Anak keempat pasangan Syahrin-Siti Astuti itu nasibnya begitu malang. Di usianya yang masih bocah, dia sudah harus merasakan penyakit yang cukup parah.
Bambang. Bontang
Bocah yang kini berusia 2 tahun itu diduga sudah mengidap penyakit jantung bocor sejak lahir. Namun, kedua orang tuanya baru mengetahui penyakit tersebut ada di dalam tubuh anaknya saat usia Sandy berusia 5 bulan. Saat itu, Sandy kerap sakit-sakitan dan diperiksakan ke Puskesmas.
“Saat itu hanya sakit biasa saja katanya. Namun setelah beberapa kali dan kondisinya parah, saya bawa ke RS Yabis,” tutur sang ibu, Siti Astuti.
Di RS Yabis itu lah, Siti Astuti kemudian baru mengetahui adanya tanda-tanda jantung bocor yang diderita anaknya. Untuk lebih memastikan lagi, dokter di RS Yabis pun meminta Siti untuk membawa anaknya ke RSUD Taman Husada guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Rupanya benar, di RSUD bocah kelahiran Bontang, 16 Juli 2015 lalu itu positif terkena jantung bocor.
“Benar-benar kaget saat itu. Tidak pernah menyangka karena kami orang tuanya maupun kakak-kakaknya tidak pernah ada riwayat penyakit serupa,” terangnya kepada Bontang Post belum lama ini.
Adapun gejala-gejala yang dirasakan Sandy saat penyakitnya kambuh yakni badannya lemas, pernafasannya sesak, suaranya hilang, hingga darah yang keluar dari hidungnya. Pertumbuhan fisiknya pun juga cenderung lambat jika dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya.
“Terhitung, sudah empat kali anak saya ini dirawat di rumah sakit. Namun memang belum banyak perubahan,” sebutnya.
Karena ketiadaan biaya lantaran kondisi ekonomi yang terbatas, Siti pun akhirnya mengajukan pembiayaan pengobatan ke Pemkot melalui LK3 Bontang, maupun ke beberapa Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang ada di Bontang. Dirinya pun juga sempat mendapat rujukan pengobatan ke RS AW Syahranie Samarinda. Namun karena ketiadaan biaya akomodasi saat itu, akhirnya niat berangkat berobat pun gagal.
“Saya khawatir, kalau sampai parah nanti, jantung bocornya bisa sampai tembus ke paru-paru,” keluhnya.
Teranyar, Sandy Ramadan pun kembali mendapat rujukan ke Samarinda untuk memeriksakan kondisi anaknya. Dirinya berharap, akan ada donatur yang mau membantu dalam menyembuhkan penyakit anaknya.
“Saya sehari-hari hanya kerja laundry. Untuk sehari-hari saja saya pas-pasan. Semoga ada donatur yang mau membantu,” tukas wanita yang tinggal di RT 34 Loktuan tersebut. (***)







