BONTANG – Pertamina secara resmi membuka project expose kilang minyak atau Grass Root Refinery (GRR) Bontang, Selasa (28/2). Kilang minyak berkapasitas 300 ribu barel tersebut rencananya akan terbangun di lahan negara seluas 400 hektare danakan mulai dibangun pada 2019 mendatang, serta diharap dapat beroperasi pada 2023 mendatang.
Demikian kata Wakil Ketua DPRD Bontang, Etha Rimba Paembonan bersama Ketua Komisi III DPRD Bontang, Rustam yang hadir dalam project expose tersebut di Grand Hyatt Hotel, Jakarta.
Kepada Bontang Post, Etha bercerita, dalam project expose yang dibuka Plt Direktur Utama Pertamina, Yenni Andayani dan Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, dijelaskan dalam jadwal yang telah disusun Pertamina, pada April 2017 pihaknya sudah harus menyelesaikan framework agreement dan Desember 2017 akan menyelesaikan consortium partner finalization.
Diharapkan pada 2023 setelah kilang ini terbangun, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri dan tidak lagi melakukan impor. “Karena saat ini, separuh dari kebutuhan BBM dalam negeri dipenuhi dari kuota impor,” jelas Yeni seperti dikutip Etha.
Dalam project expose tersebut, hadir 39 calon investor strategis yang hadir dalam acara ini antara lain perusahaan-perusahaan migas, bank dan lembaga pembiayaan, trader minyak, dan lainnya. Yang jelas, ada 95 calon investor telah tertarik menggarap proyek Kilang Bontang.
Pembangunan proyek kilang ini, lanjut Yeni, Pertamina hanya akan memiliki saham kurang dari 35 persen dari konsorsium yang ada. Namun, operasional dan marketing hasil produksi tetap menjadi tanggungjawab Pertamina.
Hasil produksi kilang ini juga diharap dapat diekspor ke negara lain seperti Filipina, Australia, dan lain-lain. “Bontang dipilih karena memiliki daya tarik investasi yang besar, sebab sudah memiliki banyak infrastruktur, seperti bandara, pelabuhan, perumahan, sekolah, perkantoran, dan lain-lain,” tambahnya.
Direktur Megaproyek, Kilang, dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi dari rilisnya kepada Bontang Post juga mengungkapkan, proyek GRR Bontang ini sangat menarik untuk investor dari sisi keuntungan lantaran jaminan pembeli dari Pertamina sendiri, serta potensi ekspor dari produk solar serta produk petrokimia.
“Pembangunan kilang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dari 1 juta barel per hari menjadi 2 juta barel per hari. Salah satunya dengan kilang Bontang ini. Di mana Pertamina melaksanakan mandat dari Presiden untuk pembangunan kilang Bontang sekaligus mencari investornya,” kata Hardadi.
Sementara Etha yang hadir mendukung penuh rencana pembangunan kilang minyak di Bontang ini. “Kita dukung agar terbangun, demi masyarakat Bontang. Supaya efeknya bisa dirasakan masyarakat seperti penyerapan tenaga kerja, dan multiplier efek lainnya untuk perekomian masyarakat,” ujar Etha. (zul)






