Wacana kenaikan tarif bersih menimbulkan pro-kontra. Hal ini tergambar di dalam diskusi panel yang digelar Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tuah Benua tahun di Gedung Serbaguna (GSG), Selasa (28/2) lalu.
Meskipun ada yang menolak, namun sebagian besar warga mendukung kebijakan yang diambil perusahaan daerah tersebut. Meskipun begitu, warga tetap menyarankan agar dilakukan revisi ulang tarif progresif dengan menambah varian kubikasi blok konsumsi pelanggan.
Salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam diskusi yakni Mantan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, dia mendukung rencana kenaikan ini. Mengingat sudah lima tahun perusahaan daerah tersebut tidak melakukan revisi tarif.
“Jangan sampai harga naik tapi kualitas menurun. Warga Kutim atau Sangatta sanggup membayar lebih bila kualitasnya baik,” ucap Ardiansyah.
Kenaikan tarif ini, lanjut dia, juga diharapkan bisa membuat PDAM berangsur mandiri untuk peningkatan dan perluasan jangkauan. Selama ini peningkatan jaringan bergantung pada Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang sumber angarannya dari pemerintah.
“Kalau sudah bisa berdiri sendiri tentu PDAM bisa melakukan ekspansi dan perluasan tanpa bergantung keuangan daerah,” singkatnya.
Sementara, Kepala PDAM Tirta Tua Benuah Aji Mirni Mawarni mengatakan pihaknya akan kembali melakukan revisi kenaikan harga. Maksudnya kenaikan akan lebih ditekankan pada kelompok ketiga atau rumah tangga menengah ke atas hingga kelompok empat meliputi industri dan hotel berbintang.
Sementara untuk penggunaan rumah tangga biasa atau kelompok II hingga umum atau kelompok 1 akan ditekan seminimal mungkin.
“Kami akan atur strateginya yang penting tidak memberatkan warga,” ucap Mawar.
Sala satu cara yang ditempuh, kata dia, yakni rencana menambahkan varian dari blok konsumsi misalnya pemakaian di atas 11 meter kubik hingga 20 meter kubik akan mendapat harga berbeda. Begitu pula penggunaan di atas 20 meter kubik.
“Ini agar warga tidak kaget akan kenaikan harga. Selain itu juga kami akan sosialisasi agar warga menghemat konsumsi air. Karena harga murah yang dirasa murah membuat warga seenaknya menggunakan air,” ujarnya.
Sementara hasil diskusi yang digelar, kata Mawar, akan dilaporkan ke Bupati Kutim. Selanjutnya akan disosialisasikan ke masyarakat dan hasilnya kembali dilaporkan ke Bupati.
“Harapan kami, paling lambat Juli sudah terbit SK tarif baru,” harap Mawar.
Sebelumnya, manajeman PDAM membagi empat klasifikasi pelanggan masing masing punya dua harga berbeda dengan berdasarkan kubikasi. Misalnya kelompok I meliputi RSS, Sarana Umum, blok konsumsi pertama dari 0-10 meter kubik maksimal Rp 6,3 ribu sedangkan di atas 11 meter kubik maksimal Rp 7 ribu. Begitu seterusnya untuk tiga kelompok lain meliputi rumah biasa, hotel dan kantor serta industri juga hotel berbintang. (aj)







