JAKARTA – Badak LNG kembali meraih prestasi membanggakan pada Jumat (27/9) lalu. Yaitu berhasil meraih Penghargaan Subroto kategori Inovasi Khusus (industri) bidang Efisiensi Energi dan kategori Tanpa Kehilangan Jam Kerja Sebagi Akibat Kecelakaan, Patra Nirbhaya Karya Utama V bidang Keselamatan Minyak dan Gas Bumi.
Bertempat di Ballroom XXI, Djakarta Theater, penghargaan ini diterima Badak LNG dalam Malam Penganugerahan Penghargaan Subroto yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam rangka memperingati hari jadi pertambangan dan energi ke-73. Penghargaan diserahkan langsung Menteri ESDM, Ignasius Jonan dan diterima President Director & CEO Badak LNG, Didik Sasongko Widi dan Vice President Production Rahmat Safruddin.
Penghargaan bidang Efisiensi Energi yang diterima Badak LNG yaitu inovasi dalam upaya efisiensi energi berupa metode shutdown Main Cryogenic Heat Exchanger (MCHE) atau alat penukar panas utama pencairan LNG. Terdiri dari shell & tube dari aluminium. Dari metode ini berhasil mencegah terjadinya thermal shock atau perbedaan temperatur yang ekstrem selama proses shutdown. Sehingga tidak terjadi tube leak.
Perbedaan temperatur antara bagian atas dan bawah MCHE yang awalnya mencapai 95 derajat celcius diturunkan menjadi 40 derajat celcius. Dengan cara memanaskan LNG hingga -75 derajat celcius, sesaat sebelum shutdown unit tersebut. Hal ini dapat mencegah penggunaan gas untuk pembakaran dan menghilangkan potensi pelepasan emisi CO2 berlebih pada gas suar. Total potensi keuntungan setiap shutdown sebesar Rp 18,315 miliar.
Sementara itu, penghargaan bidang Keselamatan Minyak dan Gas Bumi membuktikan bahwa dalam menjalankan operasionalnya, Badak LNG selalu berpedoman kebijakan Safety, Health, Environment & Quality (SHEQ). Untuk mengimplementasikannya, perusahaan telah mengapalkan lebih dari 9.300 kargo LNG sejak 1977 hingga September 2018.
Badak LNG Membuat Sistem Manajemen SHEQ terintegrasi yang dinamakan Badak LNG SHEQ Management System & Attitude Reinforcement Technique (BSMART). Sistem ini mengatur aspek keselamatan, kesehatan, lingkungan, dan kualitas.
Hingga 28 September 2018, Badak LNG telah mencapai 96.575.213 jam kerja aman. Untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi tersebut, Badak LNG melakukan beberapa upaya yang wajib diterapkan oleh seluruh pekerja dan manajemen.
Meliputi pengembangan dan sertifikasi sistem manajemen SHEQ berbasis risiko, mengintegrasikan keselamatan ke dalam bisnis dan produksi. Memperkuat peran dan tanggung jawab semua tingkatan jabatan dalam mengimplementasikan SHEQ. Serta senantiasa menerapkan perilaku aman dalam menjalankan setiap kegiatan.
Badak LNG juga melakukan perbaikan secara terus-menerus di bidang SHEQ. Agar dapat mempertahankan predikatnya sebagai perusahaan LNG aman, andal, efisien, dan berwawasan lingkungan.
Penghargaan Subroto digelar Kementerian ESDM untuk kedua kali tersebut diberikan kepada instansi maupun perorangan, yang dinilai berjasa dalam pengembangan energi dan sumber daya mineral. (ra/adv)







