DI tengah hiruk-pikuk warga melihat truk terguling di Jalan Otto Iskandardinata, sebuah insiden lain terjadi. Muhammad Riski (22), jurnalis televisi lokal, jadi korban kekerasan lima orang oknum anggota organisasi masyarakat (ormas) saat dia mengambil momen kecelakaan tersebut. Atas kejadian tersebut, dia pun melaporkan diri ke Polsekta Samarinda Ilir.
Dalam keterangannya ke kepolisian, Riski mulai mengeluarkan kamera dari dalam tas untuk mengambil gambar truk yang terguling. Saat kamera mulai menyorot ke truk, lima orang tersebut menghampirinya. “Mereka bilang jangan ambil gambar,” cerita Riski.
Dia pun mempertanyakan alasan larangan tersebut. Bukannya mendapat jawaban, kamera milik warga Jalan Pangeran Suryanata, Kecamatan Samarinda Ulu itu malah dirampas. Lima orang itu memeriksa konten video yang sudah dia rekam.
Saat hendak meninggalkan lokasi, dia malah kembali mendapat perlakuan tak semestinya. Dia sempat didorong pada bagian perut dan mendapat tarikan di bajunya. “Saya belum sempat mengambil gambar, tapi sudah ada tindakan kekerasan,” imbuh pria berbadan gempal tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Suriyatman, ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kaltim menyayangkan tindakan orang yang menghalang-halangi kerja wartawan. Pasalnya, semua sudah diatur dalam undang-undang. “Sebenarnya ada apa dengan lokasi dan truk yang hendak diliput hingga dihalang-halangi?” Dia pun menyerahkan ke kepolisian untuk segera mengusut kasus tersebut.
Kanit Reskrim Polsekta Samarinda Ilir Ipda Purwanto menuturkan, pihaknya bakal bekerja untuk bisa mengusut laporan Riski. “Laporannya sudah diterima, dan secepatnya kami tindaklanjuti,” tegas Purwanto. (*/dra/ndy)







