BONTANG – Dalam rangka kesiapan menghadapi bencana, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB) Bontang bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Bontang mengadakan Simulasi Tanggap Darurat Klaster Kesehatan. Kegiatan yang direncanakan berjalan selama 2 hari, Rabu (17/5) kemarin resmi dibuka Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni yang diwakili Asisten II Pemkot Bontang Bidang Pemerintahan dan Pemberdayaan Masyarakat Emlizar Mukhtar. Pembukaan dilakukan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bontang.
Dalam sambutannya, dikatakan Emlizar bahwa pemkot sangat menyambut baik dan memberi apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir, serta berterima kasih kepada Dinkes &KB serta BPBD yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini sesuai misi pemkot Bontang, yaitu menjadikan Bontang Smart City. Melalui kegiatan ini diharapkan peningkatan wawasan serta kesiapsiagaan seluruh SDM yang ada. Harapannya dengan kegiatan ini, maka sektor-sektor terkait dapat melaksanakan sistem koordinasi dan komunikasi yang baik. Sehingga pelayanan kesehatan pada korban bencana dapat tertanggulangi dengan baik,” ucapnya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Dinkes & KB Bontang Indriati As’ad, Kepala BPBD Bontang Ahmad Yani, Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Bontang Diana Nuryati, dan para peserta yang berasal dari BPBD, PMI, Rumah Sakit dan Puskesmas di kota Bontang, serta PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Badak NGL, PT Indominco, dan PT Trust.
Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan Adi Permana menjelaskan, kegiatan tersebut untuk menjelaskan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan kebencanaan dalam hal emergency kedaruratan, sehingga tim lapangan yang disebut Emergency Medical Team (EMT) mengetahui bagaimana teknik di lapangan dalam menghadapi bencana. Baik yang berhubungan dengan bencana harian maupun bencana alam, dengan pelatihan Table Top Exercise yang juga dilaksanakan pada kegiatan tersebut.
“Diharapkan dengan kegiatan ini, maka EMT bisa paham pelaksanaan di lapangan dengan SOP yang benar dari sisi komunikasi dan sisi penanganan korban. Sehingga penanganan korban bisa dilakukan dengan cepat, tepat, efisien, dan efektif. Bisa memilah untuk pasien, mana yang didahulukan atau mana yang bisa ditangani di tempat,” jelas pria yang juga menjabat Kepala Seksi Survelains, Imunisasi, dan Penanggulangan Wabah Bencana Diskes & KB tersebut.(*/rdy)







