bontangpost.id – Sejumlah kasus stunting di Bontang Selatan dipaparkan. Begitupun dengan faktor risiko dari anak yang terindikasi stunting.
Dokter Spesialis Anak Kota Bontang Thoufik Hidayat menyebut, faktor risiko dari kasus yang ditemukan dipengaruhi oleh beberapa hal. Di antaranya asupan gizi yang belum adekuat, pemahaman yang kurang terkait dengan pola asuh, hingga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang masih minim.
“Kemudian mayoritas juga disebabkan balita ini menjadi perokok pasif. Banyak yang terpapar asap rokok, dan ini jadi salah satu faktor risikonya,” sebutnya.
Menanggapi itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Bontang Edy Forestwanto menuturkan, upaya berupa pemberian makanan tambahan saja, menurutnya tak cukup.
Apalagi bila faktor risiko lain belum terputus, sebab persoalan stunting teramat kompleks. “Bukan hanya asupan gizi, tetapi ada faktor lain seperti lingkungan yang mesti diperhatikan,” tuturnya.
Adapun Wakil Wali Kota Bontang Najirah mengakui bila balita yang terindikasi stunting banyak berasal dari wilayah Bontang Selatan. Meski begitu, ia tak menyebut secara rinci jumlahnya.
Hal tersebut pun dapat dikaitkan dengan jumlah stunting di wilayah pesisir cenderung lebih tinggi. Ia tak menampik bila wilayah pesisir menjadi daerah yang rawan.
“Kelurahan Berbas Pantai salah satunya (balita stunting terbanyak), tentu tidak akan luput dari perhatian kami,” tandasnya. (*)







