• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Mengenal Lapak Baca Bontang, Menyebar Semangat Literasi dengan Cara Sederhana

by Fitri Wahyuningsih
27 Juni 2021, 19:35
in Feature
Reading Time: 3 mins read
0
Lapak Baca Bontang ketika menggelar lapak di Bontang Kuala (dok pribadi)

Lapak Baca Bontang ketika menggelar lapak di Bontang Kuala (dok pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Sejatinya semua ini dimulai dari sebuah aktivitas sederhana: berbagai bacaan bersama orang-orang terdekat. Mulanya aktivitas itu hanya dilakukan Yusworo Yestu bersama kedua sahabatnya. Namun tak disangka, aktivitas itu justru meluas. Ia laiknya jaringan, menghubungkan satu orang ke yang lainnya. Inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya sebuah komunitas pecinta buku di Bontang. Yang kemudian beken dengan nama Lapak Baca Bontang.

—
bontangpost.id – Yusworo Yestu dan sahabatnya, Syarif Rifky, bukanlah penggandung buku-buku babon atau buku filsafat yang dari sampulnya saja sudah bikin orang malas memegang, apalagi menafsir isinya. Mereka justru lebih sering membaca novel sederhana yang menceritakan soal keseharian. Yang biasa dihasilkan penulis populer macam Andrea Hirata, Tere Liye, Dee Lestari, hingga Boy Candra.

Biasanya, ketika satu buku rampung dibaca, salah satu mereka bakal saling pinjam. Dari situ, selain bacaan mereka main luas dan bervariasi, juga lebih hemat kantong. Sebab mereka tak perlu membeli buku lantaran bisa pinjam dari teman sendiri.

Satu waktu pada 2017, Yestu dan Syarif tak sengaja bertemu seorang perempuan di salah satu coffee shop di bilangan Jalan Bhayangkara. Perempuan itu duduk sendiri di pojok, sembari memegang buku bacaan. Tidak sekali dua kali Yestu melihat perempuan itu, yang belakangan diketahui bernama Nuranissa Assis alias Rani.

Baca Juga:  Kisah Enam Anak Kecil di Balikpapan, Ditinggal Ibu-Bapaknya yang Meninggal Hampir Bersamaan

“Sering lihat di kedai gitu. Lihat Mbak Rani sering bawa bacaan. Dari sana, enggak lama ngobrol-ngobrol soal buku dan bacaan, dan ternyata nyambung,” kata Yestu.

Itulah mulanya Yestu dan Syarif mengenal Rani. Setelahnya mereka mudah saja akrab, lantaran disatukan oleh kegemaran yang sama, membaca.

Aktivitas berbagi bacaan di antara mereka terus berlanjut. Dengan kehadiran Rani, tentu bacaan mereka semakin luas. Kemudian pertengahan 2018, mulai terbesit pikiran untuk membagi bahan bacaan kepada publik. Bukan cuma di antara mereka bertiga. Mereka pikir, ketimbang buku-buku itu, yang jumlahnya sekitar 120 eksemplar, hanya tersimpan rapi di rak, lebih baik ia disebarluaskan. Agar ia memberi manfaat kepada lebih banyak orang. Juga, agar publik bisa mengakses berbagai bahan bacaan.

“Lama-lama mulai kepikir, kenapa enggak sedikan bahan bacaan buat masyarakat Bontang,” kata pria yang juga aktif di dunia seni dan teater ini.

Ketika berpikir untuk membagi bacaan secara lebih luas, mereka belum tahu ingin menyebut diri sebagai apa. Sembari memikirkan nama, tiba-tiba keluar celetukan ‘ngelapak’. Itu selaras dari konsep yang mereka usung. Menyambangi ruang publik, menghapar bacaan, dan membiarkan pengunjung melihat, membaca, pinjam, dan membicarakan apapun soal buku.

“Dari pada bingung, kami mikir, ya uda lah ngelapak saja. Dan nama itu terus dipakai sampai hari ini,” ujar pria penggemar kopi ini.

Baca Juga:  Berawal Mesin Boat Mati di Tengah Laut, Ini Kisah Unik Nelayan Nikahi Bule Perancis

Lapak Baca Bontang perdana tampil di hadapan publik akhir 2018. Di awal kehadirannya, mereka hanya menggelar lapak dari satu kedai ke kedai kopi lain. Mengambil ruang di sudut kedai, sembari menghampar bacaan. Membiarkan pengunjung datang, melihat, membaca atau meminjam buku. Pun tak ada jadwal rutin buat ngelapak. Mengingat kata itu, personel mereka terbatas, tiga orang. Sementara ketiganya pun disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.

Lapak Baca Bontang ketika menggelar lapak di Bontang Kuala (dok pribadi)

Memasuki 2019 mereka mulai serius menggarap Lapak Baca Bontang. Membuka ruang bagi relawan buat bergabung. Struktural komunitas ini dibentuk. Harapannya, ia tak sekadar medium buat menyediakan bahan bacaan. Lebih luas lagi, komunitas ini bisa jadi ruang buat bertukar gagasan. Juga medium bagi kegiatan terkait literasi, seni, dan budaya dilakukan.

“Beberapa program sudah disusun. Awal 2020 kami sempat mau bedah buku, tapi terkendala pembatasan kegiatan yang diberlakukan pemerintah,” ungkap Yestu.

Tak patah aral, mereka tentu harus beradaptasi dengan kondisi. Kegiatan tatap muka langsung dibatasi, mereka justru gencar di media sosial. Melalui akun instagram @lapakbacabontang, beberapa kali mereka lakukan bincang buku virtual. Juga memberikan konten-konten terkait buku. Agar semakin banyak orang yang mulanya melirik, lantas jadi tertarik membaca buku.

Baca Juga:  Kisah Afifah Pertama Kali Ikut MTQ, Harumkan Bontang di Kancah Provinsi

Bertambahnya anggota, praktis membuat koleksi Lapak Baca bertambah. Dengan semakin terdengarnya gaung mereka, banyak juga masyarakat yang mendonasikan buku-buku. Kata Yestu, Lapak Baca menerima seluruh genre bacaan. Tidak dibatasi. Namun untuk saat ini, pihaknya cukup berharap mendapat bantuan buku-buku anak. Sebab ketika mereka mulai masuk ke ruang publik, rupanya antusiasme anak-anak lah yang sangat besar. Ini kemudian membuat mereka menyangsikan, tingkat literasi Indonesia sejatinya tak seburuk yang dikira. Boleh jadi, publik hanya tak punya akses untuk mendapat bahan bacaan.

“Makanya kami agak mempertanyakan juga. Siapa tahu bukan karena tidak mau membaca, tapi karena bahan bacaanya tidak ada,” ungkapnya.

Lebih jauh, melalui Lapak Baca, para penggemar buku di Bontang bisa saling bertukar atau mendiskusikan bahan bacaan. Publik bisa pinjam koleksi Lapak Baca. Atau biasanya, meminjam juga dari sesama mereka yang terhubung ke Lapak Baca. Atau bahkan menghibahkan bukunya. Jaringan-jaringan inilah yang menjadi nafas Lapak Baca Bontang. Komunitas literasi yang digawangi anak muda Kota Taman. Dengan semangat sukarela, dan bercita-cita terus menyebarkan semangat literasi. Kendati berbasis di Bontang, mereka berharap semangat ini tak terbatas ruang.

“Sederhana cita-cita kami. Pertama, lebih dikenal. Kedua, kami bisa terus menyediakan akses bacaan buat publik,” tandasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: feature
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

PPDB SD dan SMP Bontang, 2.089 Kuota Masih Kosong

Next Post

Sekolah di Pesisir Dimungkinkan Tatap Muka Terbatas

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Jatuh Cinta di Desa Pela
Feature

Jatuh Cinta di Desa Pela

28 Oktober 2024, 08:18
Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual
Feature

Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual

23 Oktober 2024, 13:05
Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien
Bontang

Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien

30 Oktober 2023, 17:00
Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi
Feature

Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi

1 Mei 2023, 10:00
Feature

Kisah Warga Kaltim yang Menjalani Puasa di Luar Negeri; Nisa (1)

29 Maret 2023, 21:00

Terpopuler

  • Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Creative Night Market Bontang Kembali Digelar, 100 UMKM Ramaikan Jalan Cut Nyak Dien

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Pengedar di Muara Badak Ditangkap Saat Berboncengan, Polisi Sita 16,55 Gram Sabu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Daftar Tempat Parkir di Bontang yang Wajib Bayar Pajak Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rp1,7 Miliar untuk TMMD Bontang, Jalan 450 Meter hingga Sumur Bor Dibangun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.