SANGATTA – Mendekati Ramadan sejumlah bahan pokok mulai merangkak naik, tidak hanya itu, gas elpiji 3 kilo gram pun mengalami kenaikan serta kelangkaan di wilayah Sangatta Selatan maupun Sangatta Utara.
Mardiah salah seorang pedagang Sangatta Selatan, mengeluhkan kelangkaan dan kenaikan harga gas elpiji. Dirinya mengaku kerap kesulitan mendapatkan gas untuk dijual kembali lantaran sering mengalami kekosongan stok. Selain itu, dia juga mendapatkan harga yang cukup tinggi yaitu sebesar Rp 27 ribu.
“Saya beli dua puluh tujuh ribu rupiah, soalnya mulai langka lagi mau gak mau saya jual lagi jadi tiga puluh ribu rupiah. Selain itu, saya jugakan memakai gasnya, sebentar lagi puasaan, takutnya susah dapatnya, malahan tidak bisa masak untuk buka puasa keluarga,” jelasnya saat ditemui di warungnya, di Sangatta Selatan, Kamis (26/4).
Menurutnya naik turunnya harga gas elpiji memang sering kali ia rasakan, ditambah mendekati ramadan. Dirinyaa berharap pada pemerintah agar dapat menambah pasokan elpiji. Kata Mardiah banyak warga yang mengeluhkan hal seperti ini.
“Sudah biasa, kalau mendekati bulan puasa pasti langka. Kemudian harganya juga semakin naik. Tipis sekali keuntungan, paling-paling hanya dua sampai tiga ribu saja. Sudah gitu para pembeli pasti mengeluh kemahalan,” ujarnya.
Sementara itu, Kasi Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Kutim, Achmad Dony Evriady, mengimbau agar masyarakat tidak membeli gas elpiji dieceran melainkan langsung ke pangkalan. Ia menegaskan setiap pangkalan tidak diperkenankan menjual pada pengecer atau warung-warung dalam kapasitas berlebih. Jika terdapat agen resmi yang ketahuan menjual lebih dari lima, maka pemerintah akan menindak tegas agen dan penyalur tabung gas elpiji tersebut.
“Apabila kami menemukan pangkalan yang berbuat curang dan tidak mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan, kami akan tindak tegas untuknya. Jika memang masih ingin berdagang, saya rasa mereka harus berbuat jujur,” ujarnya.
Menurut Dony, Sangatta tidak mengalami kelangkaan. Hanya saja banyak pengecer yang menjual dengan harga tinggi. Hal tersebut menjadi keluhan masyarakat.
“Saya minta warga juga lebih bijak untuk membeli di agen resmi yang ada dibawah pegawasan kami, karena harganya hanya Rp.25 ribu saja. Saya rasa cukup berbeda jauh dengan pedagang eceran,” terangnya. (*/la)







