-baik saja,” kata Dokter, yang disambut anggukan oleh tim perawat.

Baca Juga:  Kisah Tenaga Pendidik yang Terkena Tumor Sumsum Tulang Belakang

Lepas itu, segalanya buram. Kesadaran Rahmat hilang. Ia tak tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Selang berapa jam pasca operasi usus buntu, sudah ada bekas jahitan di perut Rahmat. Ada rasa nyut-nyutan di sisa jahitan. Tapi terasa jauh lebih baik ketimbang sebelum operasi.

Pengalaman itu menyedihkan. Tapi siapa sangka, itu membuka cakrawala Rahmat untuk membantu orang lain yang mengalami pengalaman serupa dirinya: membantu dokter menolong pasien.

“Waktu operasi itu saya lihat perawat telaten bantu dokter. Perawat juga sabar merawat pasien selama sakit. Saya langsung membatin, saya pengin jadi kayak mereka (Perawat),” kata Rahmat kala berbincang dengan bontangpost.id, Rabu (13/5/2020) sore.

Perjalanan untuk menjadi perawat dimulai dengan mengambil sekolah keperawatan di Samarinda di tahun itu juga, 2014. Selama 3 tahun Rahmat menempuh studi, hingga dinyatakan lulus pada 2017.

“Selama studi ada stigma enggak bagus. Dikataian, karena katanya masa cowok ambil jurusan perawat. Tapi saya enggak peduli. Lanjut terus,” ujarnya sembari berseloroh.

Selang beberapa bulan usai lulus (2017), Rahmat kemudian diterima bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Bontang.

Baca Juga:  Mengenal Tani Muda Santan: Membangun Desa, dari Konsumtif kembali Produktif

Kata Rahmat, jadi perawat itu cukup menantang, namun dia nyaman menjalaninya. Mendampingi dokter ketika bekerja. Merawat pasien dengan rupa-rupa perilaku dan penyakit yang dibawa.

Tak jarang perawat mendapat perlakuan kurang baik dari sejumlah pasien. Ada yang suka bicara kasar atau bernada tinggi. Ada yang tidak mau dengar ketika perawat memberi tahu sesuatu. Ini dilakukan baik oleh pasien atau kerabatnya.

“Tapi tidak masalah. Kami tidak boleh marah, justru harus memaklumi. Intinya kami harus melayani (merawat) pasien sebaik mungkin,” katanya.

Juga, sebagai perawat tak boleh ada rasa jijik. Membersihkan tubuh pasien. Membantu mereka yang tidak bisa buang air kecil atau besar. Membersihkan luka penuh darah. Semua mesti dilakoni dengan sabar, telaten, dan kelembutan.

“Kebutuhan pasien beda-beda. Perilaku mereka juga enggak sama. Jadi kami (Perawat) harus pintar-pintar ketika merawat,” beber pria kelahiran Bontang ini.

Khusus bagi Rahmat dan sejawatnya, ada problem lain, yakni stigma. Jadi perawat laki-laki memang mendapat stigma aneh dari publik.

Ini tak lain karena banyak beranggapan bahwa pekerjaan perawat lebih cocok disandang perempuan. Bukan laki-laki. Padahal, kata Rahmat, menjadi perawat tidak ada hubungannya dengan gender. Siapapun, yang memiliki kapasitas, dan memenuhi persyaratan, dapat jadi perawat.

Baca Juga:  Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi

“Sejak kuliah sudah dianggap aneh. Kok cowok ambil (Jurusan) keperawatan. Padahal jadi perawat enggak ada hubungannya sama gender. Selama kita mampu, ya kita bisa. Kerja profesional,” urainya.

Pria 24 tahun ini menambahkan, menjadi perawat memberikan kebahagiaan tersendiri. Ia tidak menafikan soal finansial yang diperoleh. Namun ada hal lain lebih penting. Menjadi perawat tak ubahnya menjalankan misi religius. Membantu seseorang (pasien) untuk sembuh dari penyakitnya. Melihat senyum mereka ketika pulih. Rasanya, kata Rahmat, sangat luar biasa.

“Kita bekerja dengan ikhlas, dan berharap ridha Allah. Saya meyakini, Allah akan memberi pahala yang setimpal untuk pekerjaan ini,” akunya.

Adapun di tempat Rahmat mengabdi saat ini, RS Pupuk Kaltim, ia masuk dalam tim medis khusus penanganan Covid-19. Dia tak bisa menolak ketika ditunjuk, dan hanya berupaya untuk memberi yang terbaik.

Memang di RS itu belum merawat pasien positif Covid-19. Namun dia telah berikrar, akan memberi yang terbaik, dan bersiap untuk segala kemungkinan. Semua ini demi satu hal: pengabdian yang tulus.

“Saya masuk tim nakes Covid-19 di RS Pupuk Kaltim. Untuk segalanya nanti, saya sudah siap,” tegasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: featureperawatperawat bontangrs pupuk kaltimrspkt
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

10 OTG Dikonfirmasi Negatif Covid-19

Next Post

Razia di Jalan Poros Bontang-Samarinda, 65 Kilogram Sabu Malaysia Gagal Beredar di Kaltim

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Jatuh Cinta di Desa Pela
Feature

Jatuh Cinta di Desa Pela

28 Oktober 2024, 08:18
Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual
Feature

Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual

23 Oktober 2024, 13:05
Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien
Bontang

Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien

30 Oktober 2023, 17:00
Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi
Feature

Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi

1 Mei 2023, 10:00
Feature

Kisah Warga Kaltim yang Menjalani Puasa di Luar Negeri; Nisa (1)

29 Maret 2023, 21:00

Terpopuler

  • Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mini Soccer HOP 1 Bontang Ditutup Mulai Mei, Proyek Lanjutan Rp17,5 Miliar Segera Dikerjakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerindra Kaltim Semprot Rudy Mas’ud usai Bandingkan Diri dengan Hashim Djojohadikusumo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Investasi Bodong Emas Digital di Bontang, Terlapor Mulai Diperiksa Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antrean Truk Solar di SPBU Tanjung Laut Bontang Kian Parah, Usaha Warga Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.