Hari Ini, KPG Kutim Galang Dana untuk Nurul
Nurul Mariamdani, balita 3,5 tahun yang ususnya terburai setelah operasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Syahranie (AWS) Samarinda, masih terus berjuang memulihkan kesehatannya. Usus yang kini masih berada di luar tubuhnya, dikatakan akan dikembalikan lagi. Tapi harus bersabar hingga Juni.
Diketahui, perekonomian keluarga Nurul yang terbatas membuat bocah perempuan ini hanya bisa diobati maksimal jika atas bantuan orang lain. Dia yang kini sedang dirawat di RSUD Kudungga Sangatta Kutim, merupakan bujukan dari Pemkab setempat, sehingga dibantu pembiayaannya. Padahal, ibu pasien, Sartika (23), trauma terhadap pengobatan medis, dan tidak ingin kembali ke rumah sakit.
Rencananya, Kaltim Post Grup Biro Kutim akan menggelar aksi galang dana bagi Nurul di kawasan simpang tiga Jalan Pendidikan, Sangatta. Aksi ini dimulai sekira Pukul 15.00 Wita, Kamis (30/3) hari ini. Masyarakat yang ingin turut meringankan bocah malang ini bisa ikut berpartisipasi.
Terakhir saat dijumpai Kaltim Post di RSUD Kudungga Sangatta pada Selasa (28/3), Nurul masih dalam kondisi yang sama. Perban di seputaran tubuhnya masih tampak. Saat itu, dia sedang bermain dengan adiknya yang berusia 1,5 tahun, Nahda Mariamdani.
Ayahnya, HAmdi Ismail (30) meminta, agar RSUD AWS Samarinda bertatap muka dengan pihak keluarganya. Tujuannya, tidak memberikan keterangan sepihak kepada media. Untuk memperjelas permasalahan, sehingga tidak ada ketimpangan informasi, dan menghindari salah paham antar pihak.
“Semestinya pihak RSUD AWS Samarinda menghadirkan juga pihak keluarga saat melakukan pers release (27/3). Supaya orang-orang tidak salah menilai,” tukas Hamdi, ditemui di RSUD Kudungga, Selasa.
“Dari RSUD AWS tidak mengirim lagi obat-obat untuk Nurul, makanya kami pergi dari sana,” timpalnya lagi.
Lebih lanjut diterangkannya, pada saat Nurul dirawat di RSUD Kudungga pertama kali pada Oktober 2016, seminggu perawatan tidak menemui tindakan final. Sebab dokter spesialis di RSUD Kudungga saat itu dikabarkan sedang berada di luar negeri. Ditambah lagi, peralatan RSUD Kudungga yang dikatakan kurang lengkap dibanding RSUD AWS Samarinda.
Diketahui, awal mula cerita Nurul dibawa ke RSUD Kudungga karena mengalami sakit perut. Setelah dirawat inap empat hari, bocah perempuan tersebut dirujuk ke RSUD AWS Samarinda, dan menjalani perawatan selama empat bulan, dengan dua kali operasi, sejak Oktober 2016.
Humas RSUD AWS Samarinda dr Muhammad Febian Satrio sebelumnya sudah membantah, bahwa keadaan yang dialami Nurul sebenarnya bukan malapraktik. Nurul divonis mengalami peradangan usus, berdasarkan diagnosis harus menjalani operasi oleh dokter spesialis bedah. Kemudian ditemukan peradangan di usus buntu dan usus besarnya, dan terjadi kerusakan parah, sehingga harus operasi.
Tapi seiring berjalannya waktu karena kondisi kesehatan Nurul yang terus menurun, terjadilah komplikasi. Pihak RSUD AWS Samarinda menyatakan, kondisi Nurul pada dasarnya kekurangan gizi sehingga sulit sembuh. Operasi kedua pun dilakukan untuk membersihkan infeksi yang semakin melebar. Luka yang dialami Nurul di bagian perut yang luka mengeluarkan kotoran.
Diterangkan, rumah sakit pelat merah itu sudah mengimbau orangtuanya untuk tetap menjalani perawatan di rumah sakit, sampai tahapan pengobatan selesai. Seiring berjalannya waktu, pihak orangtua Nurul tetap ingin pulang, karena luntur kepercayaannya.
Kini, Hamdi mengatakan, dia akan membawa Nurul kembali ke RSUD AWS Samarinda seperti waktu yang ditarget oleh pihak rumah sakit, yakni Juni 2017. Perawatan di RSUD Kudungga itu sambil menunggu kondisi kesehatan dan berat badannya meningkat. (mon/kpnn/hd)







