• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Susi Pudjiastuti; Ketamakan dan Keserakahan Akibatkan Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim

by BontangPost
9 November 2023, 12:09
in Lingkungan
Reading Time: 4 mins read
0
Share on FacebookShare on Twitter

bontangpost.id – Ancaman perubahan iklim yang terjadi belakangan membuat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti ikut bereaksi.

Menurut Susi, naiknya suhu udara, kemarau berkepanjangan,hingga curah hujan yang tak beraturan di Indonesia belakangan menunjukkan adanya permasalahan yang disebabkan keserakahan dan ketamakan manusia.

Hal ini diungkapkan Susi saat menjadi keynote speaker forum bertajuk “Narasi Media dan Peran Perempuan dalam Konservasi Laut dan Pesisir“ pada Green Press Community (GPC) yang diselenggarakan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (The Society of Indonesian Environmental Journalists/SIEJ) di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (9/11).

“Suhu panas ini juga erat kaitannya dengan perubahan iklim. Seperti panas terlalu tinggi dan hujan semakin tak beraturan. Lalu angin juga tak beraturan,” kata Susi.

Susi, yang berbicara lewat aplikasi Zoom, mencontohkan tempat tinggalnya di Pangandaran, Jawa Barat, yang dianggapnya makin panas.

Baca Juga:  Sungai Pengadan Diduga Tercemar

“Dulu kalau musim kemarau suhunya 19 sampai 20 derajat. Sekarang bisa sampai 27 derajat. Cuaca makin panas,” kata Susi.

Ia mengamini bahwa salah satu penyebabnya adalah ulah manusia.

“Penyebabnya kita yang melakukan kerusakan. Baik disengaja atau tidak. Tapi terbanyak karena ketamakan dan keserakahan,” jelas Susi dengan nada bicara agak meninggi.

Tak hanya faktor cuaca, Susi juga menyoroti dampak kerusakan lingkungan di laut hingga lahan pesisir. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya lahan tambak baru hingga berdampak pada berkurangnya kawasan mangrove dan bakau. Padahal, hutan bakau dan mangrove penting untuk mencegah kenaikan air laut ke darat.

Ia juga mencontohkan banyak nelayan tak bisa melaut ke tengah dan mengambil ikan di pinggir pantai. 

Baca Juga:  Ratusan Pemuda Siap Gagas Solusi Lingkungan

“Seperti di Natuna yang dulu banyak gurita di pinggir pantai, namun sekarang tak bisa karena sudah banyak diambil kapal pencuri ikan di tengah laut,” sebut dia.

Susi mengingatkan, untuk membereskan persoalan ini perlu ada kesadaran bersama.

“Pencegahan ini mesti ada kesamaan paham antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan , Kementerian Kelautan Perikanan dan industri,” jelas Susi.

Lalu ada gerakan sederhana untuk menanam pohon per orang.

“Penduduk kita ada 270 juta. Minimal 30 juta aja yang menanam, saya yakin terhindar [Indonesia] dari kekeringan, dan [perlu juga] kesadaran dalam menyiram air ke tanaman,” pesan Susi.

Lalu, kebijakan negara yang pro terhadap kelestarian lingkungan dan kelompok industri yang berkesadaran juga perlu ditumbuhkan.

“Industri penting untuk income tapi kita pikirkan juga soal kerusakan alam akibat industri itu. Harus ada keseimbangan,” jelas Susi.

Baca Juga:  Libatkan Partisipasi Perusahaan,BLH Lakukan Langkah Penanganan Lingkungan

Ia meyakini media dan para jurnalis punya peran besar untuk menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan, khususnya di kawasan pesisir.

“Jurnalisme adalah salah satu media paling efektif memberikan edukasi ke masyarakat. Kita mesti membuat platform yang diterima masyarakat, khususnya masyarakat pesisir,” pesan Susi yang selama jadi menteri kerap ‘menenggelamkan’ kapal ilegal ini.

Green Press Community merupakan ajang perdana yang diorganisasi oleh Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (The Society of Indonesian Environmental Journalists/SIEJ) guna menghimpun ide dan memantik gerakan bersama untuk melestarikan lingkungan hidup di Indonesia.

Berlangsung sejak Rabu (8/11), GPC menghadirkan berbagai learning session, talk show, dan konferensi yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk pers, organisasi non-pemerintah, dan mahasiswa. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: lingkunganSIEJ
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

BPBD Bontang dan Stitek Berebut Gedung

Next Post

Soal Polemik BPBD dan Stitek, Dewan Sarankan Dua Opsi

Related Posts

Perubahan Iklim Masih Hadapi Tantangan Serius
Nasional

Perubahan Iklim Masih Hadapi Tantangan Serius

25 November 2024, 14:42
Mengurai Penyebab Minimnya Pemberitaan Tentang Krisis Iklim dalam Rembuk Ilmuwan dan Media SIEJ Bersama Pulitzer Center
Nasional

Mengurai Penyebab Minimnya Pemberitaan Tentang Krisis Iklim dalam Rembuk Ilmuwan dan Media SIEJ Bersama Pulitzer Center

23 November 2024, 17:44
Masyarakat Keberatan Terhadap Penundaan EUDR yang Dianggap Mengancam Deforestasi Indonesia
Nasional

Masyarakat Keberatan Terhadap Penundaan EUDR yang Dianggap Mengancam Deforestasi Indonesia

22 November 2024, 14:53
Diskusi SIEJ Soroti Dampak Pembangunan IKN Terhadap Lingkungan dan Masyarakat Lokal
Kaltim

Diskusi SIEJ Soroti Dampak Pembangunan IKN Terhadap Lingkungan dan Masyarakat Lokal

31 Oktober 2024, 22:01
Desak Pemerintah Tindak Tambang Ilegal 
Kaltim

Desak Pemerintah Tindak Tambang Ilegal 

29 Maret 2018, 11:32
Sungai Pengadan Diduga Tercemar
Breaking News

Sungai Pengadan Diduga Tercemar

6 September 2017, 11:04

Terpopuler

  • Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mini Soccer HOP 1 Bontang Ditutup Mulai Mei, Proyek Lanjutan Rp17,5 Miliar Segera Dikerjakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerindra Kaltim Semprot Rudy Mas’ud usai Bandingkan Diri dengan Hashim Djojohadikusumo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Investasi Bodong Emas Digital di Bontang, Terlapor Mulai Diperiksa Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antrean Truk Solar di SPBU Tanjung Laut Bontang Kian Parah, Usaha Warga Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.