Rintangan mulai dari tidak diakuinya menjadi anggota salah satu parpol hingga keluar dari perusahaan tak menyurutkan langkah Sulhan untuk menjadi politisi. Dibalik itu semua terdapat niat mulia untuk merangkul warga NU dalam setiap programnya.
Adiel Kundhara, BONTANG
Sejak di Jember, Sulhan dibesarkan dalam lingkungan religius. Berbekal itulah hingga sampai saat ini, ia masih aktif dalam berdakwah dan memberikan pendidikan mengenai agama Islam melalui pengajaran mengaji. Ia mengaku semenjak kecil hanya membantu membersihkan tempat ibadah di sekitar lingkungannya.
“Orang tua saya memiliki latar belakang dari parpol berlambangkan Kakbah, tetapi saya kecil tidak aktif dalam pondok pesantren,” terangnya.
Karirnya kian lama berkembang pesat setelah aktif dalam organisasi keagamaan dan politik. Sebelum berada di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia mengaku pernah masuk di salah satu parpol. Namun sayang, rintangan yang dihadapi tak semulus dengan niat sucinya yang ingin berkontribusi bagi kemajuan daerah.
“Tahun 1999 saya pindah ke Bontang, lantas saya bergabung di salah satu parpol. Tercatat ada dua kendala yang saya hadapi saat itu,” tambahnya.
Seperti diketahui pria kelahiran Jember ini mengikuti Pemilihan legislatif dengan bendera parpol lamanya untuk dapil Bontang Utara pada tahun 2009. Akan tetapi suara yang diperoleh selisih 20 kursi dari rekan parpolnya, sehingga ia gagal menjadi anggota DPRD pada masa itu.
Seiring berjalannya waktu, ia harus mendapat perlakuan yang tidak berkenan di hatinya lantaran terjadi perselisihan mengenai status keanggotaan parpolnya. Tidak mendapat pengakuan dari pengurus pusat salah satu parpol tersebut tidak menciutkan niatnya untuk tetap terjun dalam dunia politik.
“Konflik internal itu membuat hati tidak enak, apalagi hingga bertengkar dengan teman sendiri,” sambungnya.
Situasi tersebut terjadi setelah mendapat Surat Keputusan bahwa dirinya tidak diakui dalam posisi sebagai Sekjen. Beberapa kerabat yang merupakan majelis taklimnya memberikan masukan untuk menyeberang ke PPP. Hal tersebut terjadi setelah dua hari tidak ada kesepakatan dengan pengurus parpol lamanya mengenai masa depannya.
“Disebut kutu loncat itu biasa bagi saya, terpenting ialah menghindari perselisihan,” paparnya.
Selanjutnya, pria yang sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan di Pupuk Kaltim ini harus memilih antara karir dengan niat untuk mengabdi buat kemajuan daerah. Aturan perusahaan yang baru mengharuskan ia harus berhenti sebagai karyawan apabila terlibat dalam ranah politik dialaminya.
“Sempat saya tidak mendapatkan gaji selama 4 bulan akibat konsekuensi saya maju dalam pemilihan legislatif beberapa tahun lalu. Namun, saya putuskan untuk tetap mendaftar saja,” ungkapnya.
Sebelum terpilih menjadi anggota legislatif maka keputusan berani ia ambil yakni meninggalkan pekerjaannya. Keputusan tepat mengantarkan dirinya menjadi anggota DPRD periode 2014-2019.
“Pada Pileg tiga tahun yang lalu saya mendapat suara sebesar 1.109 dan menempati peringkat pertama di PPP dapil Bontang Utara,” terang pria yang menjabat anggota Komisi III DPRD saat ini.
Prestasi gemilang tersebut mengantarkannya menjabat posisi Sekjen dalam Musyawarah Cabang PPP yang digelar beberapa hari yang lalu. Pada Muscab tersebut dilakukan dengan sistem tim formatur dari pusat dan wilayah Kaltim. Berdasarkan instruksi Pengurus Pusat PPP, posisi pengurus harus kader yang menjabat sebagai DPRD untuk bersinergi terhadap pemerintahan.
Terpilihnya menjadi Sekjen PPP Cabang Bontang membuat ia memiliki harapan untuk merangkul warga Nahdatul Ulama (NU). Ia mengaku tidak akan membawa ranah politik saat pengajian karena tidak elok, tetapi dirinya akan berkontribusi secara nyata melalui peningkatan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh NU.
“Dana aspirasi saya kemarin saya cantumkan untuk pembangunan gedung SD Bintang senilai Rp 1 miliar,” ungkap bapak dari tiga anak ini.
Keterpanggilan dalam membantu warga NU menjadi dorongan terbesarnya, mengingat ia juga merupakan pengurus NU. Dijelaskannya hingga saat ini terdapat 58 kelompok majelis taklim serta 36 mubalig yang ia pimpin.
“Biar orang lain melihat kontribusi saya tanpa harus diumumkan dalam kegiatan keagamaan,” imbuh Anggota Badan Musyawarah DPRD ini.
Target sebagai Sekjen, ia akan berusaha memenuhi tiga kursi untuk Pileg yang akan datang. Dengan patokan tersebut, ia berharap terdapat perwakilan dari tiap Dapil. Langkah untuk menyukseskan hal tersebut, dalam waktu dekat akan membentuk Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Ranting. (Bersambung)
TENTANG SULHAN
Nama : Sulhan
TTL : Jember, 17 Mei 1966
Alamat : Gang Buncis RT 12 Nomor 50 Gunung Elai
Nama Istri : Lilik Indrawati
Nama Anak :
- Arina Aulia
- Ahmad Baihaki
- Hildatu Amalah
Riwayat Pendidikan:
SDN Jember Tahun 1978
SMPN Jember Tahun 1985
MAN Jember Tahun 1989
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Tahun 1994
Riwayat Pekerjaan:
Guru Ngaji di TQA Al-Ibadah Pupuk Kaltim
Karyawan LAZ Pupuk Kaltim
Anggota DPRD Kota Bontang periode 2014-2019







