Diharapkan Beradaptasi di Sekolah Baru
BONTANG – Kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah mulai dilaksanakan Rabu (12/7) kemarin. PLS akan berlangsung selama tiga hari kedepan hingga Jumat (14/7) besok. Beberapa SMP sudah mengemas kegiatan ini dengan agendanya masing-masing, salah satunya SMPN 4 mengisi PLS dengan kegiatan ceramah.
“Sekolah kami melaksanakan PLS dengan kegiatan penyampaian materi tentang organisasi, perangkat, dan lingkungan sekolah,” terang Panitia PLS SMPN 4 Suriyanto.
Kegiatan PLS di SMPN 4 diisi dengan kegiatan yang mendidik. Penekanannya terdapat pada poin kepribadian peserta didik baru. Menururt Suriyanto aspek kepribadian lebih penting daripada aspek pengetahuan.
“Jika pribadi peserta didik baru bagus maka akan berbanding lurus dengan daya pengetahuannya,” tambahnya.
Mengenai atribut-atribut yang menjadi langganan saat pelaksanaan PLS berusaha dihilangkan, semisal peserta didik harus memakai pengikat rambut dan sebagainya. Sekolah bahkan memfasilitasi untuk membuat kartu nama peserta didik baru.
“Peserta didik baru lebih jauh mengenal sekolah dan beradaptasi secara cepat terhadap materi yang disampaikan pembicara,” harapnya.
Kegiatan ini juga dibarengi dengan pemeriksaaan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas Bontang Barat. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi rekomendasi kepada orang tua mengenai kesehatan peserta didik baru.
Lain halnya dengan SMPN 4, SMPN 1 menekankan peserta didik baru terhadap penguatan pendidikan karakter pada PLS ini. Sekolah yang menjadi piloting project ini menitik-beratkan terhadap lima aspek yakni religius, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, serta integritas.
“Selama tiga hari ini, peserta didik baru akan dilatih supaya cepat beradaptasi dengan lingkungan baru secara fisik dan non fisik. Fisik yang dimaksudkan ialah pengenalan perangkat sekolah sedangkan non fisiknya yaitu pendidikan karakter itu sendiri,” ungkap Kepala Sekolah SMPN 1 Purwanto.
Aspek religius misalnya peserta didik baru akan melakukan shalat dhuhur bersama sebelum mereka pulang. Aspek nasionalisme dapat terlihat saat peserta didik baru dilatih melalui Peraturan Baris-Berbaris (PBB) oleh kakak kelasnya. Peserta didik baru juga akan ditumbuhkan rasa kemandirian saat melakukan presentasi diri, artinya menghilangkan rasa ketidakpercayaan diri.
Menumbuhkan rasa cinta lingkungan dengan melakukan penataan taman di depan kelas masing-masing menjadi poin gotong-royong. Sedangkan aspek integritas sudah terlihat saat pelaksanaan PPDB kemarin dengan tidak adanya siswa titipan, artinya transparansi kepada publik sekolah lakukan.
Salah satu kegiatan PLS yang dilakukan oleh SMPN 1 ialah demo esktrakurikuler. Tiap ekstrakurikuler diberi jatah waktu 10 menit guna memberikan pencerahan kepada peserta didik baru untuk memilih kegiatan yang disukainya.
“Total ada 20 ekstrakurikuler yang eksis di SMPN 1,” tambahnya.
SMPN 1 juga terkenal sebagai sekolah ramah anak, artinya peraturan sekolah tanpa dilakukan pemberian poin hukuman. Sejauh ini, siswa memahami peraturan sekolah bahkan tiap kelas membuat kesepakatan bersama mengenai tata tertib tambahan di kelas masing-masing. Jumlahnya cukup bervariasi antara lima hingga tujuh peraturan.
“Karena sekolah ramah anak, setiap pelanggaran harus ditelusuri penyebabnya. Contohnya, saya perintahkan guru untuk mengecek ke rumah apabila ada siswa yang sering terlambat supaya solusinya dapat diketemukan, belum tentu anaknya salah, siapa tahu ada faktor lainnya,” tandas Purwanto.
Sehubungan dengan maraknya kasus kekerasan dan perploncoan saat PLS, kedua sekolah ini sepakat melaksanakan PLS dengan kegiatan yang positif. (*/ak)







