• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Hikmah

HAMIL DAN PUASA

by BontangPost
3 Juni 2017, 12:50
in Hikmah
Reading Time: 4 mins read
0
dr. Fakhruzzabadi, SpOG, MKes

dr. Fakhruzzabadi, SpOG, MKes

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : dr. Fakhruzzabadi, SpOG, MKes

Sebagai muslim yang taat, berpuasa merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Namun terdapat beberapa kelompok yang diberikan keringanan untuk tidak melaksanakan puasa, termasuk ibu hamil dan menyusui. Ibu hamil maupun menyusui diperbolehkan meninggalkan puasa di bulan Ramadan dan wajib menggantinya di hari lain disertai membayar fidyah maupun tidak.

Sebenarnya hamil maupun menyusui bukanlah halangan untuk melaksanakan puasa. Berpuasa atau tidak tergantung dari kondisi kesehatan ibu hamil itu sendiri. Selama kondisi kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya setelah dilakukan pemeriksaan dinyatakan sehat, maka ibu hamil diperbolehkan untuk berpuasa dengan syarat ibu hamil tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi baik bagi dirinya maupun janin yang dikandungnya.

Pemenuhan nutrisi ini minimal sama dengan kondisi ketika tidak berpuasa, akan tetapi pemenuhan nutrisi ini dipindah waktunya saat sahur dan berbuka puasa serta antara waktu berbuka puasa dan sahur. Artinya, ibu hamil atau menyusui boleh meninggalkan puasa Ramadan, tetapi bukan berarti dilarang melakukan puasa.

Menjalankan puasa saat hamil justru dapat mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang berlebihan. Bagi ibu hamil dan janin, makanan yang berlebihan gizi belum tentu baik untuk kesehatan. Karena overnutrisi dapat mengakibatkan kegemukan bagi ibu dan janin yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kencing manis, kolesterol, penyakit jantung, preeklamsia dan lain-lain.

Pada kehamilan sehat, puasa tidak menimbulkan dampak negatif pada janin maupun pada ibu hamil. Sehat yang dimaksud secara medis adalah calon ibu tidak mengalami keluhan selama hamil dan tidak mengalami komplikasi dari penyakit yang diderita.

Baca Juga:  Merokok Bikin Kekasih Cacat

Ada beberapa keadaan saat hamil yang sebaiknya berhati-hati bila ingin berpuasa.

Kehamilan Trimester 1

Pada Kehamilan muda seringkali menjadi penghalang ibu untuk berpuasa. Umumnya ada asumsi bahwa janin masih sangat muda dan lemah, sehingga kebanyakan memutuskan tidak berpuasa. Padahal bila kondisi ibu baik, puasa tetap bisa dilakukan. Memang pada kehamilan trimester awal ini kebanyakan ibu mengeluh mual dan muntah berlebihan akibat pengaruh fluktuasi hormon. Apabila ibu hamil mengalami muntah berlebihan dan kondisi tubuh menjadi lemah, keinginan berpuasa sebaiknya ditunda.

Terdapat penyakit yang menyertai kehamilan, seperti Diabetes (kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), perdarahan, dll. Wanita hamil yang mengalami masalah tersebut sebaiknya tidak berpuasa, karena tentunya harus menjalani pengobatan secara teratur, dan juga harus mematuhi program makan yang telah disarankan dokter.

Kehamilan Trimester 3

Pada periode ini, janin membutuhkan asupan makanan lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Ibu hamil harus benar-benar memperhatikan peningkatan berat badan dan asupan makan yang dikonsumsi. Peningkatan berat badan harus meningkat sesuai perkembangan usia kehamilannya. Jika tidak diperhatikan,  biasanya ibu yang hamil tua akan lebih cepat lemas dan letih, dan kondisi janin bisa berisiko fatal di dalam kandungan. Bila keadaan ibu dan janin baik, di usia kehamilan berapapun puasa tidak masalah.

Bagi ibu hamil yang memutuskan untuk melaksanakan puasa, ada beberapa hal yang harus diperhatikan: 

  1. Berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter untuk memastikan resiko puasa pada kehamilannya. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan dan penilaian kondisi ibu dan janin, apakah layak berpuasa atau tidak.
  2. Perhatikan kecukupan gizi dan nutrisi saat sahur dan berbuka puasa. Usahakan minum banyak untuk mencegah dehidrasi. Makan sahur sebaiknya sedekat mungkin dengan waktu imsak. Saat berbuka puasa, awali dengan minuman hangat dan manis untuk meningkatkan kadar gula darah. Kemudian dapat melanjutkan dengan menyantap makanan yang mengandung karbohidrat yang lebih mudah diserap tubuh, seperti kolak atau  kurma. Setelah salat magrib atau tarawih barulah makan dengan porsi yang lebih besar.
  3. Konsumsi suplemen vitamin penting yang diperlukan saat kehamilan, diantaranya yang mengandung asam folat, zat besi dan kalsium. Komponen penting ini juga bisa didapatkan dari makanan. Asam folat diperoleh dari kacang-kacangan, zat besi didapatkan dari sayuran, sementara sumber kalsium bisa didapatkan dari susu dan ikan
  4. Istirahat dengan cukup dan beraktivitas dengan bijak sesuai kondisi tubuh. Usahakan meluangkan waktu istirahat lebih lama dari biasanya.
Baca Juga:  Fokus COP23: Tekan Jumlah Emisi Berarti Menekan Gas Rumah Kaca

5.Perhatikan kenaikan berat badan.  Jika selama puasa berat badan justru menurun, maka ibu hamil perlu memperbaiki menu makanan ketika sahur dan berbuka.

  1. Periksa kehamilan sesuai jadwal. Bila ibu merasa ada perubahan yang berbeda seperti penurunan bobot tubuh, atau bila gerakan bayi dalam kandungan tidak se-aktif biasanya, segera konsultasikan dengan dokter atau bidan. Dokter mungkin akan menyarankan untuk menghentikan puasa atau memperbaiki konsumsi makanan, sampai kondisi kembali prima untuk berpuasa.
  2. Segera batalkan puasa bila terdapat kondisi muntah berlebihan, diare,lemah, pusing dan keringat berlebih yang menandakan terjadi hipoglikemi pada ibu. Bila janin di dalam kandungan tidak seaktif biasanya atau malah tidak bergerak sama sekali, segera batalkan puasa dan periksakan kehamilan ke bidan atau dokter
Baca Juga:  Menjaga Aqidah di Penghujung Tahun

Demikian pula halnya bagi ibu menyusui yang ingin melaksanakan puasa. Ibu menyusui yang dalam kondisi sehat, komposisi ASI nya tidak akan berubah atau berkurang kualitasnya dibandingkan saat tidak berpuasa.

Mengapa? Karena secara otomatis tubuh akan melakukan mekanisme kompensasi dengan mengambil cadangan zat-zat gizi, yaitu energi, lemak dan protein serta vitamin dan mineral, dari simpanan tubuh. Setelah ibu berbuka, tubuh akan mengganti cadangan zat-zat gizi tersebut, sehingga ibu tidak akan kekurangan zat gizi. Komposisi ASI baru akan berkurang pada ibu yang menderita kurang gizi, sebab tidak ada lagi cadangan zat gizi yang dapat memasok kebutuhan produksi ASI yang lengkap.

Namun, pada ibu yang baru saja melahirkan dan memberikan ASI eksklusif pada bayinya, dianjurkan untuk menunda berpuasa dulu. Sebab pada masa menyusui eksklusif, ASI adalah satu-satunya asupan cairan dan gizi bagi bayi.

Pada masa ini, metabolisme tubuh ibu bekerja dengan giat untuk terus menerus memproduksi ASI dengan komposisi yang lengkap. Karena Agama Islam pun memberi keringanan bagi para ibu menyusui untuk tidak berpuasa selama Ramadan. Akan tetapi bila ibu yakin dengan kondisi kesehatannya dan produksi ASI tetap baik, maka diperbolehkan melaksanakan puasa. (***)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: catatankesehatan puasa
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Pinanggih Joko Utoro (272); Dari Pengurus Dapur hingga Jadi Kepala Koki Hotel Berbintang

Next Post

Ingin Traktir Cewek, Pemuda Ini Nekat Mencuri

Related Posts

Maafkanlah Gubernur
Opini

Maafkanlah Gubernur

13 April 2026, 18:21
Kotak Kosong, Pesta para Oligarki
Opini

Kotak Kosong, Pesta para Oligarki

21 Juli 2024, 13:20
Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar
Opini

Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar

21 Juli 2024, 12:19
Merokok Bikin Kekasih Cacat
Catatan

Merokok Bikin Kekasih Cacat

16 Desember 2023, 11:27
Kursi vs Nurani
Opini

Kursi vs Nurani

3 Juni 2023, 13:08
Milenial dan Optimisme di Tengah Pandemi
Opini

Milenial dan Optimisme di Tengah Pandemi

30 Agustus 2020, 09:16

Terpopuler

  • Sekolah Swasta Bontang Tolak Penambahan Kelas di SMA 1 dan 2, Guru Terancam Menganggur

    Sekolah Swasta Bontang Tolak Penambahan Kelas di SMA 1 dan 2, Guru Terancam Menganggur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Ringkus Perempuan di Jalan Parikesit Bontang, Sabu Disembunyikan dalam Dompet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UPTD PPA Dampingi Korban Asusila di Bontang Utara, Fokus Pemulihan Psikologis Anak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.