BONTANG Kuala tak ubahnya setitik surga yang diturunkan ke bumi. Menyimpan daya tarik tersendiri bagi masyarakat baik lokal maupun luar daerah, hingga mancanegara. Tak hanya besar dengan potensi alamnya, namun juga jadi rumah bagi masyarakat menggantungkan hidupnya. Berikut ulasan tim Zetizen Bontang Post mengunjungi spot wisata terfavorit di Kota Taman. (*/nk/*/swr/*/len/*/mus/*/nf/*/res/*/tik/*/ce/*/np/zul)

Pesta Laut, Wujud Rasa Syukur
MEMASUKI perkampungan Bontang Kuala (BK), detak kehidupan laut begitu terasa. Kehidupan yang bebas namun saling mengokohkan sebagai orang pinggir laut. Napas mereka begitu lekat dengan hembusan aroma khas anyir. Desing suara kapal nelayan yang lalu lalang adalah irama hidup mereka yang seolah nyanyian hidupnya.
Kampung ini seperti tak pernah tidur. Pasalnya, riuh suara geladak kayu yang terlindas roda kendaraan bermotor tak henti-henti berbunyi. Bagi kita yang baru pertama kali mengunjungi BK mungkin terbesit tanya atau membayangkan, bagaimana bisa tidur di antara ributnya jalanan, kayu ulin yang seolah tiada henti? Bagaimana para balita bisa tertawa ceria berlarian di atas jalanan sempit yang di bawahnya air? Bagaimana kalau terjatuh? Yah, itulah menariknya kampung wisata laut Bontang Kuala.
Angin senja berhembus diiringi semburat awan jingga yang memesona ketika kami menginjakkan kaki di ujung pelabuhan BK. Harum wangi aneka jajanan para pedagang menambah nafsu lapar meningkat, puluhan pengunjung tampak asyik menikmati suasana sore bersama keluarganya.Bontang Kuala memiliki tradisi yang melekat di atas gulungan ombak yaitu Pesta Laut. Perayaan pesta laut menjadi daya tarik di Bontang Kuala. “Pencetus pesta laut sendiri dari tokoh-tokoh masyarakat,” ujar Mansyur (42), warga asli Bontang Kuala.
Diadakannya Pesta Laut menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya, namun tanggal perayaan tak ditetapkan. Pesta laut merupakan perayaan yang telah dilaksanakan sejak dahulu berkat kepercayaan masyarakat setempat dalam mensyukuri nikmat Tuhan.
Sejak dicetuskannya Pesta Laut, hal-hal aneh tak pernah terjadi dalam perayaan adat di Bontang Kuala tersebut. “Pesta laut merupakan wujud dari rasa syukur dan untuk melestarikan pesta laut hingga ke luar daerah,” sambung Mansyur. (*/nk/*/nf/*/np)

Tempat Wisata Pilihan
EKSOTIKA Bontang Kuala (BK) memang menarik perhatian masyarakat Bontang. Tak terkecuali yang dirasakan Agus dan keluarganya kala berkunjung ke kampung wisata di atas laut ini. Menurutnya, tak ada lagi tempat bersantai senyaman Bontang Kuala di Kota Taman. “Di Bontang enggak ada lagi tempat bersantai seperti BK, duduk-duduk melihat laut, menikmati angin, sambil duduk di area rumah di atas air. Beda gitu dari yang lain,” ucapnya.
Saking terpesonanya dengan Bontang Kuala, Agus bahkan juga ingin tinggal di kampung atas laut ini. Menurutnya, menjadi suatu kebanggaan untuk tinggal di wilayah pariwisata ternama di Bontang. “Jika ada rejeki, saya mau saja untuk tinggal disini. Namun karena profesi saya sebagai pedagang pasar di Pasar Telihan, maka untuk saat ini masih belum bisa untuk tinggal di area BK. Tapi keinginan sih ingin sekali,” pungkasnya. (*/res/*/tik/*/ce)

Masih Banyak Parkir Sembarangan
SEBAGAI tempat wisata, Bontang Kuala juga masih menyisakan masalah tersendiri. Membludaknya pengunjung, kerap kali membuat lahan parkir yang disediakan penuh. Tak heran, banyak pengunjung yang akhirnya memarkirkan kendaraannya di tempat yang tak seharusnya. Bahkan alasan mencari tempat yang strategis dan lebih dekat juga kerap kali digunakan. “Padahal tempat parkiran masih luas, tapi kadang pengunjung datang dan parkir sembarangan, maunya yang dekat,” ujar Yayang, salah satu pedagang di Bontang Kuala.
Hal itu terus berulang kali terjadi walaupun sudah diperingatkan dan diberi tulisan “Dilarang Parkir”. “Partisipasi pedagang di Bontang Kuala sangat penting, tetapi kesadaran dari para pengunjung sendiri jauh lebih penting,” lanjutnya.
Meski demikian, Bontang Kuala masih tetap menjadi spot terfavorit bagi masyarakat yang ingin menghabiskan akhir pekan. Biasanya, pengunjung baru datang ke Bontang Kuala saat matahari sudah mulai tenggelam. Seperti yang dialami Nada, salah satu pengunjung yang rutin ke Bontang Kuala tiap akhir pekan. “Kalau ke Bontang Kuala biasanya ramai-ramai sama keluarga. Seringnya sih, sore-sore setiap weekend,” ujar Nada.
Banyaknya jajanan dengan harga yang tidak menguras kantong jadi alasan para pengunjung sering datang ke Bontang Kuala, salah satunya bihun dan gorengan. Tempat-tempat yang biasa dikunjungi adalah sekitar belakang panggung dan kafe kapal. Bagi Nada, Bontang Kuala sudah menarik, tetapi akan lebih menarik jika lingkungannya terus dijaga agar tidak tercemar. Dia menginginkan, supaya di Bontang Kuala ditambah tempat untuk berteduh. “Misalnya semua meja diberi payung atau seperti gazebo,” sarannya. (*/swr/*/len/*/mus)







