Oleh: M Saipul (Penulis Buku Antologi Kaltim Dalam Cerpen Indonesia)
SASTRAWAN besar Taufik Ismail pernah menuliskan puisi menarik yang berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Taufik mengguratkan kekecewaannya terhadap fenomena orang Indonesia yang berperilaku, budaya, dan pola hidupnya sudah jauh dari kebersihan hati. Namun, ada yang mengkritik puisi ini sebagai puisi pesimistis dan “merendahkan” bangsa sendiri.
Di luar soal kepantasan atau tidak, puisi Taufik Ismail dapatlah menjadi cermin bagi kita semua yang untuk kesekian kalinya tidak lagi merasakan kemerdekaan. Bangsa kita memang seharusnya malu terhadap fenomena yang telah terjadi setelah lebih dari setengah abad merdeka. Jelas tanpa lagi memiliki urat malu, bangsa kita tidak akan pernah optimis membangun kembali karakternya sebagai bangsa yang besar. Kita memang harus malu dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, atau Thailand dengan kemajuan yang mereka miliki kini. Kita juga harus malu sebagai bangsa yang negaranya masuk kategori terkorup di dunia dan terbelakang dalam persoalan pendidikan.
Malu adalah sebagian dari iman. Demikian sebuah sabda Rasulullah SAW. Maksud hadis ini bukan hendak membangun karakter manusia menjadi pemalu. Akan tetapi, malu adalah sifat positif yang harus dimunculkan untuk menghadang sifat negatif, seperti ketidakjujuran, tidak konsisten, kebodohan, kesombongan, dan masih banyak lagi. Kita harus malu ketika miskin pengetahuan. Kita harus malu ketika kita hidup senang di atas penderitaan orang lain. Kita harus malu di hadapan manusia yang lebih baik daripada kita. Dan yang paling penting kita harus malu terhadap Allah SWT.
Andaikan memilih seperti Taufik Ismail yang malu jadi orang Indonesia, ada harapan bahwa kita sadar terhadap kenyataan bangsa kita. Ada motivasi untuk menolak kenyataan yang buruk dan segera menggantikannya dengan yang lebih baik. Motivasi inilah yang semestinya kita bangun menjelang terbentuknya kepemimpinan baru kita di Kalimantan Timur khususnya pada pemilihan wali kota dan wakil wali kota, bukan melakukan hal-hal yang di luar kewajaran dan ketidakpantasan serta tidak manusiawi. Yang bisa berdampak pada masyarakat kecil tak mengerti dunia politik.
Para politikus seharusnya malu terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi pasca Pilkada di beberapa daerah karena telah meresahkan masyarakat yang terpinggirkan demi kepentingannya semata, yang hanya memikirkan “kursi” dan bagaimana caranya untuk memperoleh “kursi” tersebut, serta tidak memperdulikan akibat dari ulah mereka yang tidak akan hilang dan membekas di hati kita semua. Seharusnya para politikus malu dan tidak memakai topeng “pejabat yang berhati penjahat” sehingga tidak terjadi “premanisme politik”. Memang kita harus malu jika terus-menerus menjadi “kambing hitam” serta bulan-bulanan kebodohan dan kemiskinan yang bisa menjerumuskan kita pada kekufuran. Na’udzubillah min dzalik.
Catatan Redaksi: Tulisan ini tidak mengambarkan pandangan redaksi. Segala isinya merupakan tanggung jawab penulis






