SAMARINDA – Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang mengingatkan para orang tua, terutama mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu untuk tidak bermain-main dengan surat keterangan tidak mampu (SKTM) hanya demi memasukkan anaknya di sekolah tertentu. Pasalnya, jidak ada masyarakat yang kedapatan menyalahgunakan SKTM, Jaang mengaku tak segan-segan mengambil tindakan tegas.
Sikap tegas itu dikatakan Jaang usai rapat persiapan lomba sekolah sehat tingkat nasional tahun 2018, di Rumah Jabatan (Rujab) Wali Kota Samarinda di Jalan S Parman, Jumat (13/7) kemarin. “Kalau ketahuan pasti kami tindak, itu keterlaluan,” tegasnya.
Untuk itu, orang nomor satu di Kota Tepian ini pun mengimbau kepada seluruh masyarakat apalagi yang dikategorikan mampu jangan sampai ada yang memalsukan SKTM untuk keperluan pribadinya. “Dari RT harus dicek. Tidak mungkin RT setempat tidak tahu. Masa orang mampu dikeluarkan SKTM-nya,” ketus Jaang.
Karena menurutnya, orang kaya yang menggunakan surat SKTM hanya untuk memasukkan anaknya ke sekolah negeri sama saja tidak mensyukuri harta yang ia miliki dengan mengaku sebagai orang yang tidak mampu. “Itu namanya tidak bersyukur. Ibaratnya, masa orang tidak sakit dibilang sakit,” kata dia.
Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti mengatakan, sesuai Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018 mengenai penerimaan siswa tidak mampu minimal 20 persen di sekolah-sekolah negeri memiliki kelemahan. Harusnya, tidak hanya mengatur batas minimum penerimaan siswa dengan SKTM namun juga mengatur batas maksimalnya.
“Harusnya ada batasan, misalnya 20-30 persen. Inilah yang membuat celah akhirnya orang-orang kaya memakai SKTM atau pemalsuan berkas agar anaknya dapat diterima di sekolah yang diinginkan,” ungkap Puji.
Karena tidak adanya batasan tersebut, bisa jadi hampir semua calon siswa yang diterima dalam satu sekolah adalah siswa dengan keterangan tidak mampu. Sehingga, lanjut dia, bagaimana dengan siswa berprestasi di zonasi tersebut jika tersingkir karena mayoritas penerimaan mengutamakan siswa tidak mampu dengan SKTM.
“Akhirnya orang-orang tidak mampu yang ada di kawasan tersebut diterima semua, anak-anak yang berprestasi larinya kemana. Sedangkan mereka yang berprestasi sudah bekerja keras untuk mendapat nilai yang baik. Kalau dia tidak dapat masuk ke sekolah unggulan kan kasian juga. Ini menjadi masalah,” tuturnya.
Sehingga ia pun mengimbau agar semua kalangan, dari pejabat hingga masyarakat agar berhenti menyalahgunakan SKTM. Apalagi bagi mereka yang tergolong keluarga mampu. “Pemalsuan SKTM ini masalah moral,” pungkasnya. (*/dev)







