Oleh:
H Khumaini Rosadi, SQ., M.Pd.I
Spagheti dan pasta juga pizza yang terbetik selalu dalam bayangan saya tentang italia. Sampai saya pun harus latihan makan makanan ini. Bahannya saya cari di supermarket besar di Bontang, Kalimantan Timur, lalu dibuatkan sphgeti berpasta dicampur daging cincang oleh istri saya agar nanti sesampainya di Italia melaksanakan tugas dakwah selama Ramadhan akan tetrbiasa, agar tidak kaget dengan makanan khasnya Italia. Khawatir nanti satu bulan di Italia, pulang-pulang malah kurus karena gak makan-makan, apalagi siangnya puasa.
Bayangan saya itu semua ternyata salah. Di sini selama Ramadan saya tinggal di wisma KBRI. Sajian makanan pun ternyata makanan khas Indonesia yang tidak asing lagi. Karena chefny pun dibawa langsung oleh Ibu Esti Andyni – Duta besar RI – dari Jawa. Ternyata yang saya khawatirkan itu tidak terjadi. Makanan menu buka dan sahur pun sesuai dengan selera Indonesia.
Lengkap dengan sayur asam dan ikan asinnya. Chefnya adalah ibu Suliah dan Kepala Rumah tangga yang selalu menyajikan makanan di atas meja dengan rapih adalah Mas Rahmadi. Dua-duanya dibawa langsung oleh ibu Dubes untuk membantu kebutuhan-kebutuhan keseharian ibu dubes di KBRI.
Keduanya memang sudah dipercaya oleh ibu Esti. Mas Rahmadi contohnya, sudah ikut sejak Ibu Esti bertugas di Oslo – Norwegia. Dan Ibu Suliah juga sudah berpengalaman lintas negara, sebelumnya pernah di Denhaag.
Mereka berdua adalah pahlawan juga. Orang yang membantu pahlawan negara juga pahlawan. Duta besar adalah pahlawan negara yang membantu urusan keluarnegerian presiden RI. Di dalam tugsnya banyak sekali urusan diplomatik antar negara Indonesia dan Italia yang harus dijaga baik-baik, termasuk juga urusan warga negara Indonesia yang bekerja atau mahasiswa dan berada di negara Italia.
Jika ada warga negara yng mendapatkan musibah atau sesuatu yang tidak diinginkan di sini, maka Duta Besar akan turun tangan menanganinya. Apalagi baru-baru ini ada warga negara Indonesia yang sakit keras.
Penyumbatan pembuluh darah di otaknya, tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berbaring di atas bangsal, sepertinya koma, sehingga harus diurus segala tindakannya. Termasuk menghubungi ahli warisnya jika kedapatan ada warga negara Indonesia yang meninggal dunia. Apakah dikuburkan di Italia atau dibawa pulang ke Indonesia. Ini adalah tugas yang mulia. (***)







