Tidak mesti mengantongi duit berjuta-juta untuk bisa berkeliling dunia. Alfiq Sofyan misalnya, dengan bermodalkan semangat dan ransel di punggung, mampu menjelajahi puluhan negara di berbagai belahan dunia.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
SIAPA yang tidak mau bepergian keliling dunia. Semuanya pasti menjawab iya, termasuk Alfiq Sofyan. Namun dana yang kurang mencukupi serta waktu yang tersita untuk bekerja kerap menjadi alasan keinginan itu menemui jalan buntu. Itu pula yang dipikirkan Alfiq yang berprofesi sebagai pekerja hotel.
Hingga kemudian saat Alfiq berada di Berau sekira 2003, dia bertemu dengan seorang perempuan asal Belanda. Anne Van De Wijk, demikian nama perempuan yang membuka pikiran Alfiq tentang bepergian itu. Rupanya Anne adalah seorang backpacker, sebutan bagi pelancong yang bepergian hanya membawa ransel di punggung.
“Saya melihat Anne bisa bepergian ke berbagai negara dengan bekal yang begitu terbatas. Dengan uang senilai Rp 40 juta, Anne bisa berkeliling Eropa dan juga Asia,” kisah Alfiq kepada Metro Samarinda.
Penasaran, dia pun mencari tahu lebih dengan bertanya kepada Anne. Dari perempuan Belanda itu Alfiq belajar banyak tentang backpacker. Bukan sekadar tahu, Alfiq bahkan memulai perjalanannya dengan ikut bersama Anne berkelling Indonesia. Bekalnya waktu itu uang sebanyak Rp 300 ribu.
Selama enam bulan dia menjelajah berbagai kota di Indonesia. Sembari menimba ilmu secara langsung dari Anne. Dari perjalanannya tersebut, Alfiq mengetahui apa-apa saja yang perlu dia persiapkan sebagai seorang backpacker. Termasuk mengetahui apa saja yang mesti ada di ranselnya.
“Kami keliling Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, hingga Lombok. Saat itu saya sedang istirahat dari pekerjaan,” kenangnya.
Dari Anne, dia belajar bahwa tidak harus memiliki banyak uang untuk bisa berkeliling dunia. Asalkan punya kemauan yang tinggi, dengan dana yang terbatas pun hal itu bisa dilakukan. Dari situlah Alfiq memutuskan untuk menjalani kehidupan sebagai backpacker. “Uang memang perlu, tapi bukan segalanya. Kan percuma kalau punya uang banyak tapi sedang sakit,” sebut Alfiq.
Dengan kemauan yang kuat itulah Alfiq memulai perjalanan pertamanya ke luar negeri di 2004. Singapura dan Malaysia menjadi destinasi pertama yang dikunjunginya. Sebagai kunjungan pertama, Alfiq mengaku sempat mengalami kesulitan. Saat kembali ke Samarinda, dia merenungi perjalanan pertamanya tersebut.
“Saya merenung, memikirkan hikmah apa yang saya dapat. Apa yang saya dapatkan dari perjalanan itu. Karena waktu saya habis, uang saya juga habis,” cerita Alfiq.
Perjalanan pertama tersebut lantas menjadi pelajaran berharga bagi Alfiq. Dia melakukan evaluasi agar pada perjalanan berikutnya bisa menjadi lebih baik. Namun butuh waktu baginya untuk bisa kembali menggendong ransel. Tepatnya di 2011, Alfiq kembali menatap horizon dan memutuskan mengulang perjalanannya ke mancanegara.
“Selama 14 hari saya berkeliling Asia. Mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos, Bhutan, hingga mencapai India. Semuanya saya tempuh dengan perjalanan darat,” terangnya. Dari perjalanan itulah untuk kali pertama Alfiq mengerti tentang pengurusan visa on arrival di negara-negara yang dikunjunginya.
Hanya berkeliling Asia saja belum cukup bagi Alfiq. Dua tahun kemudian di 2013, dia mulai terbang ke Benua Biru, Eropa. Dengan berbekal visa Schengen, Alfiq berkeliling Eropa mulai dari Belanda, Belgia, Swedia, Swiss, Finlandia, Hungaria, hingga Lithuania. Di 2015 dan 2016 silam, dia kembali berkeliling Eropa, ke negara-negara yang tidak difasilitasi visa Schengen.
“Visa Schengen itu bisa digunakan pada negara-negara yang masuk kawasan Schengen. Untuk wilayah di luar kawasan itu seperti Jerman, menggunakan visa yang berbeda,” jelas pria kelahiran Samarinda, 43 tahun lalu ini.
Selain Asia dan Eropa, Amerika juga tidak luput dari jejak kaki Alfiq. Tepatnya di 2015, dia mendatangi Amerika Serikat dan Brazil. Alfiq mengaku tertantang untuk bepergian ke berbagai negara sebagai seorang backpacker.
Berbagai kisah dan suka duka mengiringi langkah Alfiq dalam berkeliling dunia. Kendala bahasa salah satunya. Dia mengaku tidak memiliki latar belakang bahasa Inggris secara formal. Malahan, kemampuan bahasa Inggrisnya didapat dari belajar secara autodidak, utamanya saat bepergian sebagai backpacker.
“Pertama-tama saya belum bisa berbahasa Inggris. Dari situ jadi motivasi saya untuk belajar sendiri, untuk mendukung perjalanan saya,” sebutnya.
Faktanya, tidak semua orang di negara yang dikunjungi Alfiq mengerti bahasa Inggris. Dia pun sempat mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Mau tak mau, Alfiq mesti menggunakan bahasa tubuh agar bisa tetap berkomunikasi. Salah satunya ketika berada di Laos dan Thailand.
“Tapi di situlah seninya. Meski pemahaman bahasa terbatas, bagaimana agar komunikasi bisa tetap berlangsung. Misalnya saat bertransaksi jual beli, cukup dengan menggunakan kalkulator untuk bertanya harga,” beber ayah dua anak ini.
Meski menyebut uang bukan prasyarat utama menjadi backpacker, tetap saja perlu biaya dalam setiap perjalanan. Bedanya, seorang backpacker punya perhitungan yang jeli dalam mengatur anggaran. Bagaimana menekan pengeluaran semaksimal mungkin sehingga bujet yang ada cukup untuk kebutuhan selama bepergian.
Diakui Alfiq, biaya untuk bekal perjalanannya tersebut tidaklah sedikit. Tapi kemauan yang tinggi untuk melanglang buana membuatnya gigih mengupayakan dana yang dibutuhkan bisa tersedia. Alfiq pun menjalankan berbagai jenis bisnis khususnya jual beli. “Usaha apa saja saya lakoni, yang penting halal dan tidak menipu,” ungkap Alfiq.
Hebatnya dari perjalanan sebagai backpacker, dia kerap mendapat peluang usaha. Teman-teman yang Alfiq temui di sepanjang perjalanannya keliling dunia menjadi relasi bisnis. Dia pun beberapa kali mengirimkan barang-barang dari Indonesia kepada relasi-relasinya di luar negeri yang melakukan pemesanan.
“Ada relasi di Brunei yang memesan seragam. Lalu relasi dari Belanda yang memesan sarung. Ada juga yang memesan kopi luwak. Pendapatan dari bisnis itu menambah dana untuk backpacker,” tuturnya.
Tapi ada kalanya Alfiq mesti berkorban cukup besar demi hobinya berkeliling dunia tersebut. Yaitu ketika berlangsung pertemuan para backpacker dunia 2013 di Nepal. Besar harapan Alfiq untuk bisa datang ke acara tersebut. Namun kondisi keuangannya kala itu tidak mencukupi untuk melakukan perjalanan ke Nepal.
“Akhirnya setelah berbicara dengan istri, saya menjual mobil Avanza saya. Sebagian hasil penjualannya saya gunakan untuk berangkat ke Nepal,” kata Alfiq.
Bagi sulung dari tujuh bersaudara ini, uang memang bukan segalanya. Baginya, tidak masalah mengeluarkan uang untuk keperluan backpacker. Karena dari situ dia bisa menambah wawasan dan pengalaman yang tidak bisa dinilai dengan uang. Beruntung kegemarannya ini mendapat dukungan dari istri dan anaknya.
“Yang penting keuangan keluarga tidak terganggu. Biasanya sih anak yang protes kalau saya pergi, tapi mereka mengerti,” papar suami dari Rachmawaty ini.
Kata Alfiq, dengan bujet yang terbatas, menjadi penting bagi seorang backpacker untuk membuat jadwal kegiatannya selama berada di suatu negara. Dia pun mesti pintar-pintar mencari penginapan dan makanan yang murah. Bahkan demi menghemat biaya, Alfiq bisa tidur di mana saja. Pengalaman sebagai pekerja hotel rupanya banyak membantu saat Alfiq berada di luar negeri.
“Contohnya, saya bisa meminta izin istirahat sejenak di kafe hotel. Dari pengalaman saya, tidak mungkin pegawai hotel di sana tidak mengizinkan. Kesempatan itulah yang saya gunakan sebaik-baiknya untuk istirahat. Malahan biasanya saya ditawari untuk sarapan saat hendak keluar,” ujar Alfiq.
Sebagai backpacker, Alfiq paham benar bahwa dia mesti mengurus segala keperluannya seorang diri. Berada di negara orang pun mesti pandai-pandai menjaga diri. Alfiq sendiri pernah ditusuk seorang perampok. Beruntung dia berhasil selamat dan menjadikannya sebuah pelajaran.
Pun begitu, Alfiq juga mesti hati-hati dalam memilih makanan. Apalagi sebagai seorang muslim, dia hanya boleh makan makanan halal. Makanya dia sempat kesulitan menemukan makanan halal ketika tengah berada di negeri dengan populasi mayoritas non muslim. “Backpacker pasti cari makanan yang murah. Yang pasti sambal dan kecap selalu dibawa,” tegasnya.
Ditanya negara yang paling meninggalkan kesan, Alfiq menyebut dua nama. Untuk kawasan Asia, Laos yang paling meninggalkan kesan. Alasannya, segalanya di sana serba alami. Sehingga dia merasa seperti kembali ke era 1960-an. Sementara untuk Kawasan Eropa, Hungaria yang paling dia favoritkan.
“Hungaria penuh dengan nuansa klasik. Mulai dari bangunan-bangunannya, cuaca dan pemandangannya terlihat indah,” ucap Alfiq yang April kemarin baru tiba dari perjalanannya ke Tiongkok.
Lantas, adakah negara yang belum dikunjungi namun sangat ingin didatangi? “Latvia. Pengin banget ke sana. Kata teman lebih bagus dari Hungaria,” pungkasnya. (***)
TENTANG ALFIQ
Nama: Alfiq Sofyan
TTL: Samarinda, 15 Mei 1974
Ortu: H Syahnin (ayah), Hj Fatima (ibu)
Istri: Rachmawaty
Anak:
- M Luthfi
- Rafilla A Putri
Pendidikan:
- SD Muhammadiyah 2 Samarinda
- MTsN Samarinda
- MAN Samarinda
- STP Bali
Alamat: Jalan M Said Gang 6 Nomor 2 RT 26 Samarinda







