• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan

Merelakan Ditinggal Anak, Cucu, Menantu

by BontangPost
10 Februari 2018, 09:15
in Catatan, Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Dahlan Iskan

Saya sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit tapi sudah turun. Dari skala 9 (saat menuju rumah sakit) ke skala 6 (antara 1-10). Dengan rasa sakit skala 6 saya tidak mengeluh. Sudah jauh lebih ringan dibanding skala 9.

Sambil berbaring lemas, saya ingat. Sekarang sudah pukul 15:00. Saatnya berangkat ke Makkah. Dengan bus besar. Sejauh 450 km. Lima jam perjalanan.

Saya timbang-timbang kondisi badan saya. Berangkat? Kuat? Tidak? Kesimpulan: tidak kuat.

Memang bus besar itu hanya akan diisi 12 orang keluarga kami saja tapi badan ini lemas rasanya. Kepala juga masih berat. Akibat morphin dan suntik obat tidur.

Saya minta agar istri mengumpulkan keluarga. Di kamar saya. Saya putuskan: saya, istri dan anak wedok saya, Isna Fitriana tetap di Madinah. Sambil menunggu perkembangan kesehatan saya.

Selebihnya harus berangkat ke Makkah. Terutama Azrul yang belum pernah ke Makkah. Tidak boleh gagal. Ivo, istri Azrul, memang sudah dua kali ke Makkah tapi kali ini harus mendampingi suaminya.

dok pribadi

Tatang, suami Isna, yang juga sudah beberapa kali ke Makkah menjadi bapak asuh untuk enam cucu. Sekaligus menjadi tour guide umroh mereka. Saat ini bus besar mestinya sudah siap. Besok pagi, kalau keadaan membaik kami bertiga menyusul ke Makkah.

Baca Juga:  Kotak Kosong, Pesta para Oligarki

Mereka pun bergegas menyiapkan diri. Terutama perlengkapan ihram untuk enam cucu. Pasti tidak mudah mengatur mereka. Tidak bisa cepat.

Bus besar tidak boleh ngebut. Mereka baru tiba di Makkah tengah malam. Langsung ibadah umroh. Saya melihatnya dari kiriman foto dan video yang diperlihatkan istri saya. Saya hanya bilang ya ya ya.

Sakit saya masih datang pergi. Pergi datang.

Melihat kondisi saya yang tidak membaik, Isna mengajukan usul. Malam ini ada penerbangan langsung dari Madinah ke Jakarta. Bisa beli tiket baru. Tiba di Jakarta bisa masuk RS di Jakarta atau ke Surabaya dan langsung ngamar di rumah sakit Surabaya. Isna siap untuk tidak ke Makkah. Kalau ya berarti dua jam lagi harus ke bandara.

Saya coba bangun semangat. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Tidak bisa. Turun dari tempat tidur pun masih sulit.

“Tidak mungkin kalau malam ini,” jawab saya. “Tidak kuat.”

Baca Juga:  Andai Pemilu Tanpa Bawaslu

Isna kembali utak-atik handphone.

“Besok malam ada?” tanya saya.

“Ada juga,” jawab Isna.

“Beli. Untuk abah dan ibu,” kata saya. “Anda nyusul ke Makkah.”

Isna kelihatan ragu. Mungkinkah saya berdua bisa pulang dengan kondisi seperti ini?
Berulang-ulang saya yakinkan bahwa saya akan bisa sampai Surabaya dengan selamat. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Kenyataannya saat itu saya belum bisa duduk. Masih sesak.

dok pribadi

Isna mencoba ngotot untuk ikut pulang. Tapi saya tolak. Tiga anak kecilnya lagi di Makkah. Sedang saya, seberapa sakit pun, adalah ‘’anak besar’’.

Malam itu Isna mencari kontak. Siapa tahu ada kenalan yang besok malam juga pulang dari Madinah ke Jakarta. Tidak berhasil.

Tapi Isna menemukan kontak lain: rombongan dokter dari Surabaya yang lagi berada di Madinah. Mereka adalah Prof Teddy Ontoseno, dr Raditya Bagus Parama Bambie, dr Dian Arumdini, dr Azwin Mengindra Putera Lubis.

Besan mereka juga tergabung dalam rombongan umroh itu: Prof Rowena G. Hoesin,
dr Rozalina Loebis SpM, dr Amir Hasan Loebis dan dr Irfani Prajna Paramita.

Mereka bergegas menengok saya. Dengan peralatan dokter seadanya yang mereka bawa. Malam itu saya lebih tenang. Dikelilingi banyak dokter. Aman.

Baca Juga:  “Menjual” Toleransi di Kinibalu

Saya pun minta Isna menyusul suami dan anak-anaknya ke Makkah.

Rupanya Isna juga mengabarkan sakit saya itu ke Robert Lai. Teman baik saya di Singapura. Robertlah yang paling tahu riwayat kesehatan saya. Robertlah yang paling gelisah saat saya sakit. Maka Robert memaksa Isna untuk menerbangkan saya ke Singapura.

Robertlah yang merawat saya hampir dua tahun saat saya sakit kanker hati dulu. Robertlah yang menjadi polisi atas kesehatan saya. Dia tinggalkan kesibukannya sebagai lawyer perusahaan internasional. Hanya untuk menjaga selama saya menjalani transplantasi hati.

Dialah yang mengurus semuanya: rumah sakit, dokter, mencari hati baru dan seterusnya. Kini dia memaksa saya untuk langsung ke Singapura.

Tentu saya tidak mau. Tidak mungkin. Toh ini, seperti kata dokter di Madinah, hanya soal pencernaan yang harus ditunggu agar kembali normal.

Malam itu, saat Isna berangkat ke Makkah, saya sabar menunggu pencernaan saya kembali normal. Saya masih begitu percaya pada keterangan dokter bahwa ini hanya soal menunggu normalnya pencernaan.

Saya tidak mengira ada bencana besar yang tidak diketahui dokter. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: catatandahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Kalsel Tolak Impor Beras

Next Post

Dianggap Aib, Keluarga Pecandu Enggan Melapor

Related Posts

Maafkanlah Gubernur
Opini

Maafkanlah Gubernur

13 April 2026, 18:21
Kotak Kosong, Pesta para Oligarki
Opini

Kotak Kosong, Pesta para Oligarki

21 Juli 2024, 13:20
Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar
Opini

Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar

21 Juli 2024, 12:19
Merokok Bikin Kekasih Cacat
Catatan

Merokok Bikin Kekasih Cacat

16 Desember 2023, 11:27
Kursi vs Nurani
Opini

Kursi vs Nurani

3 Juni 2023, 13:08
Milenial dan Optimisme di Tengah Pandemi
Opini

Milenial dan Optimisme di Tengah Pandemi

30 Agustus 2020, 09:16

Terpopuler

  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Parkiran Semrawut di Tanjung Laut Bontang, Warga Keluhkan Akses Tertutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Bontang Berulah Lagi, Uang Curian Rp20 Juta Ludes untuk Judi Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 2.753 Warga Bontang Tak Lagi Ditanggung BPJS Gratis dari Pusat, Ini Solusi Pemkot

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dishub Bontang Siapkan Penataan Parkir Kafe di Tanjung Laut Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.