• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Mengapa Nehe Nehe

by M Zulfikar Akbar
1 Maret 2019, 09:47
in Dahlan Iskan
Reading Time: 4 mins read
0
DAHLAN ISKAN

DAHLAN ISKAN

Share on FacebookShare on Twitter

Dari Udon Thani ini, dari pojok timur laut Thailand ini, saya ikuti perkembangan dunia. India-Pakistan memanas. Trump-Kim Summit di Hanoi. Cohen bersaksi di DPR. Huawei menggebrak. Pun Brexit masih bingung.

Nasib perang dagang? Entahlah. Padahal gencatan senjatanya berakhir hari ini.

Memang Presiden Donald Trump sudah menegaskan: tidak ada peningkatan tarif baru. Untuk impor barang dari Tiongkok. Menunggu pertemuan puncak Trump – Xi Jinping. Di ‘istana’ pribadi Trump. Di dekat danau besar. Di Mar de Lago, Frorida. Begitu besar, luas dan indahnya ‘Istana Mar de Lago’. Yang artinya Anda tahu sendiri: sea of lake.

Trump sendiri Anda juga tahu: tadi malam meninggakkan Vietnam. Setelah dua hari bertemu pemimpin Korut, Kim Jong-Un.

Tujuan Trump hanya satu: Kim benar-benar bongkar senjata nuklirnya. Atau mungkin dua: dapat hadiah Nobel perdamaian.

Jangan sampai kalah dengan orang yang paling dibencinya: Obama.

Kok bisa-bisanya orang kulit hitam jadi presiden Amerika. Dua pereode. Dapat hadiah Nobel pula. Padahal, katanya pada Cohen, mana ada negara yang tidak gagal. Bila dipimpin orang hitam.
Keinginan Kim benar-benar hanya satu: sanksi ekonomi dicabut. Itu tergantung sikap Amerika. Kim sudah tidak sabar. Ingin membangun ekonomi negaranya.

Michael Cohen sendiri kini bikin repot Trump. Lagi asyik-asyiknya menemui Kim, Cohen bersaksi di DPR Amerika. Tegas-tegas mengatakan Trump itu rasis. Penipu. Pembohong. Di banyak hal. Soal bisnisnya di Rusia. Pencurian email-email Capres yang dikalahkannya: Hillary Clinton. Juga uang bungkam untuk wanita yang ditidurinya.

Cohen tahu semua itu. Ia begitu lama jadi pengacara Trump. “Trump itu bukan ingin membuat Amerika great again,” katanya. “Tapi membuatnya bisnisnya great again,” tambahnya.

Cohen sudah dijatuhi hukuman tiga tahun. Tinggal menjalaninya. Tanpa proses persidangan. Lantaran ia sudah mengaku salah sejak awal.

Trump sendiri buru-buru meninggalkan Vietnam. Balik ke Amerika lebih cepat. Alasannya: tidak mau lagi bicara dengan Kim.

Trump juga tidak mau cabut sanksi. Alasannya: Korut belum benar-benar akhiri program nuklirnya.
Trump seperti ngambek. Sewot. Marah.

Baca Juga:  Freeport dan Intipan Jonan

Makan siang bersama dibatalkan. Tandatangan kesepakatan diurungkan. Ngloyor begitu saja. Sendirian menemui wartawan.

Kim salah waktu. Salah tempat. Bertemu Trump di saat serba tidak tepat. Perhatian Trump lagi ke kesaksian Cohen.

Itulah yang utama.

Dua hal lainnya saya hanya bisa berdoa: semoga India dan Pakistan bisa menahan diri. Dan semoga rakyat Inggris kembali berakal sehat: dalam hal Brexit.

Saya bersyukur menunda kepergian ke Pakistan. Yang mestinya berangkat Senin lalu. Saya bersyukur tiba-tiba harus ke Doi Tung, Thailand. Hari itu.

Begitu mendarat di Chiang Mai saya baca breaking news: Pakistan menutup wilayah udaranya. Lalu berita lainnya: Pakistan menembak jatuh pesawat militer India. Menangkap pilotnya.
Berarti hari itu pendaratan pesawat komersial terganggu.

Apa yang terjadi di Kashmir itu saya bisa membayangkan sangat baik. Saya pernah ke sana. Bersama Robert Lai. Teman baik saya dari Singapura itu.

Waktu itu saya lagi keliling India: Mumbai, Gujarat, Chenai, Bangalore dan Kalkuta. Masih punya waktu lowong satu hari. Saya langsung ke bandara New Delhi. Melihat papan perjalanan pesawat. Siapa tahu ada jurusan yang ingin saya kunjungi. Misalnya Uttar Pradesh, Punjab atau Kashmir.

Robert selalu keberatan dengan gaya perjalanan seperti ini. Hari itu saya memang baru setahun lewat. Menjalani operasi ganti hati di Tianjin. Tapi, sambil ngedumel, Robert tetap ikut ke mana pun saya pergi.
Kebetulan saat itu ada pesawat jurusan Kashmir. Tepatnya ke Srinagar. Ibukota Kashmir. Akan berangkat dua jam lagi. Kami pun bergegas beli tiket.

“Tiket belum bisa dijual,” ujar petugas saat itu.
“Kenapa?,” tanya saya.
“Bandaranya masih ditutup. Tunggu info satu jam lagi,” jawabnya.

Bandara Srinagar memang ‘buka-tutup’. Tergantung keadaan keamanan Kashmir. Lagi tegang atau tidak.
Saya disuruh menunggu. Robert terus merayu saya.
Untuk tidak usah ke Kashmir. Yang terbukti lagi tidak aman itu.

“Bandara sudah dibuka. Silakan,” ujar petugas.

Kami pun membeli tiket. Terbang satu jam lebih. Ke arah utara.
Tiba di Kashmir saya mendapat info. Siang nanti kemungkinan besar bandara ditutup lagi.

Baca Juga:  Aksi Empat Sekawan

Kami pun cepat-cepat cari taksi. Ingin keliling kota Srinagar. Yang di tengahnya ada danau besar yang indah. Saya ingin ke pusat perdagangan karpetnya. Yang terkenal itu.
Ternyata kota Srinagar seperti mati. Semua toko tutup. Tidak terlihat ada lalu-lalang mobil. Tidak ada manusia melintas di jalan.

Di beberapa sudut kota pemuda berkelompok. Saling berbisik. “Mereka akan bergerak,” kata sopir taxi.

Suasana mencekam.

“Mereka ingin merdeka dari India,” tambahnya.

Kami terus menyusuri pinggiran danau. Ke luar kota Srinagar. Menuju pusat perdagangan karpet. Hanya lihat-lihat sebentar. Bertanya-tanya sedapatnya.

Lalu lapar.
Belum makan. Pun belum sarapan.

Tidak ada restoran buka. Saya dibawa sopir ke dalam satu gang sempit. Jalan kaki. Sepi. Mencekam. Berliku. Sang sopir mengetuk pintu.

“Ini dari Indonesia. Perlu makan,” katanya.
“Saya buatkan,” kata pemilik rumah. Laki-laki. Pakaian khas India. Atau khas Pakistan. Tepatnya: khas Kashmir.

Saya disuruh duduk di dalam rumah itu. Yang pintu dan jendelanya ditutup. Tidak ada suara apa-apa. Robert kelihatan lebih waspada.

Tuan rumah datang dengan membawa makanan: ayam masak tandoori. Satu ekor lengkap. Ukuran besar. Kami melahapnya. Tanpa nasi. Tanpa roti. Tanpa saus. Tanpa sambal. Tapi rasanya bukan main lezatnya. Enak sekali.

Mungkin karena lapar.

Saya sangat terkenang dengan kelezatan ayam tandoori Kashmir hari itu. Kelak saya sering memesan tandoori. Di negara mana pun. Kalau lagi kangen Kashmir. Tapi belum pernah menemukan tandoori selezat di Kashmir hari itu.

Saat makan itulah saya diberi tahu sopir. Bandara segera ditutup. Satu jam lagi ada pesawat mendarat. Dan akan langsung kembali.

Kami bergegas ke bandara. Beli tiket. Pesawat pun tiba. Kami boarding ke New Delhi.
Malamnya saya lihat di TV. Kerusuhan besar terjadi di Srinagar.

Minggu lalu bom bunuh diri meledak di Kashmir. Lebih 30 orang tewas.
India menuduh Pakistan di balik pemberontak militan Kashmir. Pakistan membantah keras.

Baca Juga:  Menang Nirkuasa

Kashmir memang selalu jadi kerikil tajam. Bagi India dan Pakistan. Sebagian wilayahnya diakui India. Masuk India. Sebagian lagi diakui Pakistan. Masuk Pakistan. India ingin merebut yang dikuasai Pakistan. Pakistan ingin merebut yang dikuasai India. Sebagian orang Kashmir sendiri tidak mau dua-duanya. Ingin merdeka.

Semua itu gara-gara Inggris memisahkan India dan Pakistan. Secara kurang tuntas. Seperti buru-buru. Meninggalkan masalah Kashmir. Sejak itu sudah pecah tiga kali perang. Antara India dan Pakistan.

Pemisahan India-Pakistan itu sebenarnya mengakibatkan tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah. Setidaknya salah satu yang terbesar.

Kita di Indonesia kurang mengikuti tragedi itu. Waktu itu. Seolah tidak terjadi apa-apa di sana.
Mengapa?

Kita sendiri lagi mengalami tragedi. Tragedi yang tidak kalah mengerikannya: Gestapu/PKI.
Tiongkok juga kurang perhatian pada tragedi itu. Tiongkok sendiri lagi dalam tragedi: revolusi kebudayaan (文化大革命).

Kini India sangat marah pada Pakistan. Ingin menyerang basis militan Kashmir. Di wilayah Pakistan.
Oleh Pakistan itu dianggap pelanggaran wilayah. Pakistan pun menembak jatuh pesawat militer India.
Untungnya Perdana Menteri Pakistan berkepala dingin. Imran Khan terus menyerukan peredaan ketegangan. Lewat dialog. “Sering kali perang itu tidak terkontrol. Dan tidak ada yang menang,” ujarnya.

Kepada yang suka perang Imran Khan bilang: perang itu bukan kegiatan wisata.
Sejak terpilih di pemilu tahun lalu Imran sudah mengutamakan program damai dengan India. Sampai teman-teman Indianya diundang saat pelantikan. Yakni teman sesama atlet kriketnya.

“Kalau India dan Pakistan bisa bersahabat banyak yang tidak perlu diimpor dengan devisa. Kita bisa saling tukar barang,” kata Imran saat itu.

Tapi masa kampanye pemilu di India kini lagi panas-panasnya. Pemilu sudah dekat. Awal Mei nanti. Isyu ‘lawan Pakistan!’ bisa menyenangkan pemilih mayoritas di India.

Mungkin setelah Pemilu akan reda sendiri. Siapa pun pemenangnya.

Kim dan Trump saja bisa bertemu di Hanoi. Meski akhirnya ‘No! No!’.
Kenapa India dan Pakistan harus ikutan ‘nehe! nehe!’. (Dahlan Iskan)

Tags: dahlan iskandis way
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

10 Jam, Surat Suara Tiba di Bontang

Next Post

Trump dan Jong-un Gagal Capai Kata Sepakat

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.