• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Bontang

Mengintip Pembuatan Makanan Khas Kutai, Pecak: Rupa Sederhana, Rasa Istimewa

by Fitri Wahyuningsih
10 Mei 2020, 10:00
in Bontang, Feature
Reading Time: 2 mins read
0
Nenek Harijat (59) sudah 42 tahun membuat makanan khas Kutai— pecak, setiap Ramadan. (Fitri/Bontangpost.id)

Nenek Harijat (59) sudah 42 tahun membuat makanan khas Kutai— pecak, setiap Ramadan. (Fitri/Bontangpost.id)

Share on FacebookShare on Twitter

DAHULU, medio tahun 1970-an, Harijat sekadar membantu ibunya membuat makanan khas Kutai, pecak. Ia sendiri tak tahu bagaimana cara membuatnya. Hanya ibu, tante, dan umumnya, orang dewasa yang mampu membuat makanan yang terbungkus daun pisang itu.

Kegiatan membuat pecak tidak dilakukan saban hari. Ada waktu khusus. Harus spesial. Yakni di acara-acara besar. Dan bulan suci Ramadan.

Ibu Harijat, rutin membuat pecak setiap Ramadan. Itu aktivitas tahunan. Saban tahun cuma jadi “tukang bantu”. Dari awalnya tak tahu apapun. Lambat laun Harijat belajar. Bumbu apa saja yang dibutuhkan. Cara mengolah. Cara membungkus.

Semua ini butuh waktu yang tidak sebentar. Seingat Harijat, ia baru mampu membuat pecak sendiri sekitar tahun 1978. Ketika sudah menikah. Ketika sudah punya dua anak.

Namun perlu diingat. Mampu membuat pecak adalah satu hal. Namun mendapat cita rasa terbaik adalah hal lain. Kembali, eksplorasi rasa ia lakukan. Dan tentu, menahun. “Dulu saya cuma bantu orang tua (Ibu). Lihat cara buatnya. Lama saya belajar. Akhirnya waktu punya dua anak, baru bisa saya buat sendiri,” ujar Harijat kala disambangi Bontangpost.id di kediamannya, Jalan Tari Jepen, Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara, Sabtu (9/5/2020) siang.

Baca Juga:  Kisah Enam Anak Kecil di Balikpapan, Ditinggal Ibu-Bapaknya yang Meninggal Hampir Bersamaan

Selang 42 tahun, usai mampu membuat pecak sendiri, nenek 59 tahun itu senantiasa menjaga tradisi. Saban Ramadan dia terus membuat pecak. Selain untuk dikomersilkan. Juga disalurkan ke Masjid Nurul Huda. Sekitar 50 meter dari kediamannya. Biasa dia menyumbang 100 bungkus pecak sebagai menu buka puasa. “Selama pandemi, sudah enggak bisa kasih ke masjid. Karena tidak ada buka bersama,” beber Harijat.

Padahal kalau tidak pandemi, pecak buatan Harijat selalu habis dikeroyok jemaah. Mau itu anak-anak atau dewasa. Untuk sementara ini, Harijat pun tak menjual pecak di pasar Ramadan. Khawatir juga dengan perkembangan Covid-19. Sebabnya, dia, dibantu cucunya, menjual pecak hanya berdasarkan pesanan. Enam bungkus pecak dihargai Rp 20 ribu. Cukup dijangkau kantong untuk sebuah makanan yang istimewa dan punya catatan panjang.

Baca Juga:  Cara Unik nan Berbeda Merayakan Hari Perempuan Sedunia

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=-51vGsb3tQY[/embedyt]

ISTIMEWA DALAM KESEDERHANAAN

PECAK bukan makanan yang terlihat rumit. Justru sebaliknya. Amat sederhana. Nuansa Indonesia-nya bahkan sangat kental. Bungkusnya saja dari daun pisang. Komposisinya pun tak aneh-aneh. Mudah ditemui di pasar. Pertama, beras dimasak bersama santan. Tak beda dengan memasak nasi pada umumnya.

Langkah selanjutnya adalah isian. Untuk ini dibutuhkan bumbu. Semisal cabai, tomat, bawang merah, bawang putih, dan bumbu lain. Semua dimasak, diberi garam. Dan jadilah, sambal gammi. Ini lebih kering dari gammi biasa. Gammi yang kerap dijumpai di rumah makan yang biasa lebih basah karena banyak minyak.

Nasi yang sudah matang lantas dipipihkan di atas daun pisang. Di atasnya diisi sambal gammi, lantas ditutup lagi dengan nasi. Setelahnya, gumpalan nasi dibungkus menggunakan daun pisang. Voila, pecak siap disantap. Sekilas mata, tampilan pecak tak ubahnya pais pisang.

Baca Juga:  Komunitas Ruang Kita: Ikhtiar Anak Muda Bontang Berkontribusi Bagi Daerah

Lantas bagaimana rasanya. Ketika pecak pecah di lidah, ada rasa gurih dari nasi yang sebelumnya dimasak bersama santan. Kemudian ada kombinasi asin, sedikit manis, dan pedas memenuhi lidah. Ini berasal dari sambal gammi.

Menyantap 3 bungkus pecak cukup mengisi perut kosong usai berpuasa sehari penuh. Kata Harijat, makin nikmat lagi bila pecak ditemani sayuran, dan dimakan ramai-ramai. (*)

Tags: featurekutaimakanan khaspecakTradisional
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Disnaker Buka Layanan Pengaduan THR

Next Post

KPU Bontang Prediksi Pilkada Mulai Maret 2021

Related Posts

Di Balik Rambu Solo’ Terbesar di Bontang, Kisah Penghormatan Terakhir untuk Tokoh Adat Toraja Ester Madao
Feature

Di Balik Rambu Solo’ Terbesar di Bontang, Kisah Penghormatan Terakhir untuk Tokoh Adat Toraja Ester Madao

29 Juli 2026, 16:02
Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Jatuh Cinta di Desa Pela
Feature

Jatuh Cinta di Desa Pela

28 Oktober 2024, 08:18
Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual
Feature

Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual

23 Oktober 2024, 13:05
Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien
Bontang

Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien

30 Oktober 2023, 17:00
Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi
Feature

Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi

1 Mei 2023, 10:00

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.