Penarikan dukungan terhadap Rusmadi-Safaruddin oleh DPD Partai Hanura Kaltim dipastikan tidak akan berimplikasi terhadap penetapan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Pasalnya, proses pendaftaran dan penetapan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengacu pada data awal.
Komisioner KPU Kaltim, Rusdiansyah menegaskan, penarikan dukungan yang dilakukan Partai Hanura tidak akan berdampak pada pencalonan Rusmadi-Safaruddin. Terutama dalam persyaratan pendaftaran bakal calon.
“Itu tidak berpengaruh. Pemilu harus pasti. Tidak boleh ada yang mempermainkan pencalonan para calon. Jadi, kalau tahapannya sudah lewat, ya tinggal kita tunggu saja proses penetapan paslon,” ucap Rusdiansyah, Kamis (8/2) kemarin.
Selain itu, dia menyebutkan, penetapan persyaratan pendaftaran paslon mengacu pada surat kesepakatan antara partai dan paslon yang sebelumnya telah diserahkan ke KPU. Karenanya, paslon terkait tidak perlu khawatir.
“Ada yang namanya surat kesepakatan antara partai politik dan paslon. Itu yang jadi bahan pendaftaran. Itu juga yang jadi dasar acuan bagi kami. Ya, kalau enggak ada itu, kan paslon enggak akan mungkin lolos pendaftaran,” ujarnya.
Menurutnya, jika pun ada dampak dari penarikan dukungan itu, bukan yang berkenaan dengan KPU. Tetapi lebih kepada calon terkait. Misalnya berdampak secara dukungan politik. “Sebagai sebuah dasar yang akan mempengaruhi proses pencalonan tidak berpengaruh. Tidak akan berdampak terhadap syarat pencalonan,” tandasnya.
Senada dengan itu, pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Lutfi Wahyudi memandang, penarikan dukungan Hanura terhadap Rusmadi dan Safaruddin tidak akan memberikan implikasi apapun terhadap pencalonan keduanya di KPU.
“Begitu sudah terdaftar di KPU, sudah tidak bisa ditarik. Itu sudah final. Apapun yang terjadi di partai tersebut. Siapapun pengurusnya, otomatis sudah milik paslon. Bukan sebagai friksi-friksi. Kalau ada pengaruhnya, ya paling pada kinerja dalam memenangkan paslon,” jelasnya.
Sebagai antisipasi terhadap hal itu, tim sukses paslon yang harus meningkatkan kinerja. Karena, paslon ketika melakukan pendaftaran sebagai paslon, tidak hanya mengandalkan kinerja atau mesin partai pengusung. Tetapi paslon memiliki tim yang secara khusus dan intensif menangani proses pemenangan.
“Kalau untuk kasus pilkada, dukungan di masyarakat saya kira enggak berpengaruh. Karena pilkada itu pengaruh figur, bukan pertarungan partai. Sehingga partai hanya bertugas seperti mengantarkan seseorang ke dermaga. Setelah sampai dermaga, aman sudah dia (calon),” sebutnya.
Dia menambahkan, yang terpenting bagi setiap paslon sekarang adalah melakukan aktualisasi ke masyarakat. Di era yang serba modern sekarang, kemampuan aktualisasi dan program kerja calon akan akan jadi dasar acuan.
“Sekarang tinggal bagaimana dinamika calon mengaktualisasi dirinya merebut hati dan simpati masyarakat. Karena itu yang akan banyak berpengaruh, ketimbang kondisi internal partai pengusung,” pungkasnya. (drh)







