bontangpost.id – Kasus difteri telah masuk di Kota Taman. Dari akhir tahun lalu hingga saat ini tercatat enam pasien dinyatakan terpapar virus ini. Rinciannya lima pasien dengan hasil positif telah sembuh pada akhir tahun lalu. Serta satu pasien yang secara klinis positif dan masih mendapatkan perawatan saat ini.
Namun demikian Pemkot Bontang tidak mengeluarkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri.
Sekretaris Kota (Sekkot) Aji Erlynawati mengklaim berdasarkan informasi dari Diskes bahwa pasien telah sembuh.
“KLB tidak diberlakukan karena sudah sembuh semua,” kata pejabat yang akrab disapa Iin ini.
Saat ini Pemkot Bontang menggalakkan imunisasi secara terbatas. Menyasar anak usia balita hingga 12 tahun. Utamanya bagi mereka yang belum lengkap cakupan imunisasinya. Pelaksanaan ini dilakukan di sekolah, puskesmas, hingga posyandu.
“Imunisasi ini digelar selama satu bulan,” ucapnya.
Sejatinya kondisi serupa juga pernah terjadi di 2018 silam. Kala itu ada tujuh pasien yang terkena penyakit serupa. Namun Pemkot juga tidak mengeluarkan status KLB.
Diketahui, setelah lima kasus hasil pengujian dinyatakan positif pada akhir tahun lalu, kini satu pasien dipastikan secara klinis difteri.
Kasi Surveilans, Imunisasi, Wabah, dan Bencana Dinas Kesehatan (Diskes) Adi Permana mengatakan pasien tersebut merupakan rujukan sebelumnya dari Puskesmas Bontang Selatan II.
“Pekan lalu ada tambahan kasus klinis satu pasien. Jadi ada enam totalnya,” kata Adi.
Pasien ini berusia lima tahun. Senin lalu ia mengeluhkan batuk, pilek, dan nyeri menelan. Kemudian langsung dirujuk di RSUD Taman Husada. Sekarang mendapat penanganan di ruang isolasi yang sebelumnya dipakai pasien Covid-19. Virus ini menyebar melalui udara.
“Khasnya ialah ada membran tebal di dalam tenggorokan dan nyeri menelan. Ini menyerang salam pernapasan atas. Nyeri karena tersumbat karena ada membran yang keras,” ucapnya.
Sementara satu pasien ini sudah dilakukan pengujian, Kamis lalu. Namun sampel masih dikirim. Membutuhkan waktu sepekan hingga dua pekan untuk kesembuhan. Empat pasien sebelumnya merupakan hasil tracing. Adapun dua pasien, termasuk yang baru ialah tidak ada kontak erat.
“Ini yang kami masih meraba-raba. Karena kalau kontak erat mudah untuk memutus rantainya,” tutur dia.
Diskes pun juga sudah mengirimkan data ini ke Kemenkes. Terkait dengan ditemukannya kasus difteri. Saat disinggung apakah keluar keputusan kejadian luar biasa (KLB), ia menyerahkan sepenuhnya kepada kepala daerah.
“Kami sudah buat instruksi wali kota kepada masyarakat dan sekolah untuk melakukan vaksinasi terbatas,” sebutnya.
Vaksinasi yang dikerjakan ialah untuk melengkapi ketinggalan penyaluran vaksin. Mengingat tahun sebelumnya vaksinasi di posyandu terkendala dengan pandemi covid-19. Sehingga masih ada potensi yang belum mendapatkan vaksinasi penuh.
“Sampai siswa sekolah dasar yang ketinggalan karena dulu pernah tidak ikut vaksinasi bisa dilengkapi. Sambil dievaluasi, kejadian ini sudah selesai atau tidak,” terangnya.
Penyakit ini sebagian besar menyasar anak. Walaupun ada kasus juga mengarah ke orang dewasa. Hanya kondisi klinis bagi anak-anak lebih parah jika terkena. Ini merupakan kebalikan dari Covid-19.
“Kebetulan kasus yang ada ini di rentan usia 3-10 tahun,” pungkasnya. (ak)







