BONTANG – Maraknya kemunculan ular piton di permukiman warga akhir-akhir ini menjadi teror bagi warga Kota Taman. Bahkan, beberapa diantaranya harus mengalami luka yang cukup serius lantaran gigitan hewan bergigi tajam tersebut.
Menurut Kepala Balai Taman Nasional Kutai (TNK) Nur Patria, setidaknya ada tiga faktor pemicu yang mempengaruhi hewan tersebut sehingga menampakkan wujudnya ke tengah-tengah permukiman warga. Diantaranya, ketersediaan pakan yang tidak mencukupi, tempat berlindung yang sudah tidak aman, serta ketersediaan air yang sudah tidak ada.
Dari tiga faktor tersebut, Nur Patria menilai, pemicu yang paling memungkinkan terjadi di Bontang adalah, karena minimnya ketersediaan pangan serta tempat berlindung yang sudah tidak aman. Sementara untuk ketersediaan air, hal ini dinilai tidak menjadi pemicu, lantaran ketersediaan air di alam Bontang yang masih mencukupi.
Dari faktor ketersediaan pangan misalnya, dalam ekosistem yang dihuni ular tersebut kemungkinan besar sudah tidak seimbang lagi lantaran siklus rantai makanan sudah ada yang terputus. Baik itu di wilayah TNK sendiri, hutan lindung, Ruang Terbuka Hijau (RTH), maupun di tempat-tempat yang sebelumnya tersedia “kantong-kantong” makanan.
“Namun wilayah TNK di Bontang ini sebagian besar adalah hutan mangrove. Sementara kita ketahui bersama, saat ini banyak hutan lindung dan RTH yang justru dialihfungsikan menjadi permukiman warga. Sehingga fungsi utamanya hilang,” sebutnya Rabu (21/6).
Hal inilah yang menjadi pemicu timbulnya fakor kedua yakni tempat berlindung yang sudah tidak aman. Dikatakan Nur, bisa saja kemunculan ular piton ke tengah-tengah warga ini karena habitat sebelumnya sudah dirusak atau dialihfungsikan oleh manusia untuk kepentingan pribadi, seperti mendirikan bangunan ataupun aktivitas lainnya. Sehingga ular-ular tersebut tak memiliki tempat tinggal lagi.
“Jadi sebenarnya bukan ular itu yang muncul ke warga, tetapi bisa jadi disitulah tempat awal mulanya dia hidup. Karena tidak mendapatkan makanan, akhirnya ular tadi mencari hingga ke permukiman warga,” jelasnya.
Kendati demikian, jika masyarakat menemukan ular muncul di permukiman warga, dirinya menyarankan untuk tidak bersikap langsung menyakiti apalagi sampai membunuhnya, Melainkan langsung melaporkan kejadian tersebut kepada instansi pemerintah yang berwenang dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ataupun DInasPemadan Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) selaku petugas penyelamat.
Nantinya petugas akan melakukan penanganan evakuasi dengan cara yang arif dan bijak, sehingga tidak sampai melukai satwa tersebut. Dan bila tertangkap, akan dikembalikan ke habitat awalnya sesuai dengan jenis hewannya.
“Sebenarnya bila satwa itu ditemukan di luar kawasan TNK, bukan kewenangan kami. Kecuali bisa terjadi di kawasan TNK, tanpa disuruh pun kami akan langsung turun. Namun apabila kami diminta tolong oleh masyarakat, kami juga tidak bisa menolak karena kami juga memiliki moral untuk itu,” tukasnya. (bbg)
Hasil Tangkapan Ular Piton Disdamkartan
Periode Maret-Juni 2017
Tanggal Jumlah Ukuran Tempat Ditemukan
12 Maret 1 3 Meter Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Berebas Tengah
15 Maret 1 4 Meter Jalan Pancasila, Kelurahan Api-Api
28 April 2 3 & 4 Meter Jalam Achmad Yani, Kelurahan Api-Api
17 Mei 1 3 Meter BTN KCY, Kelurahan Api-Api
21 Mei 1 4 Meter Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Bontang Baru
9 Juni 1 4 Meter Jalan Cut Nyak Dien, Kelurahan Bontang Baru
SUMBER: Disdamkartan
Dari pantauan Bontang Post, ular pernah ditemukan di…
– Sekitar rumah warga (pekarangan, parit, kolong rumah)
– Didalam rumah (kamar mandi)
Lokasi
Bontang Utara: 6 Kasus
Bontang Barat: 1 Kasus
Bontang Selatan: 17 kasus
(SUMBER: Rangkuman berita Bontang Post/kelurahan, sejak oktober 2016)
Total Wilayah Taman Nasional Kutai
192.709,55 hektar
Wilayah Taman Nasional Kutai di Bontang
610 hektar (0,25 %)
Luasan wilayah
– Hutan Mangrove Tanjung Limau hingga Bontang Kuala seluas 290 hektar.
– wilayah Hutan di Guntung seluas 320 hektar.
SUMBER: TNK
Tentang Piton Sanca Batik
Sanca kembang atau sanca batik adalah sejenis ular dari suku Pythonidae yang berukuran besar dan memiliki ukuran tubuh terpanjang di antara ular lain.
Ukuran terbesarnya dikatakan dapat melebihi 8.5 meter dan merupakan ular terpanjang di dunia. Sedangkan nama ilmiahnya yang sebelumnya adalah Python reticulatus, kini diubah genusnya menjadi Malayopython Reticulatus.
Karakteristik menonjol dari Malayopython Reticulatus adalah pola warnanya. Orang Indonesia menyebutnya menyerupai batik sehingga menyebutnya Sanca Batik. Sementara, ilmuwan menyebut pola warna ular itu menyerupai jaring sehingga menyebutnya “reticulated snake”.
Sebaran
Piton Sanca Batik menyebar di hutan-hutan Asia Tenggara. Mulai dari Kep. Nikobar, Burma hingga ke Indochina; ke selatan melewati Semenanjung Malaya hingga ke Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara (hingga Timor), Sulawesi; dan ke utara hingga Filipina (Murphy and Henderson 1997).







