Pasangan Isran Noor dan Hadi Mulyadi kini tinggal selangkah lagi menapakkan kaki sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim 2018. Bagaimana tidak, dari beberapa lembaga survei yang telah merilis hasil quick count, nama keduanya yang paling diunggulkan.
Menyikapi itu, kepada awak media, Isran mengaku dirinya dan Hadi Mulyadi tak akan pernah ingkar janji jika nanti sudah dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim. Terutama yang berkaitan dengan janji politik yang telah diucapkan dan dicanangkan keduanya.
“Walaupun sifatnya masih sementara, tapi saya yakin nomor 3 tetap menang. Dan saya bersama Pak Hadi mengucapkan terima kasih kepada masyarakat, semua pendukung dan relawan yang telah memperjuangkan kami,” ucapnya, Rabu (27/6) kemarin.
Isran berujar, modal dirinya dan Hadi Mulyadi selama menjalani masa kampanye pilgub adalah dengan bersikap tenang. Karena ia memandang jika terlalu bersikap terang-terangan malah akan menguntungkan pihak lawan. Dengan demikian, tim lawan jadi bisa memperhitungkan pergerakannya. “Justru yang tenang itu berbahaya,” ucapnya.
Disinggung mengenai kebijakan pertama apa yang akan ia prioritaskan dalam seratus hari masa kerja jika sudah dilantik Gubernur Kaltim, Isran justru berujar, bahwa yang namanya kebijakan seratus hari kerja adalah omong kosong. “Semua orang yang mengatakan program kerja selama seratus hari tidak pernah saya lihat hasilnya,” kata dia.
Mantan Bupati Kutim ini memandang, bahwa dalam masa kerja seratus hari itu belum bisa dijadikan patokan melihat keberhasilan suatu kebijakan. Menurut dia, yang seharusnya menjadi prioritas saat ini adalah program-program yang menyentuh hati orang banyak, seperti masalah kemiskinan.
Karena, sepengetahuannya, untuk saat ini data orang miskin di Kaltim mengalami peningkatan. “Data orang miskin di Kaltim meningkat. Padahal lingkungannya diberikan kekayaan alam yang luar biasa,” sebutnya.
Isran bahkan mempertanyakan kemana larinya semua hasil kekayaan alam di Kaltim. Apalagi Kaltim adalah salah satu provinsi penghasil batu bara terbesar di Indonesia. “Bayangkan kontribusi PDRB yang kita setor di Jakarta lebih dari Rp 500 triliun ke atas. Kembalinya hanya Rp 84 triliun. Artinya, masyarakat tidak memiliki daya apa-apa terhadap lingkungannya,” ungkapnya.
Bila saatnya telah dilantik, Isran ingin Kaltim memperjuangkan setiap hak yang menjadi milik daerah. Sehingga ke depan Kaltim menjadi provinsi yang maju dan berdaulat. (*/dev/drh)







