Sempat Dibuang Orang Tua, Setiap Hari Jalan Kaki 70 Kilometer
Rambutnya sudah banyak beruban. Kulitnya juga tak lagi kencang. Namun kakek empat cucu ini tak gentar berhadapan dengan teriknya matahari dan terjalnya jalanan. Semua itu dilakukannya demi menjadikan barang dagangannya laku terjual.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Sesuai kartu tanda penduduk (KTP), nama aslinya Mujiono. Namun dia lebih akrab dipanggil nama “Temu”. Ada cerita menarik di balik nama panggilan tersebut. Rupa-rupanya, pria kelahiran Semarang, enam dekade lalu ini pernah dibuang orang tuanya gara-gara tradisi masyarakat.
“Saat saya lahir, weton saya ternyata sama dengan weton ayah saya. Menurut kepercayaan di daerah saya, saya harus dibuang,” kisah Temu kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Ahad (2/4) kemarin.
Oleh sang ayah, Temu lantas diletakkan begitu saja dalam keranjang di depan rumah tetangga. Dia ditemukan oleh tetangga yang lantas merawatnya hingga umur sepuluh tahun. Karena “ditemukan” itulah, dia lantas dipanggil dengan nama Temu.
“Di umur 10 tahun, ibu saya meminta saya kembali dari orang tua angkat yang membesarkan saya. Awalnya orang tua angkat saya keberatan mengembalikan saya, karena sudah dianggap anak sendiri. Apalagi orang tua angkat saya tidak punya anak laki-laki. Namun akhirnya saya dikembalikan ke keluarga kandung,” terangnya.
Kemampuan ekonomi orang tuanya membuat Temu tak mampu mengharapkan pendidikan tinggi. Bangku SMP menjadi pendidikan terakhir Temu, itu pun dia tidak lulus. Sehingga ijazah terakhir yang dikantonginya adalah ijazah SD. Tak lagi sekolah, Temu lantas ikut bekerja di bengkel las mobil. Kemampuannya di bengkel semakin terasah, sampai dia mampu membuka usaha bengkelnya sendiri.
“Saya sempat dua tahun buka bengkel sendiri,” tambah Temu.
Di pengujung 1988, dia mendapat tawaran dari saudaranya untuk bekerja di bengkel di Samarinda. Melihat sebuah peluang, tawaran ini diiyakannya. Walaupun kedua orang tuanya sempat melarang. Pasalnya, usaha bengkelnya waktu itu sudah terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan Temu dan keluarga. Namun begitu Temu tetap pergi ke Samarinda membawa serta anak-anaknya yang masih kecil.
“Waktu itu dalam pikiran saya, manusia yang menjalani kehidupan, Tuhan yang menentukan,” ungkapnya.
Namun karena suatu sebab, Temu tak bisa bekerja di bengkel. Demi istri dan anak-anaknya, dia pun beralih bekerja sebagai pedagang perabotan dengan cara berkeliling. Sapu ijuk menjadi barang dagangan pertamanya yang diedarkan dari toko-toko. Dari situ dia mulai berkeliling menjajakan barang-barang kebutuhan rumah tangga, meliputi meja, kursi, dan lemari dari kayu.
“Bukan hanya di Samarinda. Saya juga berjualan ke daerah-daerah lain di Kaltim seperti di Sangasanga, Tenggarong, dan Bontang,” sebut Temu.
Dengan menumpang kapal, Temu mencapai daerah-daerah tersebut. Waktu itu angkutan darat masih belum ada. Merapat di pelabuhan masing-masing daerah, tak banyak waktu yang dilewatkannya. Dia pun melangkah dari satu kampung ke kampung lainnya, menjajakan barang-barang dagangannya.
“Barang dagangan yang saya bawa sesuai kebutuhan. Bila saya menjual lemari, maka saya jalan memikul dua lemari. Sementara barang-barang lainnya saya titipkan di pelabuhan,” urainya.
Setelah melewati perjuangan yang berliku, nama Temu mulai dikenal sebagai pedagang keliling. Banyak yang memesan barang-barang kepadanya. Dalam sehari, dia bisa menjual hingga 10 jenis barang rumah tangga dari kayu. Pendapatannya pun meningkat dari waktu ke waktu hingga membuatnya mampu membeli sebidang tanah dan membangun rumah di atasnya.
Namun roda hidup terus berputar. Ada kalanya suka, ada pula waktu duka. Tahun 2007, istri Temu meninggal dunia karena kanker rahim. Tiga tahun berikutnya, ganti putri ketiganya yang mengalami gangguan kesehatan. Sang putri mengalami tekanan darah tinggi saat sedang hamil tua. Kondisi ini menurut dokter membahayakan bagi putri dan calon cucunya.
“Kata dokter, kalau tidak dilakukan operasi, salah satu berisiko meninggal. Kalau tidak ibunya, ya bayinya. Jadi harus dilakukan operasi,” beber Temu.
Ketiadaan biaya operasi waktu itu membuat Temu mesti berkorban demi menyelamatkan nyawa putri dan cucunya. Dia terpaksa menjual tanah dan rumah miliknya untuk bisa membiayai operasi. Nyawa sang putri dan cucunya berhasil diselamatkan, namun Temu mesti memulai semuanya dari awal. Dia kembali tinggal di rumah sewaan, kali ini bersama istri keduanya, Mini.
“Biaya sewa sebulan Rp 600 ribu, belum dengan listrik dan air,” sambungnya.
Berbekal gerobak pinjaman, Temu berjalan kaki keliling Samarinda menawarkan dagangannya. Mulai dari meja, kursi, dan lemari kayu. Barang-barang ini dipinjamnya dari para perajin kayu yang ada di lingkungan tempat tinggalnya, Jalan Revolusi II Karang Rejo, Samarinda. Dalam sehari dia bisa membawa 10 barang. Dengan berjalan kaki, dia mendorong gerobaknya masuk ke gang-gang yang ada di Samarinda.
“Saya tidak menghitung berapa jauh saya berjalan. Namun kalau dihitung-hitung, perkiraannya mungkin 70 kilometer setiap harinya,” paparnya.
Meski tidak lagi muda dan menginjak kepala enam, namun Temu mengaku masih kuat berjalan dan mendorong gerobak menempuh jarak tersebut. Letih memang dirasakannya, namun segera lenyap ketika dia tiba dan istirahat di rumah. Esok paginya, tenaganya sudah kembali pulih untuk melanjutkan mengais rezeki. Kekuatan Temu ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Termasuk Temu sendiri juga heran dengan kondisi tubuhnya yang tetap fit bekerja.
“Alhamdulillah saya masih diberi kekuatan. Padahal saya tidak minum jamu-jamu tertentu. Malahan saya sehari hanya makan sekali saja, setiap kali pulang kerja. Saya tidak biasa sarapan,” kata Temu.
Baginya, panjang jalan yang dilewati sudah menjadi “sarapan” sehari-hari. Bila jalannya lurus, bukan menjadi masalah untuk Temu. Yang membuatnya lelah yaitu jalan-jalan yang menanjak dan juga jalanan terjal lagi rusak. Pernah suatu ketika saat melewati kubangan di jalan berlubang, dia bersama gerobaknya terjatuh. Ternyata, lubang jalan yang dilewatinya tersebut memiliki kedalaman yang tidak diperkirakannya. “Salah satu mejanya sampai jatuh dan rusak. Lalu saya perbaiki sendiri,” ujarnya.
Sebenarnya, Temu punya sepeda motor di rumah. Namun dia lebih memilih berdagang dengan berjalan kaki ketimbang mengendarai sepeda motor. Memang menggunakan sepeda motor bisa mencapai jarak yang lebih jauh dan lebih cepat. Akan tetapi menurut dia, jauh lebih nyaman dengan berjalan kaki menggunakan gerobak.
Untuk pendapatan dari berjualan, Temu menyebut tidak punya target tertentu. Menurutnya, ada yang laku saja dia sudah bersyukur. Kata Temu, kondisi ekonomi yang tengah lesu saat ini turut mempengaruhi hasil pendapatannya. “Kadang dapat, kadang juga tidak. Sekarang ini beda dengan dulu. Sekarang bisa laku satu saja sudah bersyukur,” ungkap pria yang pernah menjadi pengurus ranting PDI Perjuangan ini.
Hasil yang didapatkan Temu dari dagangan yang terjual tidaklah seberapa. Dari lemari kayu seharga Rp 250 ribu yang berhasil dijualnya, dia mendapat keuntungan Rp 50 ribu. Namun begitu Temu tidak pernah mengeluh. Menurutnya, tidak perlu senang bila dagangan laku, tidak perlu juga sedih bila dagangan tidak laku. “Persaingan dengan pedagang lain, juga harus dilakukan dengan sehat,” sebutnya.
Dalam langkahnya menyusuri jalanan Kota Tepian, Temu kerap mendapatkan bantuan yang tidak disangka-sangka. Misalnya ada orang lewat yang memberikannya nasi kotak. Ada juga warga yang membuatkannya minuman. Pemberian-pemberian ini sempat membuatnya bertanya-tanya. Bahkan dia bertanya pada sang istri apakah wajahnya terlihat menyedihkan sehingga banyak yang memberinya makanan dan minuman.
“Sebenarnya saya tidak mau seperti itu. Tapi yang namanya rezeki ya saya terima, tidak boleh saya tolak. Saya juga heran kenapa bisa begitu,” tutur Temu.
Bukan sekadar berjualan, sesungguhnya Temu juga mampu membuat aneka meja, kursi, dan lemari dengan tangannya sendiri. Bahkan dia beberapa kali melayani pesanan rak piring yang laris terjual. Namun kendala modal membuatnya tidak bisa melanjutkan usahanya tersebut. Sehingga saat ini sebatas menjual barang dagangan orang lain.
“Kalau membuat sendiri, tentu hasilnya bisa lebih baik dibandingkan menjualkan barang milik orang lain. Biasanya saya berkreasi bila tidak sedang keliling,” ungkapnya.
Memang, ada kalanya Temu tidak berangkat menyusuri jalanan. Yaitu ketika hujan atau ketika kondisinya tidak memungkinkan untuk itu. Misalnya di tanggal-tanggal tua, ketika dalam dua hari tidak ada barang yang laku, untuk sementara Temu istirahat berdagang. Biasanya saat tidak berjualan ini, Temu ikut menerima pekerjaan di bangunan.
“Saya juga menerima pekerjaan bangunan bila tidak sedang berjualan. Tapi kalau hujan ya tetap tidak bisa kerja di bangunan. Di samping itu, istri saya juga membantu dengan usaha sampingan membuat kerupuk,” jelasnya.
Kini Temu hanya bisa berharap terus diberi kesehatan oleh Sang Maha Hidup. Sehingga dia bisa terus bekerja untuk menghidupi keluarganya. Apalagi anak bungsu hasil pernikahan keduanya, Wahyu Handayani masih duduk di bangku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). “Saya berharap saya bisa diberi cukup umur untuk membesarkan anak saya dan melihatnya tumbuh dewasa,” pungkas Temu. (***)







