BONTANGPOST.ID, Paser – Hauling batu baru di jalan umum menjadi pemandangan yang biasa ditemui, terutama di jalan poros Kaltim.
Namun, praktik itu minim tindakan sehingga meresahkan pengguna jalan lain. Bahkan hingga menelan korban jiwa, seperti yang terjadi di Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser.
Dari kejadian tersebut, seorang pengemudi roda mengalami kecelakaan tragis, korbannya Pronika pada akhir Oktober lalu.
Ditambah kejadian “penyerangan” terhadap dua warga di Muara Kate, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser. Hal itu diduga erat kaitannya dengan masalah aktivitas batu bara.
Dikonfirmasi terpisah, Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan surat kepada pihak-pihak terkait.
“Kami sedang siapkan surat untuk Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub),” ujar Akmal.
Namun, ia tak memerinci perihal surat yang akan dikirimkan ke dua kementerian di pusat itu saat ditanya melalui pesan WhatsApp.
Untuk diketahui, aksi hauling batu bara yang kerap menggunakan jalan umum itu, statusnya jalan nasional atau negara, sehingga bentuk pengawasannya langsung di bawah kendali kementerian.
Pun dengan yang terjadi Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser. Pengangkutan batu bara tersebut menggunakan jalan nasional.
Sementara itu, tragedi tragis di Muara Komam yang menewaskan seorang warga, Rusel (60), dan satu warga lainnya masih dalam keadaan kritis, yakni Ansouka alias Anson (55). Diduga kuat terkait upaya masyarakat setempat melarang angkutan batu bara melintas.
Berbagai informasi bermunculan di media sosial (medsos), termasuk adanya dugaan keterlibatan oknum aparatur masyarakat di Muara Komam.
Dugaan keterlibatan oknum mengarah kepada kepala desa dan lurah, yang disinyalir ikut “mengkondisikan” dalam memfasilitasi hauling truk batu bara melintasi kawasan tersebut.
Pasalnya, dari potongan video berdurasi 1 menit yang menyebar di medsos, ada penyampaian yang melarang hauling adalah pihak luar. “Pernyataan tidak boleh hauling itu karena ada pihak luar yang datang. Jadi kalau untuk warga Desa Langon masih kondusif,” ucap seorang di video itu.
Pria tersebut meminta kepada pihak yang akan hauling bersabar. “Kedua pihak di sana menginginkan kekompakan dari pada semua pekerja yang ada di lintasan Desa Muara Langon sampai Muara Kuaro,” ujarnya.
“Jadi yang ada disepakati, supaya bisa duduk bareng di sana. Di sana tidak minta nominal, tapi komitmen jam keberangkatan PS (dump truk bermuatan batu bara),” lanjutnya dalam gambar bergerak itu.
Dari penuturan salah satu informasi yang identitasnya tak ingin dibeberkan membenarkan pernyataan itu. “Pertemuan itu terjadi sebelum kejadian penyerangan,” tutur sumber yang enggan dikorankan.
Pertemuan itu dikatakan terjadi karena dari pihak perusahaan dan sekelompok orang hendak demo tandingan. “Setelah pertemuan itu lurah dan kades menemui warga (Muara Kate) dan meminta supaya hauling bisa berjalan lagi,” imbuhnya.
“Sekitar Senin atau Selasa (pekan lalu). Meminta bisa hauling lagi. Warga bingung ketika itu karena yang mengeluarkan larangan kan Pj Bupati,” ucapnya. (*)






