Berbagai macam cara dilakukan pihak kelompok panitia pemilihan suara (KPPS) untuk menarik minat masyarakat menggunakan hak suaranya. Dari berkostum nyeleneh, pakaian adat, hingga menggunakan seragam bola. Salah satunya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) Kelurahan Sidodadi. Untuk menarik hati masyarakat datang mencoblos, mereka menggunakan konsep TPS bernuansa pesta pernikahan adat jawa dan juga membagikan makanan.
DEVI NILA SARI, Samarinda
ADA yang berbeda ketika saya melewati salah satu jalan di Kota Samarinda ini. Alunan musik jawa yang khas mulai terdengar samar-samar dari kejauhan. Bukannya ada yang sedang menggelar pesta pernikahan, namun alunan musik jawa ini berasal dari salah satu TPS di Jalan Wiratama.
Ya, untuk menarik minat masyarakat datang ke TPS, KPPS di kelurahan ini memang kerap menggunakan konsep tertentu agar warga tertarik datang mencoblos. Hal ini diungkapkan Ketua PPS 3 RT 4 Kelurahan Sidodadi, Aris Susilo, Rabu (27/6) kemarin.
“Tiap pemilu, kami memang selalu membuat konsep yang menarik perhatian masyarakat, agar banyak yang datang memcoblos,” ungkap dia, saat disambangi awak media disela-sela kegiatannya menanti warga yang datang mencoblos.
Kebetulan untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 ini mereka menggunakan konsep mantenan dengan menggunakan Penadon yang merupakan pakaian adat Jawa Timur. Sehingga, wajar acara pemilu kali ini berlangsung seolah adanya pesta pernikahan.
“Kami melakukan konsep seperti ini dengan harapan tidak banyak yang golput. Dengan rasa keingintahuan akan TPS ini, diharap banyak yang datang ke sini,” ujarnya.
Ia menuturkan, membuat konsep menarik seperti ini memang selalu dilakoni pihaknya sejak 2014 lalu. Hal ini berawal ketika pada masa itu, partisipasi politik masyarakat hanya di kisaran angka 40 persen. Rendahnya angka partisipasi politik tersebut membuat KPPS di daerah itu berinisiatif membuat konsep tertentu untuk menarik minat masyarakat. “Alhamdulillah dengan konsep seperti ini, partisipasi masyarakat meningkat,” ungkapnya.
Karena, selain mengenakan pakaian adat, mereka juga membagikan makanan gratis. Jadi, setiap warga yang telah menggunakan hak suaranya akan diberi makanan gratis. Tak lupa, ketua KPPS juga terus memanggil dan mengingatkan warga untuk menggunakan hak pilihnya melalui pengeras suara.
Dan diakui Aris, hal ini berhasil. Pukul 11.00 Wita, sekira 70 persen warga telah menggunakan hak pilihnya dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 360 orang. “Kami menyiapkan konsumsi sekira 200 bungkus, dan itu habis. Saya tidak menyangka akan antusias warga,” tutur dia.
Selain membagikan makanan, setiap warga yang selesai mencoblos pun dibagikan bubur kacang ijo. Suasana di TPS ini terlihat santai namun tetap menjaga etos kerja sebagai petugas PPS. Terlihat mereka duduk sambil memakan camilan yang sudah tersedia.
Dipilihnya konsep pernikahan dalam pemilu kali ini, diungkapkan Aris, karena mereka menganggap paslon adalah sebagai pasangan pengantin. Oleh karena itu, suatu kewajiban bagi warga untuk datang dan mencoblos salah satu pasangan yang dijagokan.
Mengenai pembiayaan dekorasi dan kostum yang digunakan, dia mengatakan, semua itu merupakan hasil pinjaman dari warga. Karena notabene warga di RT tersebut adalah orang jawa, maka banyak dari mereka yang merupakan pemain jaranan. Kostum yang digunakan merupakan pinjaman dari pemain jaranan setempat. Begitupun dengan tenda dan pengeras suara. Semua merupakan pinjaman dari warga. Hal ini menunjukkan tingginya sumbangsih masyarakat setempat demi kelancaran Pilgub Kaltim ini.
Aris pun berpesan, kepada siapa pun pemimpin Kaltim tepilih. Agar dapat menjadikan Kaltim yang lebih sejahtera. Selain itu, juga menjaga keamanan agar selalu menjaga kondusif. “Dan masyarakat jangan dilupakan,” pungkas dia. (***)








