Kisah Inspiratif Warga Bontang: Suyoto (157)
Pendidikan karakter anak didik menjadi perhatian penting bagi Suyoto. Menurutnya, dengan terbangunnya karakter positif seperti disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri, prestasi akan datang mengikutinya. Terbukti, dia berhasil membawa anak didik, guru, dan sekolah yang dipimpinnya mencetak prestasi yang membanggakan hingga tingkat nasional.
LUKMAN MAULANA, Bontang
Suyoto sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Cita-cita waktu kecil ingin menjadi seorang dokter. Namun ketiadaan biaya membuatnya “banting setir” dengan menuntut ilmu kependidikan di Univesitas Sebelas Maret Surakarta. Pendidikan Biologi dipilihnya karena terinspirasi dari sang guru saat dia duduk di bangku SMA di kampung halamannya, Boyolali.
“Saya terinspirasi dari guru biologi saya waktu itu. Beliau orangnya energik dan pintar dalam memotivasi siswa. Cara mengajarnya juga menyenangkan. Saya ingin menjadi seperti beliau,” kenang Suyoto saat ditemui Bontang Post di ruangannya, Senin (6/2) kemarin.
Setelah selesai menempuh pendidikan diploma 3 tahun 1989, Suyoto mengikuti seleksi penerimaan guru sekolah Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) Bontang yang digelar di Jakarta. Dia lulus dalam seleksi tersebut dan hijrah ke Bontang. Namun dia terkejut saat ditunjuk sebagai guru IPA di SD YPK. Karena bayangannya dulu, dia ingin mengajar di tingkat SMP atau SMA.
“Ketika praktik dulu saya mengajar di SMA. Saya inginnya memang mengajar SMA. Makanya ketika ditunjuk mengajar di SD, saya sempat kaget. Karena idealisme saya berbeda dengan realitas di lapangan,” ungkapnya.
Akibatnya, Suyoto sempat kesulitan saat awal-awal mengajar sebagai guru SD. Berbeda dengan SMP atau SMA, mengajar karakter siswa SD kala itu dia rasakan lebih sulit. Dalam hal ini dia tidak bisa langsung memasukkan materi-materi pelajaran begitu saja kepada anak-anak didiknya. Karena memang karakter siswa SD berbeda dengan siswa SMP atau SMA. Untuk itu dia lantas belajar dari guru-guru senior tentang bagaimana cara mengajar siswa SD dengan baik dan benar.
“Perlahan saya mulai menyesuaikan dengan sistem pembelajaran di SD. Semakin lama saya semakin tahu bagaimana mengajar dengan tepat. Sekarang saya malah senang mengajar di SD. Buat saya, anak-anak jadi hiburan sendiri. Karena tingkah mereka yang beragam, masih lugu dan polos,” sebut Suyoto.
Dalam mengajar, Suyoto terlebih dulu membuat komitmen dengan anak-anak didiknya. Dalam hal ini, siswanya mesti mengenal bagaimana karakter dia sebagai seorang guru. Misalnya komitmen untuk menyelesaikan tugas pada waktunya yang bila tidak dijalankan, nilai siswa akan dikurangi. Dia juga memiliki batasan-batasan waktu misalnya kapan saat siswa harus mendengarkan, kapan saat mereka bertanya, dan kapan saat untuk bercanda.
“Harus diselipkan humor-humor sehingga anak-anak tidak menjadi bosan. Tentunya sesuai porsi dan terarah. Karena anak-anak tidak bisa kalau hanya diberi materi pelajaran terus-menerus. Intinya bagaimana membuat anak-anak nyaman dalam belajar sehingga senang dengan pelajaran yang diberikan. Mereka pun jadi mudah diatur,” jelasnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan strata 1 tahun 1999, Suyoto diangkat menjadi wakil kepala sekolah SD-1 YPK di tahun 2000. Tiga tahun kemudian di tahun 2003, dia dipercaya memegang amanah kepala sekolah SD-1 YPK. Di tahun 2008, dia dipindah menjadi kepala sekolah SD-2 YPK yang masih diembannya hingga sekarang.
Sebagai kepala sekolah, sudah menjadi tugasnya dalam memberdayakan semua potensi yang ada untuk memajukan sekolah. Meliputi para siswa, guru, dan karyawan SD-2 YPK. Menurut Suyoto, kuncinya adalah menjalin komunikasi dengan baik. Terbukti, dengan tangan dinginnya banyak prestasi yang diraih SD-2 YPK. Bukan hanya prestasi siswa, namun juga guru dan sekolah itu sendiri. Termasuk Suyoto yang terpilih menjadi juara 2 kepala sekolah SD berprestasi tingkat nasional tahun 2013 dari Kemendikbud.
“Saya tidak menyangka bisa terpilih sebagai juara 2 tingkat nasional. Karena memang awalnya sekadar ikut. Saya siapkan portofolio, karya tulis, dan presentasi sebagaimana yang disyaratkan. Saat itu saya sudah jadi yang terbaik tingkat Kaltim, jadi saya pikir sudah cukup. Ternyata malah jadi juara,” urai pria kelahiran Boyolali lima dekade lalu ini.
Berhasil menjadi kepala sekolah berprestasi tingkat nasional merupakan hal paling berkesan bagi Suyoto. Apalagi sebagai hadiah atas prestasi tersebut, Suyoto diganjar kursus pengelolaan sekolah ke Jinhua Polytechnic, Tiongkok. Menurutnya, keberhasilan menjadi kepala sekolah berprestasi tak lepas dari pengalaman langsung di lapangan. Termasuk penerapan materi-materi pelatihan yang pernah diikutinya.
“Dalam lomba ini yang dinilai adalah kinerja kepala sekolah dan prestasi-prestasi sekolah. Di antaranya prestasi siswa, guru, dan sekolah itu sendiri. Dengan menjadi kepala sekolah berprestasi saya bisa bertemu dengan teman-teman baru yang luar biasa, yaitu para kepala sekolah berprestasi lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Sangat menyenangkan bisa saling bertukar pikiran dengan mereka,” tambahnya.
Memang selama Suyoto memimpin, banyak prestasi yang diraih SD-2 YPK. Yang terbaru di tahun 2016, SD-2 YPK berhasil meraih menjadi juara 1 sekolah sehat tingkat provinsi. Di tahun yang sama, SD-2 YPK mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional. Sementara di tingkat nasional, sekolah yang berdiri sejak 1991 ini pernah mencatat juara harapan 1 lomba drum band tingkat nasional tahun 2010, serta juara 2 lomba perpustakaan tingkat nasional tahun 2014.
Sedangkan prestasi terbaru yang diraih siswa SD-2 YPK yaitu mendapatkan medali perunggu olimpiade sains di Palembang tahun 2016. Di tahun yang sama, salah seorang siswa berhadil meraih nilai sempurna dalam ujian sekolah, di mana dari tiga mata pelajaran yang diujikan, semuanya sukses mendapatkan nilai 100.
“Keberhasilan sekolah ini tidak terlepas dari peran komite sekolah dan juga orangtua siswa. Karena tidak mungkin sekolah bisa berjalan sendiri tanpa dukungan keduanya. Karenanya penting bagi kami untuk bagaimana bisa memberdayakan komite sekolah dan orangtua siswa. Intinya komunikasi harus terjalin baik,” urai Suyoto.
Dalam memimpin sekolah, Suyoto sebenarnya tidak terlalu berfokus pada penciptaan prestasi. Melainkan dia lebih mendahulukan pendidikan karakter kepada para siswa. Karakter-karakter yang menurutnya perlu tertanam dalam diri setiap anak didiknya di antaranya yaitu disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri. Menurutnya, bila karakter-karakter tersebut telah ada dalam diri siswa, maka prestasi akan mengikuti dengan sendirinya.
“Pendidikan karakter disiplin misalnya, dengan penekanan tiba di sekolah sebelum pukukl 07.00 Wita. Bila lewat jam itu artinya sudah terlambat. Disiplin lainnya yaitu mengumpulkan tugas tepat waktu, disertai tanggung jawab dengan tugas yang diberikan,” jelas pria berkacamata ini.
Selain di sekolah, pendidikan karakter juga dilakukan melalui kunjungan ke luar negeri. Yaitu kunjungan ke Boon Lay Garden Primary School, Singapura yang sudah menjalin kerja sama dengan SD-2 YPK. Tujuan kunjungan ini di antaranya saling bertukar budaya antar negara masing-masing. Budaya-budaya positif dalam kunjungan ini lantas dijadikan bahan pembelajaran yang diharapkan menular pada diri setiap siswa.
“Salah satunya budaya antre yang begitu baik diterapkan di sana. Selain itu juga menjadi sarana belajar bahasa Inggris mengingat Singapura merupakan negara yang dalam kesehariannya menggunakan bahasa Inggris. Siswa-siswi kami bukan sekadar melihat, tapi juga ikut merasakan pembelajaran di sekolah tersebut,” tuturnya.
Sebagai kepala sekolah, Suyoto mengaku tidak terlalu menyukai pekerjaan di dalam kantor yang membuatnya duduk dalam waktu yang lama. Makanya dia sering berkeliling sekolah dan mengunjungi ruang guru. Waktu senggang di sekolah dimanfaatkannya untuk berbincang dengan para guru, termasuk membicarakan tantangan-tantangan yang dihadapi sekolah.
“Bagi sekolah swasta, tantangan-tantangan itu akan selalu ada. Tantangan ini harus disikapi sebagai bagian untuk menjadi lebih maju. Sesuai dengan prinsip saya, di manapun saya ditempatkan, saya akan bekerja sebaik mungkin,” tegas sulung dari tiga bersaudara ini. (bersambung)
Nama: Suyoto, M.Pd
TTL: Boyolali, 21 April 1966
Istri: Eni Jumiati, S.Pd
Anak:
Baruna Sakti Wicaksono Bonanza
Farhan Panji Widagdo Respati
Nibras Pratita Danastri
Pendidikan:
SDN 1 Tarubatang (lulus 1980)
SMP Muhammadiyah 3 Ampel (lulus 1983)
SMAN 1 Boyolali (lulus 1986)
D3 Universitas Sebelas Maret (lulus 1989)
S1 Universitas Mulawarman (lulus 1999)
S2 Universitas Mulawarman (lulus 2011)
Alamat: Jalan Jeruk Nomor 10 BTN PKT






