Pembukaan Jambore Generasi Hijau Nasional (JGHN) 2017
Kota Taman kedatangan tamu istimewa. Sekira 200 pemuda dari 27 provinsi, 65 kabupaten kota, dan 95 sekolah dari seluruh Indonesia berkumpul di Bontang. Ide-ide besar soal lingkungan siap dihasilkan dari para pemuda yang menamakan diri Green Generation (GG) Indonesia.
Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang
NUANSA nusantara kental terlihat, saat memasuki ruang pertemuan yang berada tepat di sisi kolam renang Oak Tree Hotel, tempat jambore digelar. Berbagai baju adat dikenakan, menunjukkan dari daerah mana mereka berasal. Pun kehadiran para Duta Wisata Bontang yang menyambut setiap tamu yang menghadiri pembukaan Jambore Generasi Hijau Nasional (JGHN) 2017 di Bontang.
Deretan pameran karya hasil produk daur ulang dari berbagai sekolah di Bontang pun menghiasi lorong-lorong dan sudut-sudut ruang tempat pertemuan. Menandakan jambore ini benar-benar mencintai lingkungan tak hanya sebatas retorika, namun juga aksi nyata.
Aura cinta lingkungan itu jelas terlihat, dari botol-botol tumbler yang terlihat dibawa oleh masing-masing peserta. Mengurangi sampah plastik, jadi salah satu komitmen nyata GG Indonesia terhadap lingkungan. Program besar untuk lingkungan apa lagi yang akan mereka gagas, akan segera terjawab dalam jambore yang digelar mulai 19-25 Agustus 2017.
Ketua Panitia JGHN 2017, Muhammad Jainuddin mengatakan, tema yang diusung pada jambore kali ini yakni Let’s Action. Penyelenggaraan jambore kali ini pun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumya dilakukan dengan kamping di alam, kali ini dilakukan di hotel. “Kali ini juga terasa istimewa karena dihadiri Wakil Bupati Siak, yang insyaallah akan menjadi tuan rumah JGHN 2018,” katanya, kemarin (20/8) malam.
Sementara Presiden GG Indonesia, Pandu Dharma Wicaksono menyebut, GG Indonesia sejatinya sudah menyebar di 34 provinsi, 133 kabupaten kota, dan lebih dari 518 sekolah se Indonesia. Bahkan, pada 2015 lalu GG Indonesia sudah melebarkan sayap hingga mancanegara, dengan membuka chapter di Rusia, Malaysia, Belanda, dan Turki. “Ini menjawab pertanyaan kepada saya, kenapa namanya pakai bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia menjadi Generasi Hijau. Supaya kami bisa mendunia,” ujar Pandu.
Dalam jambore ini, lanjutnya, para peserta akan diajak untuk berdiskusi dan membicarakan persoalan lingkungan, terutama di Indonesia. Selain itu, di akhir jambore akan dicanangkan proyek nasional yang akan menjadi gerakan nasional di GG daerah di seluruh Indonesia.
“Kami dulu punya Hari Anti Plastik, kemudian di tahun sebelumnya juga punya Gerakan Membawa Botol Minum atau Gembol. Kali ini kita tunggu gerakan dari teman-teman di Bontang ini agar menjadi promotor gerakan-gerakan yang bermanfaat untuk lingkungan kita,” ungkapnya.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menyambut baik gerakan yang digagas oleh anak-anak muda. Mengutip perkataan E Roosevelt, Mantan Presiden Amerika Serikat itu menyebut jika terdapat tiga jenis pikiran yang ada dalam diri manusia, yakni berpikiran sempit, menengah, dan besar. “Kalau yang berpikiran sempit hanya membicarakan orang, maka hanya orang-orang besar yang membicarakan ide atau gagasan, dan itu saya lihat dari seluruh peserta jambore yang hadir saat ini,” ujar Neni.
Dirinya pun berharap para peserta jambore dapat menghasilkan hal-hal yang positif demi kemajuan lingkungan di daerah masing-masing dan Indonesia pada umumnya. “Selamat berjambore, GG Jaya!” pungkas Neni sembari memukul gong, tanda dimulainya JGHN 2017 di Kota Taman. (***)







