• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Nasional

Remisi Susrama Dikaji Lagi, Kemenkum HAM Libatkan Pakar Hukum

by M Zulfikar Akbar
2 Februari 2019, 10:50
in Nasional
Reading Time: 2 mins read
0
I Nyoman Susrama, terdakwa kasus pembunuhan wartawan Radar Bali A.A Narendra Prabangsa, dalam sidang di Pengadilan Negeri Denpasar (26/1). Susrama dituntut hukuman mati karena dinilai terlibat dalam pembunuhan berencana. ANTARA/Nyoman Budhiana

I Nyoman Susrama, terdakwa kasus pembunuhan wartawan Radar Bali A.A Narendra Prabangsa, dalam sidang di Pengadilan Negeri Denpasar (26/1). Susrama dituntut hukuman mati karena dinilai terlibat dalam pembunuhan berencana. ANTARA/Nyoman Budhiana

Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA – Gelombang tuntutan agar pemerintah mencabut remisi terhadap I Nyoman Susrama, pembunuh jurnalis Jawa Pos Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, pelan-pelan mendapat perhatian. Pemerintah melalui Ditjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) memastikan tengah mengkaji kembali pemberian remisi tersebut.

Keterangan itu disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Kemenkum HAM Sri Puguh Budi Utami kemarin (1/2/2019). Meski tidak banyak memberi penjelasan terkait kajian tersebut, perempuan yang akrab dipanggil Utami itu menyampaikan bahwa kajian masih dalam proses. ”Lagi, lagi dibahas. Nanti ya, nanti. Jangan sekarang,” ungkap dia ketika diwawancarai oleh awak media di Jakarta.

Berdasar penjelasan singkat yang disampaikan Utami, kemarin instansinya tengah membicarakan kajian tersebut dengan berbagai pihak. Bukan hanya internal Ditjen Pemasyarakatan saja, tetapi juga dibahas bersama pihak luar. ”Sekarang (kemarin) saya baru mau ke kantor kok. Menindaklanjuti, mau diskusi dengan teman-teman,” imbuhnya. ”Nanti kami akan ketemu dengan para pakar,” tambah dia.

Baca Juga:  Asyik.. 63 Warga Binaan Lapas Dapat Remisi

Pakar yang dimaksud oleh Utami adalah pakar hukum. Hanya saja dia tidak menyebut nama-nama pakar hukum tersebut.

Kabag Humas Ditjenpas Kemenkumham Ade Kusmanto menyampaikan bahwa sejauh ini instansinya belum pernah membatalkan remisi terhadap narapidana. ”Belum pernah tuh, belum pernah,” terang Ade. Apalagi sudah keluar Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 29 Tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Berupa Perubahan Dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Sementara.

Namun demikian, dorongan yang terus menerus muncul dari berbagai kalangan membuka peluang tersebut. Melalui Ditjenpas, Kemenkum HAM yang awalnya enggan mengkaji kembali pemberian remisi terhadap Susrama akhirnya bersedia melakukan itu. Berkaitan dengan kajian tersebut, Ade mengaku belum bisa terlalu banyak komentar. ”Seperti kata bu dirjen di Semarang. Dalam pengkajian dan pembahasan, sudah itu saja,” terang dia.

Ade belum tahu pasti sampai kapan proses pengkajian berlangsung. Yang pasti, itu tengah dilakukan oleh instansinya. ”Rekan-rekan harap bersabar menunggu hasil kajiannya,” tutur Ade.

Baca Juga:  Jelang Ramadan, Sembilan Koruptor di Bontang Diusulkan Dapat Remisi

Bagian apa dan mana saja yang dikaji? Dia menyampaikan bahwa kajian berdasar aspirasi dari pihak keluarga serta organisasi yang selama ini terus menyuarakan pencabutan remisi terhadap Susrama. ”Artinya (seperti) gambaran dari yang rekan-rekan sampaikan,” ujarnya.

Dari lain pihak, Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Anggara Suwahju juga menyampaikan bahwa selama ini memang belum ada catatan keppres berkaitan nasib narapidana dicabut atau diubah. Hanya saja, Anggara menggarisbawahi pemberian remisi terhadap Susrama dan ratusan narapidana lainnya tidak lazim. ”Karena, itu sebenarny

a pengubahan jenis hukuman, bukan pengurangan hukuman,” terang dia.

Sedangkan remisi merupakan hak asimilasi yang berbentuk pengurangan hukuman. Untuk itu, Anggara menilai perlu ada perubahan aturan agar polemik pemberian remisi yang terjadi saat ini tidak terulang kembali. Yakni dengan menempatkan keputusan pemberian hak asimilasi oleh pengadilan. Bukan melalui pemerintah atau eksekutif. Sehingga jaksa penuntut umum bisa menuntut pencabutan hak asimilasi terhadap pelaku tindak pidana.

Baca Juga:  22 Napi Bontang Dapat Remisi Natal

Misalnya, Anggara mencontohkan, tingkat kekejaman pelaku tindak pidana terlampau keji. Sehingga dinilai tidak layak mendapat hak asimilasi. ”Dia (jaksa penuntut umum) harus minta kepada pengadilan hak asimilasi (pelaku tindak pidana) dicabut, tidak diberikan,” imbuhnya. Selam ini, masih kata dia, pranata mekanisme pencabutan hak asimilasi sebagai bagian dari pidana tambahan belum ada dalam sistem hukum pidana di tanah air.

Karena itu, Anggaran menilai harus ada perubahan skala besar. ”Berarti harus ada perubahan yang cukup major,” ucap dia. Sehingga tidak ada lagi polemik atas pemberian hak asimilasi terhadap narapidana. Apabila tidak diubah bukan tidak mungkin hal serupa yang terjadi saat ini kembali terulang. ”Bukan berarti di masa depan nggak mungkin terjadi lagi polemik kayak begini,” bebernya. (syn/agm/jpg)

Tags: kemenkum hamnarendra prabangsanyoman susramaremisi
Share1TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Fahri Tagih Rp 30 Miliar ke PKS

Next Post

Pasutri Indonesia, Pengebom Katedral Jolo Filipina

Related Posts

952 Napi di Bontang Dapat Remisi Lebaran, 3 Orang Langsung Bebas
Bontang

952 Napi di Bontang Dapat Remisi Lebaran, 3 Orang Langsung Bebas

18 April 2023, 10:46
Masa Tahanan Lima Bulan Lagi, Pengendali Sabu 126 Kg Kini Terancam Hukuman Mati
Bontang

Jelang Ramadan, Sembilan Koruptor di Bontang Diusulkan Dapat Remisi

3 Maret 2023, 13:59
694 Warga Binaan Lapas Kelas II Bontang Terima Remisi Edisi Kemerdekaan
Bontang

694 Warga Binaan Lapas Kelas II Bontang Terima Remisi Edisi Kemerdekaan

17 Agustus 2020, 19:00
Bontang

Seorang Binaan Lapas Bontang dapat Remisi Langsung Bebas, Tapi Masih Ditahan 3 Bulan

24 Mei 2020, 15:50
624 WBP Lapas Bontang Diusulkan Terima Remisi
Bontang

624 WBP Lapas Bontang Diusulkan Terima Remisi

13 Mei 2020, 18:30
689 Warga Binaan Lapas Bontang Diusulkan Dapat Remisi
Bontang

689 Warga Binaan Lapas Bontang Diusulkan Dapat Remisi

17 Mei 2019, 13:45

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0
  • Berpura-pura Belanja, Komplotan Pencuri Gasak Tas Berisi Emas 200 Gram dan Rp30 Juta di Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.