SANGATTA – Kegiatan pertambangan tak selamanya meninggalkan wajah suram bagi hutan dan lahan di sebuah daerah. Terbukti, program pengembangan pariwisata dan agribisnis oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) berhasil menata ulang setiap kawasan pascatambang di daerah tersebut.
Di antara program itu yakni Telaga Batu Arang (TBA). Danau yang berlokasi di Pit Surya ini dulunya adalah kolam bekas tambang KPC. Memiliki luas sekitar 12,43 hektar, danau ini sebelumnya tidak lebih adalah kolam mati.
Namun sejak mendapatkan sentuhan reklamasi tahun 2001 silam, pelan tapi pasti, TBA kini menyajikan kemilau keindahan. Kejernihan air bersenandung dengan rindangnya pepohonan yang memagari danau dengan luas kawasan mencapai 270 hektar ini.
Keanekaragam hewan yang hidup di sekitar danau juga semakin menambah pesona alam. Sepanjang mata memandang, pengunjung akan dimanjakan oleh hewan seperti burung, berang-berang, kupu-kupu, dan penghuni hutan lainnya. Danau TBA bersolek di dalamnya.
Act. Manager External Relation KPC Yordhen Ampung mengatakan, pihaknya telah melakukan studi terhadap kualitas air di kolam TBA. Studi ini dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPPT). Hasilnya, kualitas air kolam TBA masuk kategori air kelas A (air baku layak minum).
“TBA memiliki kedalaman mencapai 35 meter dan berada pada ketinggian 50 meter dari permukaan lain,” sebut pria yang akrab dengan awak jurnalis ini.
Yordhen merasa bangga karena TBA telah mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Kutim, sebagai salah satu zona wisata pascatambang. Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Kutim Nomor 430/K.243/2013, tertanggal 1 April 2013.
Seiring dengan itu, sambungnya, KPC terus memoles TBA agar layak menjadi salah satu obyek wisata yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan Pemerintah Kutim. Sebagai uji coba, TBA telah dimanfaatkan sebagai lokasi perlombaan dayung perahu buaya dalam berbagai event KPC.
“Secara berkala danau ini terus kami benahi sebagai obyek wisata masyarakat Kutim. Walaupun masih terbatas, tapi TBA sudah bisa jadi tempat wisata keluarga, wisata pendidikan seperti kuliah alam dan penelitian, serta beragam jenis olahraga komunitas hobbies berupa sepeda, bela diri, dan yoga,” tuturnya.
Masih di TBA, program pascatambang di bidang agribisnis yang dikembangkan KPC ialah budidaya ikan. Program ini menjadi salah satu projek penelitian bagi sekolah kejurusan seperti SMK Kelautan.
Ardi, salah seorang petugas Penelitian dan Pengembangan (Litbang) KPC mengakui, bila TBA menjadi tempat bagi budidaya perikanan. Seperti ikan mas, lele, patin, nila, dan bawal adalah sejumlah jenis ikan yang dikembangkan pihaknya.
“Seperti bibit ikan nila, kami tidak perlu lagi membeli bibitnya. Karena saat awal telaga ini dikelola, bibit ikannya sudah dimasukan,” katanya kepada awak media pada acara media gathering KPC di kawasan TBA, belum lama ini.
Dia menyebut budidaya ikan di TBA bertujuan memastikan kolam bekas tambang aman dan bisa dimanfaatkan. Begitupun ketika nanti dimanfaatkan sebagai bahan baku air minum.
“TBA ini juga sudah menjadi tempat praktikum bagi para pelajar SMK Negeri 2 Sangatta Utara. Di tempat ini, mereka melakukan praktikum pemisahan dan pengukuran kualitas air,” ungkap lulusan Magister Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Untuk diketahui, obyek wisata pascatambang lain yang dikembangkan KPC seperti, Bukit Pandang yang menyajikan pemandangan ke berbagai arah, mencakup Taman Nasional Kutai (TNK), Sungai Sangatta, dan tambang KPC.
Terdapat pula tempat penangkaran Rusa Sambar (Servus Unicolor). Rusa Sambar merupakan salah satu satwa endemik Kalimantan. Serta Bird watching untuk mengamati berbagai jenis burung yang hidup bebas di areal TBA.
Manager Community Empowerment PT KPC Nurul Karim menerangkan, program pengembangan wisata dan agribinis oleh pihaknya selaras dengan visi dan misi pembangunan Pemerintah Kutim. Dimana kedua sektor tersebut merupakan pilar pendukung gerakan pembangunan desa mandiri dan terpadu (Gerbang Desa Madu).
“Saat ini kami sedang giat mendorong pengembangan agribisnis dan pariwisata. Seperti budidaya ikan, ayam petelur, dan sapi adalah beberapa di antara program tersebut,” katanya.
Secara khusus, KPC sedang berupaya mengembangbiakan ratusan ekor sapi melalui Peternakan Sapi Terpadu (Pesat). Program ini melingkupi pengembangbiakan sapi perah hingga sapi potong. Sebagai penunjang, beberapa lokasi pascatambang telah dikelola menjadi tempat budidaya rumput untuk pakan sapi.
“Kami (KPC, Red.) berkeinginan bisa ikut serta mendukung program kemandirian desa yang dicanangkan pemerintah. Melalui berbagai pelatihan, kami juga berkeinginan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Harapannya agar KPC menjadi katalisator bagi terealisasinya visi dan misi Pemerintah Kutim,” tandasnya. (drh)







