SANGATTA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur (Kutim) kini tengah fokus mengembangkan batik lokal. Mengingat, selain dapat menjadi ciri khas daerah, batik juga menjadi identitas bangsa Indonesia.
Kadisperindag Kutim Kutim Edward Azran mengatakan, batik merupakan indentitas bangsa Indonesia. Apalagi, saat ini dunia internasional mengakui batik merupakan milik Indonesia.
“Batik yang merupakan karya Adi Luhung, anak bangsa harus dikembangkan serta dilestarikan. Sehingga puluhan generasi mendatang masih bangga dengan batik,” ujar Edward saat membuka Pelatihan Batik dan Tenun, baru-baru ini.
Pelatihan yang digelar Disperindag Kutim, diakuinya untuk mendorong pelaku bisa mengembangkan usaha dan serta melestarikan. Menurutnya, Bangsa Indonesia, mempunyai ragam bentuk atau corak batik yang dapat dibanggakan serta menjadi ciri khas daerah. Bahkan, Kutim yang baru berdiri 17 tahun ternyata mempunyai ciri khas batik yang sudah mulai dikenal.
“Kedepan, batik Kutim ditumbuhkembangkan dalam diri warga Kutim sehingga ketika berada di luar daerah bisa mempromosikan. Karenanya Disperindag mempunyai tanggungjawab moril bagaimana perajin batik bisa eksis,” ujarnya.
Dari sudut ekonomi, lanjut Edward, perajin batik bisa memberikan multi player effek kepada daerah. Dimulai dengan membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan rumah tangga hingga peningkatan ekonomi daerah. Disisi lain dalam wawasan kebangsaan, batik mampu menciptakan kebanggaan anak bangsa akan karya bangsanya.
“Kita bisa membuktikan bagaimana ketika batik diklaim bangsa lain, sehingga adanya perang syaraf yang akhirnya berhasil dimenangkan Indonesia yang berdampak pada 1 Oktober dijadikan sebagai Hari Batik Nasional,” beber Edward seraya menyebutkan perhitungan berapa pendapatan perajin batik ketika pada hari Kamis semua instansi pemerintah wajib memakai batik.
Pelatihan yang melibatkan 20 peserta IKM dari beberapa kecamatan, diakuinya digelar bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutim dan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta.
“Kami ingin, pelaku bisa berkembang serta menjadi pioneer dalam pelestarian bantik Kutim yang kini mulai dilirik pasar,” ungkap Edwar Azran. (aj)







