• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Gema Mendunia

by M Zulfikar Akbar
20 Februari 2019, 10:27
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang. (Rakyat Kalbar)

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang. (Rakyat Kalbar)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya melongok ke luar jendela. Dari kamar saya di lantai 9. Di Swissbel Inn Singkawang yang masih baru. Terlihat kelenteng besar di seberang jalan.

Terlihat juga gunung Poteng di belakangnya. Gunung itu diberi nama Poteng karena bentuknya yang seperti ujung payudara wanita. Kata orang sana.

Pukul 6 pagi saya turun ke lobi. Untuk memulai perjalanan keliling kota Singkawang. Mengamati detail-detailnya.

Saya ingin tahu: ada perubahan apa. Setelah lebih setahun Tjhai  Chui Mie menjadi walikota. Yang begitu luas menjadi pembicaraan di mana-mana.

Tidak hanya Tionghoa tapi juga wanita.

Waktu sepagi itu suara genderang sudah mulai terdengar.

Dung-dung-ceng… Dung-dung-ceng…

Di kelenteng pusat kota. Kelenteng tertua yang di simpang tiga.

Begitulah suasana sehari sebelum puncak Cap Go Meh. Yang jatuh pada hari Selasa kemarin.

Singkawang kembali menjadi pusat perhatian. Begitu besar nama Singkawang.

Semua itu dimulai Minggu malam: karnaval  lampion. Dilanjutkan Senin sore: upacara buka mata naga.
Pun sejak Sabtu lalu kesibukan sudah terlihat di semua klentengnya. Di halamannya.

Mereka membuat kendaraan hias. Atau tandu berbunga. Mereka bergotong-royong membuatnya. Tidak ada yang dikerjakan kontraktor.

Baca Juga:  Semua Anak Panah Gibran

Singkawang memang mendapat gelar ‘kota seribu klenteng’. Seperti Lombok bergelar ‘seribu masjid’. Dan Manado ‘seribu gereja’.

Pada puncak perayaan Cap Go Meh itu semua klenteng mengeluarkan dewa andalan mereka. Berupa patung. Yang selama itu ditempatkan di altar puja. Di sembahyangi. Dipuja.
Dewa-dewa itu dinaikkan kendaraan hias. Atau tandu bersolek.

Dewa itu dipikul beramai-ramai. Dengan gaya pikulan masing-masing. Ada yang sambil menari. Sambil jingkrak. Sambil muter-muter. Dengan iringan dung-dung-ceng.

Di belakang setiap dewa. Diiringi pula liong. Dan barongsai.

Dewa dari satu kelenteng bisa diarak oleh tim yang beranggotakan 20 orang. Bayangkan riuhnya. Dan panjangnya. Apalagi ada satu klenteng yang mengeluarkan dua dewa. Atau tiga. Dengan tim yang lebih besar. Dengan iringan yang lebih panjang. Dengan tetabuhan yang lebih meriah. Dengan kostum pakaian yang lebih beragam.

Betapa gemuruhnya kalau seribu klenteng turun ke jalan bersama. Tumplek blek. Ke pusat kota Singkawang. Lalu keliling kota. Bermuara di stadion. Dengan atraksi tambahan yang sangat khusus: tatung. Yang tusuk-tusuk wajah itu. Yang ngeri-ngeri-ngilu itu. Yang hanya ada di Singkawang. Di panggung khusus yang dijaga ‘dua singa’ raksasa.

Baca Juga:  Rendang Unta William Wongso

Itu tidak hanya di Singkawang.
Di Bogor juga ada karnaval Cap Go Meh. Saya sesekali menghadirinya. Hanya saja Cap Go Meh Bogor tahun ini diganti dengan Street Festival. Tidak ada dewa yang diarak ke jalan.

Di Manado juga seru. Hanya saja tidak tiap tahun.

Bergantung pada apa kata petinggi klenteng. Suhu klenteng sendiri bergantung pada ‘apa kata langit’.

Biasanya seperti ini: dua hari sebelum Cap Go Meh ada pengumuman. Ditempel di klenteng. Misalnya: “Dewa tidak keluar. Berarti tidak ada perayaan Cap Go Meh tahun ini.”

Atau sebaliknya: “Tahun ini dewa berkenan keluar. Berarti ada perayaan Cap Go Meh”.

Bagaimana dengan tahun ini? Keluarkah dewanya?

Ternyata keluar. Karena itu perayaan Cap Go Meh kemarin meriah sekali di Manado.

Tapi bintangnya memang tetap Singkawang. Cap Go Meh Singkawanglah yang mendunia.

Nama Singkawang ibarat tong yang sangat besar. Dengan suara yang sangat nyaring.

Adakah tong itu sudah terlalu besar untuk tubuh Singkawang yang nyata? Adakah bunyi itu terlalu nyaring untuk telinga Singkawang yang asli?

Baca Juga:  Jalan Ikhlas untuk Pejuang Panjang

Itulah beban yang ada di gendongan Tjhai Chui Mie. Wali Kota Singkawang saat ini.

Tugasnya sangat berat. Untuk membuat kota Singkawang sebagus dan secantik nama besarnya.

Jangan seperti sekarang. Nama besarnya tidak imbang dengan realitasnya.

Saya bayangkan ‘beban’ wali kota baru itu begitu besarnya. Masih terlalu banyak yang harus dibenahi di Singkawang.

Boleh dikata Singkawang hari ini belum banyak berubah dari saat saya ke sana lima tahun lalu.

Parit-paritnya masih sama: terlalu kecil, kotor dan tak terawat. Pun nyaris belum ada  trotoar di kota ini. Kalau pun ada sama sekali tidak terurus. Sampah juga di mana-mana. Puntung rokok berserakan. Pusat kotanya semrawut.
Kaki limanya perlu diperhatikan.

Intinya: seperti belum ada ‘tata kota’ di Singkawang.

Untunglah turis tidak akan melihat semua itu. Tertutup oleh keramaian Cap Go Meh.
Terlena oleh gegap-gempitanya.

Tak terasa sudah setahun lebih Tjhai Chui Mie jadi wali kota. Tinggal empat tahun lagi. Semoga sempat berbenah. Mengisi tong yang begitu besar. Agar suara nyaringnya semerdu gemanya. (Dahlan Iskan)

Tags: dahlan iskandis way
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Menilik Konsesi Lahan Milik Prabowo di Kaltim

Next Post

Kadar Amonia di Bawah Baku Mutu

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.