Dalam era globalisasi, sudah bukan zamannya lagi bertumpu pada sektor industri untuk memajukan pendapatan di daerah-daerah. Sudah saatnya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyoroti peluang baru dalam dunia usaha.
———————
Pasalnya, di zaman modern ini masyarakat dituntut untuk semakin kreatif. Agar mampu bertahan dalam kerasnya persaingan dalam dunia usaha sehingga agar tak ketinggalan dan tergerus zaman. Salah satunya melalui pengembangan ekonomi kreatif. Namun nyatanya, peran ekonomi kreatif masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.
Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian dalam Workshop Penyiapan Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif di Ballroom Swiss Bell Hotel Jalan Mulawarman, Sabtu (1/8) kemarin. Ia memandang, Kaltim sejatinya merupakan daerah yang kaya dan memiliki potensi untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Namun, hal ini tidak didukung pengadaan dan kebijakan oleh pemerintahnya.
“Kaltim ini menggeliat. Banyak potensi sub-sub sektor yang masuk kategori dipandang sebelah mata, namun dapat menyumbang pendapatan dan menjadi lahan penyerapan tenaga kerja. Ini yang kemudian harusnya kita fasilitasi,” tutur Hetifah.
Ia menyontohkan, misalnya dalam bidang kuliner. Bidang ini memiliki potensi untuk menambah pendapatan daerah dan menunjang pariwisata. Namun karena ada berbagai kendala sehingga kemudian para pelaku bidang kuliner kesulitan untuk bersaing dengan produk-produk lainnya yang serupa.
“Kendalanya ada banyak, dari hulu ke hilir. Misal untuk bahan baku dan pengembangan packaging semuanya tidak selalu tersedia di Kaltim. Kalaupun harus pesan dari luar daerah, biayanya mahal. Begitupun dalam bidang marketing. Ini salah satu hal yang menjadi kendala pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya,” beber dia.
Padahal, imbuh Hetifah, jika dikemas dengan sedemikian rupa, bukan hal yang tidak mungkin produk tersebut akan semakin dilirik oleh pembeli. Begitupun dalam hal pariwisata, menurutnya pengembangan sektor ini penting dilakukan. Pasalnya jika orang datang ke Kaltim, tidak mungkin tidak membeli apa-apa.
Sehingga, pengembangan sektor pariwisata juga mempengaruhi pertumbuhan di sektor-sektor lainnya. “Orang datang ke Samarinda pasti akan membeli sesuatu. Seperti kuliner dan sarung Samarinda. Kita harus mulai memperluas pasar,” ungkap Hetifah.
Dengan demikian, sambungnya, produk yang dihasilkankan masyarakat Kaltim juga bisa dinikmati para pendatang. Untuk ke depannya, juga bisa diekspor ke luar daerah untuk bersaing dengan produk lainnya. “Misalnya seperti keripik, paling tidak kita tidak perlu impor lagi dari luar daerah karena sudah ada di daerah sendiri,” tutur dia.
Hetifah menyatakan, pihaknya juga menggandeng pihak Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk memfasilitasi kebutuhan pelaku UMKM non modal secara cuma-cuma. Untuk lebih dapat memajukan bisnisnya dan mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Akses Non Perbankan Bekraf, Syaifullah mengatakan, siap menerima masyarakat yang ingin belajar dari Bekraf untuk memajukan usahanya. “Semua harus dalam satu pintu. Bentuk komunitas nanti hubungi saja kami untuk melakukan pelatihan dalam bidang yang dibutuhkan dan semuanya free,” tutur Syaifullah.
Dia menerangkan, berbagai fasilitas bisa didapatkan di Bekraf. Mulai dari seperti bantuan dalam bentuk permodalan, sertifikasi, dan lain-lain. Dalam bidang kuliner misalnya, Syaifullah menyebut pihaknya dapat memfasilitasi masyarakat untuk ikut pameran di sepuluh mal paling besar se-Indonesia secara gratis.
“Jadi tinggal menyiapkan tiket pesawat dan barang. Soalnya dengan mengikuti pameran seperti ini bisa memperluas pasar. Misal seperti jengkol kemarin. Mereka banyak mendapat distributor dari Indonesia Timur. Jika pembeli tertarik dengan barang dagangan UMKM bukan tidak mungkin dia akan memasarkan barang tersebut di daerah asalnya,” tegasnya. (*/dev)







