Sektor putra menjadi titik terlemah untuk cabor tenis meja di ajang porprov mendatang. Sekretaris Umum Pengkot Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Bontang Ahmad Fitriansyah mengatakan, banyak atlet putra yang hijrah dari Bontang lantaran kurangnya perhatian dari Pemkot Bontang. Sebanyak 6 atlet putra memutuskan pergi ke daerah lain untuk mencari pekerjaan.
“Ada yang pulang ke Solo, Tasikmalaya, dan Samarinda,” kata Fitriansyah kepada Bontang Post, Senin (23/4).
Ia mengaku selama ini atlet hanya diguyur bonus saja setelah mendapat prestasi. Sementara masa depan atlet tersebut tidak diapresiasi, mengingat atlet juga akan pensiun dari olahraga lantaran faktor usia. “Kalau hanya bonus saja otomatis cepat habisnya,” ujarnya.
PTMSI Bontang pun tidak bisa membujuk atlet untuk tetap bertahan. Mengingat jaminan kehidupan para atlet tidak bisa ditanggung oleh pengurus cabor.
Sementara di sektor putri terdapat satu atlet memilih pulang kampung ke Palembang. Pun demikian, faktor susahnya mencari lapangan kerja menjadi sebuah penyebab.
Kini, PTMSI Bontang lebih memilih untuk melakukan pembinaan atlet muda sejak dini. Tercatat 8 orang berstatus pelajar sekolah dasar sudah digembleng teknik bermain tenis meja. Oleh karena itu, PTMSI Bontang enggan untuk memakai jasa pemain “impor”.
“Kami membina dari yang setengah bisa menjadi profesional, tidak seperti daerah lain yang mengambil pemain dari luar pulau,” ucapnya.
Fitriansyah berharap adanya perhatian dari Pemkot Bontang berkaitan dengan hal ini. Pasalnya tenaga atlet kelak akan tetap dipakai guna regenerasi pemain. “Idealnya berikan lapangan pekerjaan, supaya tidak mencari pekerjaan di daerah lain. Sehingga walupun umur sudah senior paling tidak dapat membina atlet usia dini,” tuturnya.
Pindahnya beberapa atlet juga memaksa PTMSI Bontang menurunkan target porprov dibanding raihan sebelumnya. Saat 2010 lalu, Bontang menjadi juara umum di cabor tenis meja. Dari 7 nomor tanding, tim Bontang berhasil membawa pulang 6 medali emas.
Selain berkaitan pembinaan atlet, PTMSI juga mengeluhkan kucuran anggaran untuk pemusatan latihan yang belum turun. Fitriansyah mendapat informasi jikalau dana tersebut dapat diterima pengurus cabor bulan depan.
Jika ditelisik, kebutuhan anggaran untuk trainning center cabor tenis meja mencapai puluhan juta. Adapun perlengkapan latihan merupakan pos yang menyedot jumlah biaya terbanyak.
“Tenis meja terlihat sederhana, tetapi menyedot anggaran yang luar biasa, karet bet satu lembar saja harganya Rp 550 ribu, jadi bolak-balik Rp 1,1 juta. Kayu bet rata-rata Rp 1 juta, itu masih perlengkapan belum kostum dan konsumsi,” paparnya.
Saat ini pembiayaan latihan rutin menggunakan dana pribadi pengurus. Tak hanya itu, beberapa perusahaan juga ikut andil walupun nominalnya dikatakan Fitriansyah tidak besar. (ak)







